Konten dari Pengguna

Tak Sekadar Kisah Buddha, Relief Borobudur Ternyata Simpan Jejak Flora Jawa Kuno

Patmiati

Patmiati

Komunikasi Publik BRIN

ยทwaktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Patmiati tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Candi Borobudur. Foto:  Artherng/Getty Images
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Candi Borobudur. Foto: Artherng/Getty Images

Candi Borobudur selama ini dikenal sebagai salah satu mahakarya budaya terbesar di Indonesia. Namun di balik relief-relief batu yang menghiasi dinding candi, ternyata tersimpan jejak keanekaragaman hayati Jawa kuno.

Sebuah penelitian menemukan sedikitnya 63 spesies tumbuhan dipahat pada relief Lalitavistara candi Borobudur, mulai dari pohon bodhi, mangga, hingga teratai.

Penelitian tersebut dilakukan oleh tim peneliti dari BRIN, lalu dipublikasikan dalam jurnal Biodiversitas pada 2020.

Yang menarik, jumlah tumbuhan yang ditemukan pada relief justru lebih banyak dibandingkan tanaman yang disebut dalam naskah asli Lalitavistara Sutra. Temuan ini menunjukkan bahwa para pemahat Borobudur kemungkinan tidak hanya mengikuti teks agama, tetapi juga memasukkan tumbuhan yang mereka kenal dalam kehidupan sehari-hari.

Relief yang Menyimpan Detail Alam

Dalam penelitian tersebut, para peneliti mendokumentasikan seluruh panel relief Lalitavistara dan mengidentifikasi bentuk tumbuhan berdasarkan morfologi seperti daun, batang, bunga, hingga buah.

Hasilnya, ditemukan berbagai tumbuhan tropis yang masih akrab hingga sekarang. Mulai dari pohon bodhi, teratai, kelapa, mangga, nangka, hingga cendana.

Beberapa pahatan bahkan masih memperlihatkan bentuk tumbuhan dengan cukup detail meski telah berusia ratusan tahun. Relief-relief itu tidak hanya berfungsi sebagai hiasan, tetapi juga menggambarkan suasana hutan, taman kerajaan, hingga lingkungan permukiman pada masa Jawa kuno.

Bukti Kedekatan Masyarakat Jawa Kuno dengan Alam

Penelitian tersebut juga menilai masyarakat Jawa kuno memiliki perhatian besar terhadap keberagaman tumbuhan.

Hal itu terlihat dari banyaknya variasi tanaman yang dipahat di relief. Para pemahat dinilai memahami bentuk khas berbagai spesies tumbuhan dan mampu menggambarkannya secara konsisten pada batu relief.

Menurut peneliti, keberagaman tumbuhan tampaknya dipandang sebagai bagian penting dari lingkungan ideal pada masa itu. Semakin kaya jenis tanaman yang digambarkan, semakin alami dan harmonis suasana yang ingin ditampilkan.

Perpaduan Flora India dan Nusantara

Menariknya lagi, relief Lalitavistara memperlihatkan adanya perpaduan budaya antara India dan Nusantara.

Beberapa tanaman yang dipahat diketahui berasal dari India, seperti pohon bodhi dan ashoka. Sementara itu, terdapat pula tumbuhan khas Nusantara seperti jambu air dan pinang.

Para peneliti menduga hal ini menjadi bukti adanya pertukaran tanaman dan budaya melalui jalur perdagangan maupun penyebaran agama pada masa lampau.

Borobudur Bukan Hanya Warisan Budaya

Temuan ini menunjukkan bahwa Borobudur bukan sekadar situs religi dan karya seni arsitektur. Relief-reliefnya juga menjadi semacam arsip visual tentang hubungan manusia dan alam pada masa Jawa kuno.

Di balik batu-batu yang dipahat ratusan tahun lalu, tersimpan gambaran tentang bagaimana masyarakat saat itu mengenal, menghargai, dan hidup berdampingan dengan lingkungan di sekitarnya.