Safari Mencekam di Sarajevo

Saya merupakan mahasiswa sejarah biasa yang sedang menempuh pendidikan pada Universitas di Semarang.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Bagas Sultan Maulana tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Ketika mendengar kata safari, hal yang terlintas dalam benak dan pikiran kita pasti tidak akan jauh – jauh dari perjalanan darat dengan tujuan berburu hewan liar. Perburuan tersebut biasanya identik dengan wilayah di Afrika Timur yang memang menjadi tujuan favorit untuk berburu hewan liar.
Akan tetapi, safari bagi kota Sarajevo memiliki makna yang justru lebih mencekam. Alih-alih berburu hewan liar, safari di kota Sarajevo, ibu kota Bosnia dan Herzegovina, akan menargetkan masyarakat sipil kota tersebut. Dugaan praktik tersebut kemudian dikenal sebagai Sarajevo Safari.

Sarajevo Safari merupakan dugaan fenomena wisata perang yang melibatkan perburuan manusia dengan menggunakan senapan runduk (sniper rifle) selama pengepungan Sarajevo. Pengepungan dimulai pada 5 April 1992 oleh pasukan Serbia Bosnia dan JNA (Jugoslovenska Narodna Armija). Setelah JNA ditarik pada Mei 1992, pengepungan dilanjutkan Tentara Republika Srpska hingga awal 1996.
Pengepungan Sarajevo sendiri terjadi di tengah pecahnya Perang Bosnia pada tahun 1992 hingga 1995. Selama masa mencekam tersebut, masyarakat sipil Sarajevo hidup di bawah ancaman peluru senapan runduk. Mereka harus berjalan dengan cepat dan menunggu kendaraan lapis baja PBB sebagai perlindungan ketika harus melewati area terbuka. Menurut laman BBC.com pada tahun 2025 dengan tajuk “Italy investigates claims of tourists paying to shoot civilians in Bosnia in 1990s” menyatakan bahwa warga Italia dan lainnya diduga telah membayar sejumlah besar uang untuk menembak warga sipil di kota Sarajevo yang terkepung.
Secara geografis, Sarajevo berada di wilayah lembah dengan dikelilingi oleh perbukitan sehingga memudahkan pasukan milisi untuk menembak. Karena hal tersebut, diduga banyak wisatawan safari yang juga memanfaatkan daerah perbukitan sebagai tempat aman untuk menembak.
Berdasarkan laman Aljazeera pada tahun 2025 yang bertajuk “Italy probes Sarajevo ‘sniper safaris’: What were they, who was involved?” menjelaskan mengenai rute perjalanan wisatawan, yang diduga berasal dari Amerika Serikat, Rusia, dan Italia, yang ingin safari di Sarajevo.
Pada awalnya, wisatawan yang mayoritas merupakan penggemar senjata api akan berkumpul di Trieste, Italia setiap akhir pekan yang kemudian akan diterbangkan menuju Beograd, lalu dikawal milisi Serbia Bosnia ke perbukitan Sarajevo, dan mereka akan membayar kepada milisi Bosnia-Serbia. Daftar harga untuk perburuan manusia tersebut cukup beragam dengan anak – anak sebagai target yang bernilai mahal serta warga lansia sebagai target gratis.
Menurut laporan Ezio Gavazzeni yang termuat dalam surat kabar Italia La Repubblica menjelaskan bahwa besaran tarif bagi warga Italia yang mengikuti perjalanan tersebut mencapai sekitar € 100,000 (disesuaikan dengan inflasi) atau sekitar Rp, 1,9 miliar. Dalam dugaan fenomena tersebut, para penembak runduk setidaknya telah melukai kurang lebih 1.000 orang dan korban yang terbunuh kurang lebih 200 orang, termasuk sekitar 60 anak – anak yang menjadi korban sasaran penembak runduk.
Pengepungan Sarajevo secara resmi berakhir pada Februari 1996, setelah penandatanganan Perjanjian Dayton di tahun 1995. Pengepungan yang mencekam tersebut juga secara tidak langsung menghentikan teror penembak runduk yan terus menghantui masyarakat sipil kota Sarajevo. Akan tetapi, dalang pasti di balik teror penembak runduk masih belum terungkap. Baik itu penyedia jasa tur wisata ke Sarajevo maupun wisatawan dibalik senapan runduk.
Lebih dari tiga dekade setelah pengepungan, belum ada satu pun penembak individu yang dihukum atas teror penembak runduk di Sarajevo. Hingga kini, dugaan kasus kemanusiaan tersebut masih terus diselidiki kebenarannya. Pada tahun 2025, Kejaksaan Milan telah membuka penyelidikan yang menyeret warga negara Italia dalam dugaan tur perburuan warga sipil.
Penyelidikan tersebut didasarkan atas penelitian mendalam Ezio Gavazzeni terhadap dugaan kasus tersebut. Proses pengusutan dugaan tersebut bukanlah hanya sebuah kasus kemanusiaan belaka, melainkan sebuah harapan yang telah ditunggu lama oleh masyarakat Sarajevo. Harapan akan pengusutan kasus yang adil demi keluarga mereka yang menjadi korban atas dugaan kasus kemanusiaan tersebut.
