Konten dari Pengguna

Ekonomi Informal: Besar dan Penting, Tetap Terabaikan Kebijakan

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Francissco Oktorio Susanto tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

https://www.pexels.com/search/?q=ekonomi%20indonesia
zoom-in-whitePerbesar
https://www.pexels.com/search/?q=ekonomi%20indonesia

Ekonomi Informal: Besar dan Penting, Tetap Terabaikan Kebijakan

Kawan, mari kita berjalan sebentar di sepanjang jalan tempat kita tinggal. Di sana ada pedagang sayur yang berkeliling sejak fajar menyingsing, ada warung kecil di depan rumah yang melayani tetangga pagi hingga malam, ada tukang ojek dan pengemudi yang mengantar orang ke tujuan, ada pengrajin yang membuat barang cantik di halaman rumahnya, serta pekerja harian yang siap membantu apa pun kebutuhan warga. Mereka tidak punya kantor megah, tidak terdaftar dalam daftar perusahaan yang panjang, tidak menerima gaji bulanan dengan slip rapi, dan tidak selalu tercatat di laporan-laporan resmi. Namun merekalah yang sebenarnya menjadi denyut nadi kehidupan sehari-hari kita — ada di mana-mana, bekerja tanpa kenal lelah, melayani jutaan orang, dan menafkahi keluarga mereka, seringkali sendirian, tanpa payung perlindungan apa pun. Inilah yang disebut ekonomi informal: besar, hidup, dan sangat diperlukan — namun entah mengapa, seolah sering dilupakan saat kebijakan disusun.

Bayangkan betapa luasnya bagian dari bangsa ini: dari setiap sepuluh orang yang bekerja di Indonesia, hampir enam berada di sektor ini — puluhan juta jiwa yang setiap hari menggerakkan roda perekonomian, menyediakan barang dan jasa yang murah dan dekat dengan rakyat, menyerap mereka yang belum mendapat tempat di kantor-kantor atau perusahaan besar. Ketika krisis datang, seperti saat pandemi dulu ketika banyak tempat kerja resmi tutup, merekalah yang menjadi penyangga — orang-orang beralih berdagang, berusaha sendiri, mencari cara bertahan hidup di sektor ini sehingga angka pengangguran tidak melonjak jauh lebih parah. Mereka bukan beban bagi negara; justru merekalah yang menjaga negara tetap berdiri tegak di saat-saat sulit. Tanpa mereka, biaya hidup masyarakat berpenghasilan rendah akan jauh lebih berat, kesempatan bekerja akan jauh lebih sempit, dan banyak keluarga yang tak punya tempat berpijak.

Namun, kawan, betapa ironisnya: meskipun perannya sebesar itu, mereka sering kali berjalan tanpa dukungan. Karena tidak terdaftar secara resmi, mereka sulit mengakses pinjaman modal yang murah — uang yang mereka butuhkan untuk menambah barang dagangan atau memperbaiki alat kerja. Ketika sakit atau kecelakaan, tidak ada jaminan yang menanggung biayanya; ketika usia tak lagi memungkinkan bekerja, tidak ada tabungan hari tua yang menanti. Aturan yang ada kadang terasa seperti menghalangi bukan membantu — izin yang rumit, biaya yang berat, atau petunjuk yang sulit dipahami. Banyak dari mereka ingin mengurus segala sesuatu dengan rapi dan sah, tetapi merasa pintu formalitas itu terlalu tinggi untuk dijangkau. Bahkan saat bantuan pemerintah disalurkan, seringkali mereka sulit tercapai karena datanya belum tercatat dengan baik — mereka ada di sini, terlihat jelas di mata kita, namun tak terlihat dalam daftar yang menentukan siapa yang mendapat dukungan.

Akibatnya, mereka tetap berada dalam lingkaran yang sulit diputus: penghasilan tidak menentu, kesulitan menabung, sulit berkembang lebih jauh, dan setiap hari menghadapi risiko sendirian. Padahal jika didukung dengan benar — jika pendaftaran dipermudah, akses modal dibuka lebar, perlindungan dasar diberikan, dan pelatihan keterampilan disediakan — banyak dari mereka bisa tumbuh menjadi usaha yang lebih besar, lebih kuat, dan memberi manfaat lebih luas. Banyak pengusaha yang kini sukses memulai perjalanannya dari sekadar berdagang kecil di pinggir jalan; ekonomi informal itu bukan jalan buntu, melainkan benih kewirausahaan yang butuh disiram dan dirawat, bukan dibiarkan tumbuh sendiri di tempat yang terpinggirkan.

Masalahnya bukan karena mereka tidak mau tertib atau tidak mau berkembang. Yang belum cukup tersedia adalah jembatan yang memudahkan mereka masuk ke dalam sistem, bukan menuntut mereka berubah seketika tanpa bantuan apa pun. Kebijakan seringkali seolah melihat dua dunia terpisah: satu dunia yang rapi, tercatat, dilindungi, dan didukung; sementara dunia yang lain — yang lebih besar — dibiarkan berjuang sendiri, diakui keberadaannya namun jarang benar-benar disentuh oleh kebijakan yang menyentuh kehidupan mereka secara langsung.

Jadi, pada akhirnya, pertanyaannya sederhana: sampai kapan kita akan mengandalkan kekuatan mereka tanpa memberi mereka kekuatan kembali? Ekonomi informal itu bukan sekadar angka di laporan statistik, bukan juga sekadar solusi sementara. Ia adalah bagian terbesar dari kehidupan kita, wajah kebanyakan orang yang bekerja dan berkarya di negeri ini. Jika mereka sehat, terlindungi, dan diberi kesempatan berkembang, seluruh negeri akan ikut makmur. Jika mereka dibiarkan lemah dan rentan, kelemahan itu perlahan-lahan akan terasa di seluruh bangunan perekonomian kita. Sudah saatnya kebijakan tidak lagi sekadar mengakui betapa besarnya mereka, melainkan benar-benar menjangkau mereka — memudahkan langkah mereka, melindungi hari esok mereka, dan memastikan bahwa buah kemajuan ini dirasakan oleh semua orang, tidak hanya mereka yang berdiri di tempat yang terang, tetapi juga mereka yang bekerja di sudut-sudut jalan yang selama ini kurang disinari perhatian.