Konten dari Pengguna

Wayang Orang Sriwedari: Budaya Berkomunikasi Melampaui Bahasa

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Agnes Monica Marpaung tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pertunjukan Wayang Orang Sriwedari di Surakarta, Senin (13/7/2026), saat mementaskan lakon Bumiloka–Mustakaweni Lair. Sumber: Dokumentasi Pribadi
zoom-in-whitePerbesar
Pertunjukan Wayang Orang Sriwedari di Surakarta, Senin (13/7/2026), saat mementaskan lakon Bumiloka–Mustakaweni Lair. Sumber: Dokumentasi Pribadi

Ada satu kekhawatiran kecil yang mengganjal ketika saya memutuskan menonton Wayang Orang Sriwedari di Solo: apakah saya akan mengerti?

Malam itu, pada Juli 2026, lakon “Bumiloka–Mustakaweni Lair” dipentaskan di Gedung Wayang Orang Sriwedari. Selama kurang lebih dua jam, panggung didominasi oleh dialog berbahasa Jawa—bahasa yang tidak sepenuhnya saya kuasai untuk menangkap setiap detail maknanya.

Dua jam jelas bukan waktu yang singkat, apalagi untuk menyelami dunia cerita, tokoh, dan bahasa yang tidak familier. Namun, kekhawatiran itu ternyata perlahan luruh.

Saya memang tidak memahami setiap kalimat yang diucapkan para pemain. Saya mungkin juga melewatkan sejumlah detail plot cerita. Tetapi anehnya, saya tetap tahu kapan situasi sedang menegang, kapan konflik mulai memanas, kapan seorang tokoh merasa kesal, dan—yang paling mudah dikenali—kapan saya harus tertawa.

Bahkan, saya sama sekali tidak merasa mengantuk. Bagi saya, pengalaman di Sriwedari malam itu terasa magis, layaknya menonton film di bioskop.

Saya duduk takzim, memperhatikan panggung, mengikuti arus konflik, menantikan adegan demi adegan, dan sesekali tertawa lepas bersama penonton lain. Bedanya, tidak ada subtitle di bagian bawah panggung.

Bahasa Bukan Satu-satunya Pintu

Dalam komunikasi, bahasa memang menjadi alat utama untuk menyampaikan pesan. Kita berbicara agar orang lain memahami isi kepala kita; kita menulis agar sebuah gagasan dapat diterima. Namun, komunikasi tidak pernah bekerja semata-mata melalui rangkaian kata. Malam itu, saya melihat kebenaran tersebut dengan sangat jelas di atas panggung Sriwedari.

Ketika saya luput menangkap arti satu atau dua dialog, ekspresi wajah pemain segera memberi petunjuk. Gerakan tubuh mereka menjelaskan dinamika relasi antartokoh. Nada bicara menyiratkan amarah, kelucuan, atau ketegangan. Alunan musik membangun atmosfer. Tata rias dan kostum mempertegas karakter. Bahkan, jarak antarpemain dan cara mereka menguasai ruang panggung ikut merajut makna.

Pesan membanjiri indera penonton dari berbagai arah sekaligus. Dalam kajian komunikasi, fenomena ini dikenal sebagai komunikasi multimodal: makna tidak hanya dibentuk oleh bahasa verbal, tetapi melalui orkestrasi suara, visual, gestur, ruang, hingga ekspresi. Barangkali karena itulah saya tetap bisa larut dalam pertunjukan meski tidak menguasai seluruh dialognya.

Wayang Orang Sriwedari tidak memaksa penontonnya fasih berbahasa Jawa sebelum mengizinkan mereka masuk ke dalam cerita. Tubuh para pemain, irama gamelan, tata panggung, konflik, dan humor bersatu menjadi "bahasa universal" yang menjembatani pertunjukan dengan penonton. Di sinilah saya menyadari bahwa kebudayaan memiliki jauh lebih banyak instrumen untuk berkomunikasi daripada yang sering kita sangka.

Humor yang Menembus Batas Bahasa

Satu hal yang paling membekas dari malam itu adalah elemen komedinya. Di tengah cerita yang serius, suasana bisa mendadak cair. Ada satu babak yang bahkan terasa seperti menyaksikan stand-up comedy dalam balutan wayang orang. Lelucon, improvisasi, permainan ekspresi, hingga interaksi langsung dengan penonton membuat batas antara panggung dan kursi penonton seolah lenyap.

