Konten dari Pengguna

Perusahaan Bus Pertama di Salatiga

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Bagas Sultan Maulana tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Salatiga merupakan kota kecil yang berada di Jawa Tengah, berada di Selatan kota Semarang dan utara kota Surakarta. Dalam sejarahnya, wilayah Salatiga telah terbentuk lama sejak tahun 750 Masehi dan baru menyandang gelar kota di tahun 1917. Penetapan kota praja atau gemeente sendiri tertulis dalam Staatsblad van Nederlandsch-Indië (Lembaran Resmi Hindia Belanda) tahun 1917 nomor 266. Dengan penetapan wilayah Salatiga sebagai gemeente, wajib hukumnya bagi pemerintah untuk menyediakan fasilitas yang memadai dan menunjang. Selain karena statusnya sebagai gemeente, penyediaan fasilitas mumpuni juga tidak lepas dari jumlah penduduk yang mendiami kota Salatiga. Menurut Fandy Aprianto Rohman dalam artikel di jurnal Walasuji : Jurnal Sejarah Dan Budaya, Vol. 11, No. 1, yang terbit tahun 2020, ”Administrasi Pemerintahan Gemeente di Salatiga Tahun 1917-1942”, menyatakan bahwa “jumlah penduduk Salatiga pada tahun 1920 telah mengalami peningkatan sebesar 18.985 jiwa, yang terdiri atas orang Eropa 1.208 jiwa, orang bumiputra 16.304 jiwa, orang Tionghoa 1.402 jiwa, dan orang Arab 78 jiwa.” Maka dari itu, masuk akal rasanya apabila pemerintah kemudian berlomba – lomba untuk membuat fasilitas yang mendukung.

Dalam Staatsblad van Nederlandsch-Indië (Lembaran Resmi Hindia Belanda) tahun 1917 ditegaskan bahwa penyediaan fasilitas mencangkup, “alun-alun, taman, selokan untuk keperluan umum, saluran air dan pipa pembilas, pekerjaan untuk memperoleh atau membagikan air minum, air cuci, dan air bilas, rumah potong hewan umum, pasar dan los pasar, penyiraman dan pengumpulan sampah di sepanjang atau dari jalan umum, jalanan, alun-alun, dan taman, penerangan jalan, pemadam kebakaran, dan pemakaman.” Akan tetapi terdapat satu aspek yang kurang dalam pemberian fasilitas tersebut, yaitu transportasi umum seperti bus. Ironisnya, penyediaan transportasi umum sendiri tidak di sediakan oleh pemerintah akan tetapi di sediakan oleh perusahaan swasta lokal milik keturunan Tionghoa yang bernama Kwaa Tjwan Ing di kisaran tahun 1923. Walaupun sebelum Kwaa Tjwan Ing mendirikan perusahaan otobus telah tersedia transportasi umum, akan tetapi transportasi umum yang beredar masih dalam bentuk tradisional seperti dokar.

Armada bus dari P. O. bus ESTO. Foto: Wikimedia Commons/Public Domain
zoom-in-whitePerbesar
Armada bus dari P. O. bus ESTO. Foto: Wikimedia Commons/Public Domain

Perusahaan otobus yang di bangun oleh Kwaa Tjwan Ing bernama Eerste Salatigasche Transport Onderneming (Perusahaan Angkutan Salatiga Pertama) atau yang kerap di sebut sebagai ESTO yang merupakan salah satu perusahaan bus pertama di Hindia Belanda dan perusahaan bus pertama di gemeente Salatiga. Berdasarkan Eny Setyowati dan kawan – kawan dalam artikel di jurnal JIH: Journal of Indonesian History, Vol. 6, No. 1, yang terbit tahun 2017, ” Sejarah Transportasi Bus Esto dan Pengaruhnya Terhadap Perkembangan Kota Salatiga Tahun 1923-1942”, menyatakan “pada awalnya bus tersebut hanya melayani rute Salatiga-Tuntang dan Salatiga-Bringin dengan kapasitas 16 – 18 orang saja.” Alasan pemilihan kedua jalur ini tidak lain karena di Tuntang dan Bringin terdapat stasiun kereta api yang jaraknya cukup jauh dari pusat gemeente Salatiga. Dalam perkembangannya, P. O. ESTO dapat dikatakan berkembang sangat sukses hingga mampu melebarkan rute perjalanan mereka. Dalam koran De Nieuwe Vorstenlanden edisi 25 Juli 1927 menyatakan, “Kwaa Tjwan Ing telah meminta izin untuk memperlebar jalur bus ESTO dengan rute Boyolali-Surakarta.” Dengan kata lain perusahaan bus ESTO sangat berjaya hingga mampu membuka rute di luar kota Salatiga. Eksistensi bus ESTO sendiri ternyata mencapai abad ke 21 dan pada akhirnya terpaksa gulung tikar pada tahun 2016. Kuat dugaan pemberhentian operasional perusahaan bus tersebut dikarenakan persaingan ketat antar perusahaan bus serta maraknya motor sebagai kendaraan utama warga sehingga mengurangi minat untuk menaiki bus.