Konten dari Pengguna

Ketergantungan Ekonomi pada Komoditas: Risiko yang Terus Berulang

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Francisco Oktorio Susanto tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

https://www.pexels.com/search/?q=ekonomi%20indonesia
zoom-in-whitePerbesar
https://www.pexels.com/search/?q=ekonomi%20indonesia

Ketergantungan pada Komoditas: Cerita yang Sama Terus Berulang

Hei, pernah nggak kamu perhatikan — berita kita selalu sama polanya? Suatu hari terdengar gembira: "Harga minyak naik, harga sawit melonjak, devisa masuk deras!" Semua tersenyum, merasa aman. Belum setahun berlalu, beritanya berubah: "Harga dunia turun, pendapatan menyusut, anggaran dipotong!" Wajah-wajah yang tadi cerah kini cemas. Kita kembali ke titik awal.

Dan ini bukan baru terjadi, lho. Sudah puluhan tahun kita berputar di lingkaran yang sama. Saat harga komoditas tinggi, kita merasa kaya. Saat jatuh, kita terjaga bahwa kita belum berdiri tegak. Nah, inilah yang kita bahas sekarang — ketergantungan pada barang mentah: mengapa kita belum bisa lepas darinya, mengapa ini berbahaya, dan bagaimana caranya agar tidak terus berulang.

1. Apa Itu Ketergantungan pada Komoditas?

Sederhananya, komoditas itu barang yang diambil atau dihasilkan dari alam — batu bara, minyak bumi, bijih nikel, kelapa sawit, karet, kopi, dan sejenisnya. Ciri khasnya: bentuknya belum diolah atau masih dalam keadaan aslinya, harganya ditentukan oleh pasar dunia, dan siapa pun yang menjualnya, barangnya terlihat sama.

Ketergantungan artinya: sebagian besar penghasilan kita datang dari menjual barang-barang seperti ini. Bukan dari karya cipta, bukan dari teknologi, bukan dari produk yang kita buat sendiri — melainkan dari apa yang tersedia di bawah tanah, di hutan, atau di kebun.

Ibaratnya begini: keluarga yang hidupnya hanya mengandalkan satu pohon buah di halaman. Saat musim berbuah lebat, mereka makan enak, sisanya dijual, uang berlimpah. Tapi saat musim berakhir, atau hama datang, atau harga jualnya jatuh — mereka kembali kesulitan. Padahal tanahnya luas, anggotanya banyak, bisa belajar kerajinan, membuka usaha, menanam berbagai tanaman. Tapi mereka terbiasa hanya menunggu buah jatuh.

2. Mengapa Ini Sangat Berisiko?

Bahayanya bukan sekadar penghasilan naik-turun — dampaknya menyusup ke setiap sudut kehidupan kita:

Pertama, harga yang tidak pernah stabil. Harga komoditas itu diatur jauh dari sini — di bursa dunia, oleh negara-negara besar, oleh spekulasi, oleh perubahan cuaca atau ketegangan politik yang bahkan tidak kita ketahui. Kita tidak menentukan harganya, kita hanya menerima apa yang diberikan. Bulan ini bernilai mahal, bulan depan bisa jatuh separuhnya tanpa peringatan.

Kedua, nilainya paling kecil. Barang mentah itu dijual murah. Setelah diolah di negara lain, nilainya naik berkali-kali lipat. Kita dapat bagian paling bawah, sementara keuntungan terbesarnya dinikmati bangsa lain. Satu ton bijih besi harganya ratusan ribu, tapi kalau sudah jadi baja, mesin, atau peralatan, nilainya ratusan juta. Kita yang punya bahannya, tapi yang untung besar orang lain.

Ketiga, sumbernya tidak abadi. Tambang akan habis. Hutan yang ditebang terus akan gundul. Tanah yang dipaksa menanam tanaman yang sama tiap tahun akan kehilangan kesuburannya. Kalau sumber daya ini habis sebelum kita punya kemampuan lain, apa yang tersisa untuk anak cucu? Lubang bekas galian, tanah tandus, dan kemiskinan yang turun-temurun.

Keempat, tidak menciptakan kemampuan baru. Menambang dan menebang memang memberi pekerjaan, tapi tidak mengajarkan kita cara berpikir, menciptakan, atau berinovasi. Orang yang bekerja di sana tidak membawa pulang keterampilan yang bisa dipakai untuk membangun usaha baru. Jadi meskipun puluhan tahun kaya sumber daya, kemampuan rakyat tidak tumbuh sebanding dengan kekayaan yang diambil.

Kelima, mudah terguncang. Ekonomi yang bergantung pada satu atau dua barang mudah goyah. Kalau pembeli berhenti, atau sumbernya rusak, seluruh negeri ikut terpuruk. Seperti meja berkaki satu — tegak sebentar, lalu jatuh.

3. Mengapa Kita Belum Bisa Lepas dari Kebiasaan Ini?

Bukan karena tidak tahu bahayanya — sudah berkali-kali dikatakan, tapi tetap saja dilakukan. Ada alasan yang membuat kita sulit berubah:

Pertama, jalannya terasa paling gampang. Tinggal gali, tebang, panen, lalu jual. Tidak perlu membangun pabrik, melatih tenaga kerja, meneliti teknologi, atau memikirkan pasar. Uang masuk cepat. Orang yang menikmati keuntungan ini tidak mau berubah — perubahan berarti berbagi kesempatan dan menunda keuntungan sesaat.

