Konten dari Pengguna

Daya Tahan Ekonomi Nasional Terhadap Ketidakpastian Harga Komoditas Dunia

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Francissco Oktorio Susanto tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

https://www.pexels.com/search/?q=ekonomi%20indonesia
zoom-in-whitePerbesar
https://www.pexels.com/search/?q=ekonomi%20indonesia

Daya Tahan Ekonomi Nasional Terhadap Ketidakpastian Harga Komoditas Dunia

Kawan, coba kita bayangkan perekonomian negara kita itu seperti kebun besar yang menjadi tumpuan hidup kita semua. Di kebun itu tumbuh beragam tanaman — ada padi, kopi, kelapa, karet, sawit, dan masih banyak lagi. Sebagian hasilnya kita nikmati sendiri, tetapi sebagian besar kita bawa ke pasar yang sangat jauh, yaitu pasar dunia. Nah, di pasar itu, harga barang tidak pernah tetap, ibarat cuaca yang berubah-ubah tiap hari: pagi cerah, siang hujan deras, sore angin kencang. Kadang harga naik tinggi dan kita senang sekali, tetapi tak jarang pula turun tajam dalam sekejap, membuat kita cemas karena penghasilan yang diharapkan tiba-tiba menyusut. Perubahan naik-turunnya harga inilah yang disebut ketidakpastian harga komoditas dunia. Dan kemampuan kita untuk tetap berdiri tegak, tidak goyah meskipun harga berubah-ubah itu, itulah yang kita sebut daya tahan ekonomi nasional.

Mari aku ceritakan lebih jelasnya. Selama ini, banyak kekayaan alam yang kita miliki memang menjadi andalan: minyak bumi, batu bara, logam, serta hasil perkebunan dan pertanian yang melimpah. Ketika harga komoditas ini sedang tinggi, pemasukan negara bertambah banyak, pembangunan berjalan lancar, para petani dan pengusaha mendapatkan keuntungan yang lumayan, dan kehidupan terasa lebih mudah. Namun sayangnya, kita tidak bisa mengatur harga di pasar itu sendiri. Harga itu ditentukan oleh keadaan di tempat yang jauh dari kita — entah karena permintaan dari negara-negara besar berkurang, produksi di negara lain melimpah, atau perselisihan yang terjadi di belahan bumi lain yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan kita. Saat hal itu terjadi, harga bisa anjlok begitu saja, dan dampaknya akan terasa sampai ke sini: uang yang masuk ke kas negara berkurang, pendapatan petani dan pekerja menurun, dan usaha yang bergantung pada penjualan bahan mentah akan kesulitan untuk tetap berjalan.

Dulu, kita sempat terbiasa mengandalkan hanya sedikit jenis hasil bumi. Bayangkan jika kebun besar itu hanya ditanami satu jenis tanaman saja — jika tanaman itu laku mahal, kita semua senang. Tetapi jika harganya jatuh, seluruh kebun akan sepi dan kita kehilangan sumber penghidupan. Inilah yang mendorong kita untuk mulai memperbaiki diri. Daya tahan yang kuat itu tidak lain adalah kemampuan kita agar tidak bergantung pada satu atau dua hal saja. Kita mulai menanam lebih banyak jenis tanaman, membuka lahan baru, serta mengolah hasil kebun itu sendiri menjadi barang yang lebih bernilai — bukan sekadar menjual buahnya mentah-mentah, tetapi mengolahnya menjadi makanan, kerajinan, atau bahan industri yang bisa dipakai di mana-mana. Dengan begitu, jika harga satu barang turun, barang lain mungkin tetap bernilai atau bahkan naik, sehingga penghasilan kita tidak terputus begitu saja.

Selain memperbanyak jenis usaha, kita juga belajar untuk tidak terlalu bergantung sepenuhnya pada pasar di luar negeri. Kita membangun pasar sendiri di rumah. Orang-orang di seluruh pelosok negeri saling berdagang, kebutuhan dipenuhi oleh produksi sendiri, dan kemampuan masyarakat untuk membeli barang terus ditingkatkan. Inilah yang menjadi pelindung yang kokoh: meskipun pintu ke pasar dunia sedang sulit dibuka, kita tetap bisa bertransaksi, bekerja, dan hidup layak di antara sesama kita sendiri. Di samping itu, pemerintah juga menyiapkan tabungan dan cadangan — seperti keluarga yang menyisihkan sebagian penghasilan saat rezeki sedang baik — agar ketika harga turun dan pendapatan menyusut, kita tetap bisa menjaga pembangunan, membantu mereka yang terdampak, dan tidak berutang secara berlebihan untuk menutupi kekurangan itu.

Tidak hanya itu, kita juga mulai mengolah kekayaan kita dengan lebih cerdas. Dulu bahan mentah kita jual begitu saja, kini kita mulai mengembangkan industri di dalam negeri sendiri. Batu bara tidak hanya dijual begitu, tetapi digunakan untuk menghasilkan listrik yang mendukung pabrik-pabrik kita. Kelapa dan sawit tidak hanya dikirim ke luar negeri, tetapi diolah menjadi produk jadi yang nilainya berkali-kali lipat lebih tinggi. Dengan menambah nilai pada barang yang kita miliki, harga bahan mentah yang naik-turun tidak lagi terlalu menakutkan — karena apa yang kita jual sekarang bukan lagi sekadar bahan alam, melainkan hasil kerja keras, keterampilan, dan pemikiran kita sendiri, yang nilainya jauh lebih stabil dan tidak mudah tergoyahkan oleh gejolak di pasar jauh sana.

Tentu saja, kawan, memperkuat daya tahan ini bukan hal yang mudah dan tidak bisa selesai dalam semalam. Masih banyak yang harus kita perbaiki: jalan yang menghubungkan kebun ke pasar harus makin baik, pengetahuan para petani dan pengusaha perlu terus ditambah, aturan perdagangan harus makin melindungi kita, dan kita harus tetap waspada agar tidak kembali bergantung hanya pada hasil alam semata. Namun arahnya sudah benar. Kita sudah mulai menyadari bahwa kekayaan terbesar bukanlah barang yang ada di dalam tanah, melainkan semangat, kemampuan, dan kebersamaan kita untuk membangun jalan sendiri.

Jadi, pada akhirnya, daya tahan ekonomi itu bukan berarti kita bisa mencegah angin berhembus atau harga berubah. Kita tidak bisa mengendalikan pasar dunia. Tetapi kita bisa memperkuat rumah kita sendiri, memperkokoh fondasi tempat kita berdiri, dan menyediakan banyak pintu rezeki yang berbeda-beda arah. Ketika kita tidak bertumpu hanya pada satu hal, ketika kita saling membeli dan menjual di antara sesama, ketika kita mampu mengolah apa yang kita miliki menjadi sesuatu yang bernilai tinggi, maka tak peduli seberapa liar harga barang di luar sana bergejolak, kehidupan kita tetap berjalan tenang. Kita tidak akan mudah terguling, karena kita telah membangun ketahanan itu perlahan-lahan, dari tangan kita sendiri, untuk masa depan kita bersama.