Menariknya, malam itu bukan hanya penonton lokal yang hadir. Di beberapa deret kursi, tampak rombongan mahasiswa dari National University of Singapore (NUS) yang sedang berkunjung ke Solo untuk studi budaya. Kehadiran mereka rupanya tidak luput dari perhatian para pemain.

Dalam adegan Goro-Goro, para Punakawan rupanya menyadari keberadaan rombongan mahasiswa asing di antara penonton. Mereka kemudian mulai mengajak para mahasiswa itu berbincang dari atas panggung. Bahasa Inggris yang digunakan pun bukan bahasa Inggris yang rumit—lebih berupa percakapan sederhana yang bercampur dengan bahasa Indonesia. Pertanyaan seperti, “You from ndi?” —percampuran bahasa Inggris dan Jawa dilemparkan dengan gaya khas para Punakawan diselingi ekspresi dan improvisasi yang justru membuat suasana semakin lucu.

Yang menyenangkan, mahasiswa-mahasiswa itu tetap mengerti. Mereka menjawab pertanyaan para pemain, ikut menimpali, dan tertawa bersama penonton lainnya. Dari percakapan itulah saya bahkan mengetahui bahwa mereka merupakan mahasiswa National University of Singapore (NUS) yang datang ke Solo untuk mempelajari kebudayaan.

Momen itu sederhana, tetapi bagi saya cukup membekas. Tidak ada tata bahasa Inggris yang sempurna, tidak ada penerjemah, bahkan percakapannya berlangsung campur-campur. Namun, komunikasi tetap terjadi. Para pemain memahami bahwa ada penonton yang tidak berbicara dalam bahasa yang sama, lalu mencari cara agar mereka tetap bisa diajak masuk ke dalam pertunjukan.

Saya tertawa. Penonton lain tertawa. Mereka pun tertawa. Untuk beberapa saat, perbedaan bahasa tidak lagi terasa sebagai tembok. Justru dari bahasa yang seadanya, gestur, ekspresi, dan humor itulah tercipta pemahaman bersama. Para pemain tidak menuntut penonton asing memahami seluruh kode budaya yang ada di atas panggung. Sebaliknya, mereka mendatangi penontonnya melalui bahasa yang lebih familier, tanpa membuat pertunjukan kehilangan karakter Jawanya.

Bagi saya, momen tersebut memperlihatkan sesuatu yang menarik tentang komunikasi budaya. Pesan tidak selalu berhasil karena pengirim dan penerima menggunakan bahasa yang sama sejak awal. Kadang, komunikasi berhasil karena ada kesediaan untuk mencari titik temu—melalui beberapa kata dalam bahasa Inggris, bahasa Indonesia, gestur, intonasi, ekspresi, hingga humor yang dapat dibaca bersama-sama.

Dalam tradisi pewayangan, Punakawan memang dikenal menghadirkan humor sekaligus mendekatkan cerita dengan kehidupan penonton. Namun, menyaksikannya secara langsung malam itu membuat fungsi tersebut terasa jauh lebih hidup. Di panggung Sriwedari, mereka bukan hanya menjadi sumber kelucuan, tetapi juga semacam jembatan komunikasi antara dunia pewayangan dengan orang-orang yang datang dari luar bahasa dan budaya Jawa.

Adegan Goro-Goro dalam pertunjukan Wayang Orang Sriwedari yang menghadirkan humor dan interaksi dengan penonton. Sumber: Dokumentasi Pribadi

Humor di panggung Sriwedari bukan sekadar selingan pengusir bosan; ia adalah pintu masuk yang ramah bagi mereka yang tak punya bekal pengetahuan mendalam soal wayang. Penonton tidak dituntut menghafal silsilah tokoh kerajaan untuk bisa menikmati sebuah lelucon. Kita hanya perlu disajikan sesuatu yang terasa dekat dan manusiawi.

Tetap Jawa, Tetap Bisa Dinikmati

Pengalaman ini membawa saya pada sebuah perenungan tentang stigma yang kerap melekat pada budaya tradisional: bahwa semakin lokal suatu budaya, semakin sulit ia dipahami oleh orang luar.