Kedua, pendapatan dari komoditas menutupi kekurangan lain. Saat harga tinggi, uang masuk deras, anggaran penuh, dan kita merasa tidak perlu repot membangun industri lain. Kita terlena, lupa bahwa musim baik tidak akan berlangsung selamanya.

Ketiga, pengolahan sendiri butuh waktu dan kesabaran. Membangun industri memerlukan tenaga, biaya, ketekunan, dan risiko yang tidak kecil. Banyak yang lebih memilih jalan yang sudah terbukti, meskipun kita tahu itu tidak akan bertahan lama.

Keempat, kebijakan belum konsisten. Setiap kali harga komoditas turun, kita berjanji akan beralih ke pengolahan dan diversifikasi. Begitu harga naik lagi, janji itu ditinggalkan, kembali ke cara lama. Pola ini sudah berulang puluhan tahun.

4. Apa yang Terjadi Kalau Tetap Begitu?

Kalau kita terus mengandalkan apa yang diambil dari alam tanpa mengubah cara pikir, inilah yang akan terjadi:

Kekayaan habis, kemakmuran belum datang. Tambang tutup, hutan gundul, tapi tidak ada pabrik atau usaha pengganti yang berdiri. Daerah yang dulu kaya akan ditinggalkan, penduduk pindah ke kota, dan kemiskinan menyebar.

Selalu tertinggal. Negara yang menjual barang mentah akan selalu diatur oleh negara yang mengolahnya. Kita yang punya bahan, tapi mereka yang menentukan harga, aturan, dan arah perdagangan. Kita tidak akan pernah berdiri sejajar dengan mereka.

Generasi berikutnya mewarisi kekosongan. Mereka tidak akan punya sumber daya alam yang melimpah seperti sekarang, dan juga tidak punya kemampuan yang dikembangkan selama masa kemakmuran. Mereka akan mulai dari bawah, jauh lebih berat daripada kita.

Ketimpangan makin lebar. Yang punya lahan dan izin tambang makin kaya saat harga naik, sementara rakyat biasa hanya merasakan sedikit sekali. Saat harga turun, yang pertama menderita justru yang paling lemah.

5. Lalu, Bagaimana Menghentikan Lingkaran Ini?

Jawabannya sudah diketahui sejak lama — tapi butuh keberanian untuk melakukannya:

Pertama, olah sebelum dijual. Ini langkah paling mendasar. Jangan kirim bijih nikel, kirim produk logam. Jangan kirim minyak sawit mentah, kirim makanan, sabun, atau bahan olahannya. Setiap tahap pengolahan menambah nilai, membuka lapangan kerja, dan menyimpan kekayaan di negeri ini.

Kedua, kembangkan banyak jenis usaha. Jangan bertumpu pada satu atau dua barang. Bangun pariwisata, kerajinan, industri kreatif, teknologi, jasa — agar kalau satu sektor sedang turun, yang lain tetap berjalan. Ekonomi yang beragam itu seperti pohon yang rimbun, tidak mudah tumbang kalau satu dahan patah.

Ketiga, saat harga tinggi, tabung dan bangun. Saat musim untung, jangan habiskan untuk hal sesaat. Bangun pabrik, sekolah, infrastruktur, dan cadangan dana. Supaya saat harga turun, kita tetap punya pegangan. Ini yang sering kita lupakan — saat kaya, kita merasa akan kaya selamanya.

Keempat, bangun kemampuan rakyat. Sekolah, pelatihan, riset, inovasi — ini investasi paling mahal dan paling berharga. Mesin bisa dibeli, tapi kemampuan menggunakannya, memperbaikinya, menciptakannya — itu yang membedakan bangsa maju dan tertinggal.

Kelima, pertahankan arah meski pemimpin berganti. Membangun kemandirian butuh puluhan tahun. Jangan ganti rencana setiap kali pimpinan berubah. Semua sepakat: kita tidak akan selamanya menjual bahan mentah. Itu tujuan yang tidak boleh ditinggalkan.

Penutup

Teman, kekayaan alam itu anugerah, tapi bukan jaminan masa depan. Banyak negara yang kaya sumber daya justru tertinggal, dan banyak yang miskin alam justru maju pesat. Bukan soal apa yang ada di bawah tanah, tapi soal apa yang ada di kepala kita.

Selama kita masih mengandalkan apa yang diambil dari alam, kita akan terus terguncang saat angin berubah arah. Tapi kalau kita mulai mengandalkan kemampuan, karya, dan kreativitas sendiri — tidak ada yang bisa mengambil itu, tidak ada harga yang bisa jatuh, dan tidak ada yang bisa mengatur kita.

Jadi, jangan senang berlebihan saat harga komoditas naik. Itu bukan kemenangan, itu kesempatan. Kesempatan untuk membangun sesuatu yang lebih kokoh, lebih abadi, dan lebih milik kita sendiri. Kalau kita lewatkan kesempatan ini lagi, cerita yang sama akan terus diulang — sampai kekayaan itu habis.