Militer Wanita di Tanah Jawa

Mahasiswa sejarah biasa yang pengen nulis sejago J.K. Rowling
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Bagas Sultan Maulana tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Emansipasi wanita di Indonesia terkenal dipelopori oleh Raden Adjeng Kartini dengan aksi surat menyuratnya yang terkenal. Pada masa tersebut (awal abad ke-20) peran wanita dikenal hanya mampu mengerjakan urusan rumah tangga tanpa mendapat akses pendidikan bahkan militerpun sekalipun. Tetapi dalam kasus wanita Keraton Jawa, beberapa dari mereka mendapatkan akses militer dan peran dalam pertempuran. Satuan ini disebut Prajurit Estri atau Prajurit Langenkusumo yang mengabdikan diri mereka terhadap Keraton di Jawa Selatan (Kasunanan Surakarta Hadiningrat dan Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat).
Korps Prajurit Estri dibentuk oleh Raden Mas Said (Mangkunegaran I) pada tahun 1742. Menurut Mahardi dkk; dalam artikel di jurnal PAKARTI: Jurnal Penelitian dan Pengembangan Sosial Budaya, Vol.1, No.2 yang terbit tahun 2025, “Perempuan dalam Arus Sejarah: Studi Tentang Peran Prajurit Estri Pada Masa Mangkunegara I”, menuliskan bahwa “Pasukan ini awalnya bernama prajurit Ladrangmangungkung. Akan tetapi, setelah Kadipaten Mangkunegaran berdiri, sebutan Prajurit Estri lebih sering digunakan.” Tentu sebagai seorang prajurit, para wanita tersebut juga di tuntut untuk ahli dalam berkuda dan menggunakan senjata. Kepiawaian satuan wanita Mangkunegaran sempat menarik perhatian dari pejabat senior VOC, Jan Greeve ketika berkunjung ke Surakarta. Berdasarkan Kumar dalam Carey dkk; di buku berjudul Perempuan-Perempan Perkasa di Jawa Abad 18-19 menyatakan ketika Jan Greeve tiba di Surakarta pada 31 Juli 1788, dia di sambut dengan prajurit wanita yang menembakkan karben kavaleri sebanyak tiga kali secara serentak dengan sangat tepat diikuti dengan tembakan artileri ringan. Pernyataan tersbut membuktikan bahwa wanita mampu untuk mengoperasikan alat-alat kemiliteran lebih baik dibandingkan pria.

Di wilayah lebih selatan, Keraton Yogyakarta Hadiningrat juga memiliki satuan militer wanitanya sendiri yang di bentuk oleh Sultan Hamengkubuwono I. Dlansir dari artikel di jurnal Bihari: Pendidikan Sejarah dan Ilmu Sejarah, Vol. 3, No. 1 terbitan tahun 2020, “PERANAN PRAJURIT PEREMPUAN (KORPS PRAJURIT ESTRI) TERHADAP PERKEMBANGAN EKONOMI DAN MILITER DI YOGYAKARTA 1750-1810” karya Yuliarni dkk; menyatakan, “Prajurit perempuan dibentuk pada saat Sultan Hamengkubuwana II masih menjadi putra mahkota. Awalnya prajurit perempuan bertugas sebagai prajurit pengawal putra mahkota, namun ketika Sultan Hamengkubuwana II naik takhta, maka prajurit perempuan tidak hanya menjadi pengawal putra mahkota, melainkan sebagai penjaga keamanan keraton dan keselamatan sultan beserta keluarganya. Hal ini dikarenakan ketidakpercayaan sultan terhadap laki-laki, menurutnya laki-laki mempunyai sifat pemberontak dibandingkan kaum perempuan yang mempunyai sifat penurut.” Secara keahlian, prajurit estri yang berada di Keraton Yogyakarta dengan yang berada di Kasunan Surakarta tidak lah berbeda jauh. Sama-sama mengusai senjata tajam, senjata api, artileri, berkuda, dan lain sebagainya. Ketangguhan prajurit estri Yogyakarta juga tidak bisa dianggap remeh dan dapat dibilang sangat berbahaya, seperti dalam peristiwa Geger Sepoy 19-20 Juni 1812. “Satu-satunya perwira yang tewas dalam peristiwa itu adalah seorang letnan Skotlandia dari pasukan resimen infanteri Inggris, Lettu Hector Maclean”, ungkap Peter Carey dkk; dalam buku yang sama.
Pada masa kini, satuan prajurit wanita baik dari Kasunanan Surakarta maupun Keraton Yogyakarta tidak banyak berperan aktif dalam kemiliteran. Mereka lebih banyak difungsikan sebagai pengiring arak-arakan Raja maupun dalam acara kebesaran seperti kirab budaya. Selain itu, kehebatan prajurit estri juga di gambarkan dalam tari Retno Tinanding yang berasal dari Surakarta.