Bahasanya berbeda. Simbolnya sarat makna masa lalu. Ceritanya berakar dari ratusan tahun silam. Ada tumpukan konteks budaya yang tidak otomatis dimiliki oleh penonton modern. Karena itu, saat membicarakan pelestarian, kita sering kali tergoda menyodorkan solusi instan: tradisi harus dimodernisasi agar relevan dengan selera zaman.

Kini, saya meragukan pandangan tersebut. Wayang Orang Sriwedari malam itu tidak perlu menanggalkan ke-Jawa-annya agar saya bisa menikmatinya. Bahasa Jawa kromo tetap dipertahankan. Gamelan tetap bertalu. Kostum dan tata rias tetap memegang pakem visual pewayangan. Ceritanya pun tidak perlu dirombak menjadi kisah urban ibu kota atau dikemas menyerupai serial pop agar dianggap menarik.

Yang dilakukan pertunjukan itu adalah sesuatu yang jauh lebih esensial: menyediakan pintu masuk bagi penontonnya. Pintu itu bisa berwujud humor, ekspresi wajah yang teatrikal, emosi yang mudah dikenali, atau ritme adegan yang membuat penonton bisa menyelami suasana sebelum mencerna kata-katanya.

Budaya tidak selalu harus disederhanakan hingga kehilangan jati dirinya agar bisa dimengerti. Kadang-kadang, ia hanya perlu menemukan cara yang tepat untuk berkomunikasi.

Budaya Tak Cukup Hanya Dipentaskan

Sebagai pengajar yang kerap membedah komunikasi etnik Nusantara, malam di Sriwedari memantik kembali pemikiran saya mengenai makna sejati dari pelestarian budaya.

Selama ini, narasi pelestarian kerap terjebak pada bahasa administratif: jumlah pementasan, regenerasi seniman, pemugaran gedung, angka kunjungan wisata, atau digitalisasi arsip. Semuanya tentu krusial. Tetapi ada satu pertanyaan fundamental yang sering terlupa: apakah kebudayaan tersebut masih mampu berbicara kepada mereka yang berada di luar komunitas asalnya?

Sebuah pertunjukan bisa saja terus dipentaskan selama puluhan tahun. Namun, jika penonton baru merasa tak punya celah untuk masuk ke dalamnya, jarak antara tradisi dan masyarakat perlahan akan berubah menjadi jurang pemisah.

Sebaliknya, pelestarian menjadi hidup dan bernapas ketika generasi baru—dan orang-orang dari latar budaya berbeda—bisa datang, duduk, menonton, lalu menemukan sesuatu yang menggetarkan perasaan mereka. Mereka tidak harus pulang dengan predikat ahli pewayangan. Saya pun tidak.

Saya melangkah keluar dari Gedung Wayang Orang Sriwedari malam itu tetap sebagai seseorang awam yang belum menguasai dunia pewayangan Jawa, dan tidak memahami sepenuhnya dialog berdurasi dua jam tersebut.

Tetapi saya pulang membawa kepenuhan rasa. Saya tertawa, saya merasa penasaran, dan saya ingin menceritakan pengalaman ini kepada orang lain.

Dan barangkali, justru di titik itulah komunikasi budaya bekerja pada tingkat tertingginya. Ia tidak selalu menuntut kita untuk memahami segalanya sejak awal. Kadang, ia cukup membuat seseorang merasa disambut hangat, menikmati momennya, lalu perlahan menumbuhkan rasa ingin kenal lebih jauh.

Wayang Orang Sriwedari membuktikan bahwa budaya tidak perlu melucuti bahasa, simbol, dan identitas lokalnya demi merangkul audiens yang lebih luas. Sebuah kebudayaan berhak untuk tetap sangat Jawa, sangat lokal, dan sangat khas—selama ia masih mau dan mampu berkomunikasi.

Itulah sebabnya, malam di Sriwedari menjadi salah satu ingatan terbaik saya tentang Solo. Jika kelak ada yang bertanya apa hal pertama yang harus dilakukan saat mengunjungi kota ini, menonton wayang orang pasti akan berada di daftar teratas saya.

Bukan karena semua orang diwajibkan memahami pewayangan. Tetapi karena setidaknya sekali seumur hidup, kita perlu merasakan langsung bagaimana budaya yang terasa asing, justru merangkul kita untuk tertawa bersamanya.