Konten dari Pengguna

Ketika Saladin Berada di Ujung Tanduk

Bagas Sultan Maulana

Bagas Sultan Maulana

Mahasiswa sejarah biasa yang pengen nulis sejago J.K. Rowling

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Bagas Sultan Maulana tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Setelah menyingkirkan Daulah Fatimiyah di Mesir, Salahuddin Yusuf Bin Ayyub atau yang dikenal dengan nama Saladin mendirikan Daulah Ayyubiyah pada tahun 1171 M. Penaklukan Mesir oleh Saladin tentu bukan hanya alasan Perang Salib semata, yang memang menjadi ancaman pada masa tersebut. Lebih dari itu, “Beliau (Saladin) menghapuskan saki-baki terakhir kekuasaan Fatimiyyah di Mesir dan menggantikan Syiah Isma'ili yang telah berkuasa di sana selama dua abad dengan kebijakan keagamaan dan pendidikan Sunni yang ortodoks...”, tulis Clifford Edmund Bosworth dalam New Islamic Dynasties A Chronological and Genealogical Manual.

Selepas peralihan kekuasaan, Saladin menerima ancaman pembunuhan sebanyak dua kali dalam kurun waktu 1174 sampai 1176. Ancaman tersebut disinyalir berasal dari sebuah ordo atau sekte bernama Hassasin yang menjadi dalang utamanya. Didirikan oleh Hassan-i Sabah, Hassasin yang menganut Ismaliyah Nizari (cabang dari Ismailiyah) merasa jika penghapusan Syiah dan Daulah Fatamiyyah merupakan bencana besar bagi pengikut Syiah. Bernard Lewis dalam artikel di jurnal Bulletin of the School of Oriental and African Studies, Vol.15, No. 2, yang terbit tahun 1953, ”Saladin and the Assassins”, menyatakan bahwa, "...situasi penghapusan Kekhalifahan Fatimiyyah oleh Saladin pasti telah mencapnya sebagai musuh seluruh kaum Isma’ili, bahkan seluruh gerakan Syiah."

Penggambaran Hassan-i Sabah beserta pengikutnya dan bidadari. Foto: Wikimedia Commons/Public Domain
zoom-in-whitePerbesar
Penggambaran Hassan-i Sabah beserta pengikutnya dan bidadari. Foto: Wikimedia Commons/Public Domain

Selain karena faktor agama, faktor politik juga memainkan peran dalam rencana pembunuhan ini. Banyak dari loyalis Fatimiyyah yang masih hidup kemudian melebur ke dalam pemerintahan Daulah Ayyubiyah dan mereka masih memegang nilai Syiah. Berdasarkan The Medieval Mediterranean: Peoples, Economies and Cultures, 400–1453, Vol. 21 “Saladin in Egypt” karya Yaacov Lev menyatakan “Menurut Qadi al-Fadil, mantan pejabat istana Fatimiyah (ahl al-qasr) dan personel militer (jund Misr) telah berkorespondensi dengan Tentara Salib, dan bahkan mendekati para Assassin”. Maka tidak heran rasanya ketika mereka kemudian menggunakan jasa dari kelompok Hassasin, mengingat keduanya memiliki akar paham yang sama walaupun hanya berbeda cabang saja.

Sebenarnya kedua rencana pembunuhan tersebut berakhir gagal, baik yang berada di antara tahun 1174 sampai 1175 di Aleppo maupun pada 22 Mei 1176 di ‘Azaz. Kegagalan tersebut bisa dibilang berasal dari faktor kurangnya pengalaman anggota Hassasin yang diterjunkan serta keberuntungan dari Saladin itu sendiri. Hal tersebut diungkapkan oleh Bernard Lewis dalam artikel di jurnal yang sama menyatakan, “Upaya tersebut dilakukan selama pengepungan Aleppo oleh Saladin. Para Assassin berhasil menyusup ke dalam kamp, tetapi dikenali oleh Nāsih ad-Din Khumartakin, amir Abū Qubais, yang sebelumnya pernah berurusan dengan mereka. Khumartakin menantang mereka, dan dibunuh oleh mereka. Dalam kekacauan yang terjadi kemudian, banyak tentara tewas, tetapi Saladin tidak mengalami luka sedikit pun”. Bernard Lewis juga menambahkan, “Selama pengepungan 'Azāz oleh Saladin, para Assassin, yang menyamar sebagai tentara, menyusup ke perkemahannya dan bergabung dengan pasukannya. Pada tanggal yang disebutkan, mereka menyerangnya, tetapi berkat baju zirah yang dikenakannya, ia hanya mengalami luka ringan. Setelah pertempuran sengit, para Assassin terbunuh, dan setelah itu Saladin mengambil tindakan pencegahan yang cermat untuk melindungi nyawanya”.

Salah satu aksi dari Hassassin (sebelah kiri bersorban putih) yang sedang menikam Nizari al Mulk. Foto: Wikimedia Commons/Public Domain

Setelah kedua percobaan pembunuhan tersebut, Saladin yang merasa nyawanya sudah di depan mata memutuskan untuk mengepung Benteng Masyaf, tempat bersemayamnya sekte Hassasin. Walaupun tidak membuahkan hasil yang menguntungkan bagi Saladin, setidaknya komplotan loyalis Fatimiyyah di Mesir mendapatkan ganjarannya. “Pada 2 Ramadan 569/5 April 1174, Saladin menghukum mati sekelompok orang yang dituduh berkomplot melawannya,” imbuh Yaacov Lev dalam karya yang sama. Pada tahun-tahun setelahnya, Hassasin tidak lagi mencoba untuk mengusik keamanan Saladin dan bahkan Saladin sendiri meninggal dikarenakan demam yang menjangkiti beliau.