Berpolitik Melalui Pendekatan Behavioralisme

Mahasiswa S1 Ilmu Komunikasi Universitas Sultan Ageng Tirtayasa
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Frahazsyah Ammiqie Ash-Shidiqie tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Apa sih Behavioralisme itu?
Behavioralisme atau disebut juga aliran perilaku merupakan filosofi dalam psikologi yang menjelaskan bahwa yang dilakukan makhluk hidup termasuk tindakan, pikiran, atau perasaan harus dianggap sebagai perilaku.
Simpelnya behavioralisme itu suatu pandangan yang memfokuskan pada perilaku aktor (di mana dalam konteks ini yaitu para politisi atau penyelenggara pemerintah).
Aliran ini berpandangan bahwa semua teori harus memiliki dasar yang dapat diamati, tapi tidak ada perbedaan antara proses baik yang dilihat secara publik (tindakan) maupun yang dilihat secara pribadi (pikiran dan perasaan)
Bagaimana sih penerapannya di kehidupan politik?
Behavioralisme juga dikenal sebagai salah satu pendekatan ilmu politik dari berbagai macam pendekatan yang lain. Ciri khas dari pendekatan ini yaitu berbasis perilaku. Teori ini mulai muncul sekitar tahun 1950-an setelah WW II (perang dunia ke-2) di Amerika. Kemunculan teori pendekatan ini bukan tanpa sebab, behavioralisme hadir seiringan dengan kegagalan daripada teori sebelumnya, yaitu pendekatan tradisional (Legal/Institusional).
Pendekatan itu dinilai gagal dalam pembangunan teori, karena perkembangannya hanya di negara-negara demokrasi barat. Dengan begitu bisa dikatakan pendekatan ini tidak membuka banyak kesempatan untuk teori teori lain.
Kegagalan itu bersamaan dengan munculnya kekecewaan-kekecewaan disebabkan pendekatan ini tidak banyak membahas kekuasaan, terasing dari proses kebijakan, dan metode ilmu sangat terbelakang.
Namun, dengan hadirnya teori pendekatan perilaku (behavioralisme) ini menjawab kekecewaan tersebut. Dalam teori ini pembahasan struktur berubah jadi pembahasan proses, dan pembahasan lembaga berubah jadi pembahasan perilaku.
Gagasan pokok dari pendekatan ini yaitu, tak perlu lagi membahas lembaga-lembaga formal, karena pembahasan itu tidak cukup memberi informasi tentang proses politik yang sesungguhnya. Justru kebalikannya lebih baik mempelajari perilaku (behavior) manusia, karena itu merupakan gejala yang benar-benar bisa diamati.
Ulasan mengenai perilaku tidak hanya sebatas perorangan saja, tetapi juga mencakup persekutuan yang lebih besar, seperti organisasi masyarakat, gerakan nasional, kelompok elite, dll.
Pendekatan ini tidak memandang lembaga-lembaga formal sebagai titik sentral atau pemeran yang independen, tetapi hanya sebagai garis besar untuk kegiatan manusia.
Jika pengikut pendekatan ini mempelajari parlemen, maka pembahasannya terkait perilaku anggota parlemen, contohnya seperti pemungutan suara (voting behavior) terhadap rancangan undang-undang tertentu (apakah pro atau kontra serta mengapa demikian), cara mereka berpidato, kesungguhan dalam memprakarsai rancangan undang-undang, gaya berinteraksi sesama teman, kegiatan negosiasi atau melobi, dan latar belakang sosialnya.
Seperti apa dampak yang signifikan dari teori pendekatan ini?
Berkat kehadiran pendekatan ini pengumpulan data melaju dengan pesat. Sarjana-sarjana itu mulai menganalisis faktor-faktor baru yang sebelumnya tidak ditemukan melalui pengamatan.
Satuan analisis pun bergeser dari lembaga ke perilaku dan dari struktur ke proses (dinamika). Para penganut pendekatan ini tidak hanya mempelajari lembaga-lembaga, tetapi juga perilaku anggota di dalamnya, contohnya presiden dan anggota parlemen, seperti apa mereka melakoni perannya dan menjalankan tugas.
Salah satu keunikan dari pendekatan ini adalah pendapat bahwa masyarakat bisa berperan sebagai sebuah sistem sosial, sedangkan negara sebagai sebuah sistem politik yang merupakan subsistem dari sistem sosisal.
Pasti dalam sebuah sistem harus ada bagian-bagian yang saling berinteraksi, saling bergantungan, sehingga secara keseluruhan dapat bekerja sama dengan tujuan menunjang jalannya sistem tersebut.
Sistem bisa mendapat tekanan dari lingkungan, tetapi berusaha menghadapi dan mengatasinya dengan memelihara keseimbangan. Itulah yang disebut sistem dapat bertahan (persist).
Behavioralisme sudah membawa dampak yang sangat besar baik dalam hal penelaahan ilmu politik maupun dalam profesi mereka yang belajar ilmu politik.
Apakah ada kekurangan atau kritikan dari teori ini?
Meskipun sudah lebih baik dari yang sebelumnya, tetapi pendekatan perilaku masih tak luput dari kritikan yang datang dari berbagai pihak, mulai dari kalangan tradisionalis bahkan sampai kalangan penganut Pendekatan Perilaku itu sendiri.
Selain itu, ada juga kritikan dari para Neo-Marxis. kalangan tradisinalis yang tadinya merupakan sasaran utama dari kecaman kalangan perilaku (behavioralis) mulai terusik dan berusaha mempertahankan diri dengan sengit. Para sarjana tradisionalis seperti Leo Strauss, John Hallowell, dan Eric Voegelin melakukan penyerangan melalui argumentasi terhadap Pendekatan Perilaku.
Mereka menyatakan bahwa pendekatan ini terlalu bersih sebab tidak menerima masuknya nilai-nilai (value-free) dan norma-norma dalam penelitian politik. Mereka yang ada dibalik Pendekatan Perilaku tidak berusaha mencari jawaban dari pertanyaan yang mengandung nilai, bagaimana sistem politik demokrasi yang benar, atau cara membangun masyarakat yang adil, dan sebagainya.
Adapun kritik yang dilontarkan bahwa pendekatan ini tidak relevan dengan realitas politik dan terlalu sering memerhatikan masalah yang kurang penting, seperti survei tentang perilaku pemilih, sikap politik, dan pendapat umum.
Kebalikannya, pendekatan ini tidak memedulikan masalah-masalah yang lebih gawat seperti konflik dan pertentangan-pertentangan pada masanya yang menggungcangkan masyarakat.
Secara sinis dikatakan jika para sarjana behavioralis ini bermain biola pada saat Roma dibakar. Atas perbuatan mereka itu secara tidak langsung telah mengorbankan relevansi bagi tercapainya kecermatan yang steril.
