Konten dari Pengguna

Kenaikan Harga Pangan: Tantangan Nyata bagi Stabilitas Moneter

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Francissco Oktorio Susanto tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Foto oleh Ahsanjaya dari Pexels: https://www.pexels.com/id-id/foto/tangan-uang-memegang-kertas-8637071/
zoom-in-whitePerbesar
Foto oleh Ahsanjaya dari Pexels: https://www.pexels.com/id-id/foto/tangan-uang-memegang-kertas-8637071/

Ketika Harga Dapur Menggerakkan Seluruh Negeri

Di Indonesia, harga beras, cabai, bawang, daging, dan bahan pangan sehari-hari itu bukan sekadar urusan yang dibicarakan ibu-ibu di pasar. Ia adalah penentu arah perekonomian seluruh negeri. Angka inflasi yang dipantau dengan saksama oleh pemerintah dan Bank Indonesia sering kali naik atau turun semata-mata karena naik atau turunnya harga bahan pangan di pasaran. Padahal kenaikan harga-harga ini sebagian besar bukan karena masyarakat belanja terlalu boros atau terlalu banyak uang yang beredar. Tidak. Harga pangan naik karena panen terganggu hujan atau kemarau, karena jalan rusak sehingga biaya angkut melambung, karena pasokan belum cukup sementara kebutuhan terus ada, dan karena kita masih bergantung pada barang yang didatangkan dari luar negeri.

Di sinilah letak persoalannya. Kenaikan harga pangan ini memicu angka inflasi naik, namun ketika Bank Indonesia berusaha menahannya dengan menaikkan suku bunga, ternyata cara itu sering kali tidak membuat harga pangan menjadi turun. Inilah yang menjadi ujian sesungguhnya: ada batas sejauh mana kebijakan moneter sanggup bekerja sendirian. Tanpa dukungan perbaikan pasokan dan kerja sama antar-pihak, satu instrumen saja tidak akan cukup. Mari kita ikuti ceritanya.

Seberapa Besar Pengaruh Harga Pangan?

Bayangkan keranjang belanja seluruh masyarakat Indonesia. Hampir sepertiga bagian dari isi keranjang itu berisi bahan makanan dan minuman. Artinya, hampir seperempat pergerakan harga secara nasional ditentukan semata-mata oleh harga pangan. Jika harga beras naik sedikit saja, atau cabai melonjak harganya, angka inflasi secara keseluruhan ikut terdorong naik.

Bukti nyata dapat kita lihat pada data terbaru hingga Agustus 2026. Kenaikan harga kelompok makanan saja menyumbang lebih dari sepertiga dari seluruh kenaikan harga tahun itu. Sementara tekanan harga yang bersifat bergejolak — yang didominasi oleh bahan pangan — melonjak cukup tajam, padahal kenaikan harga yang mendasar dan menyeluruh tetap berjalan tenang. Yang terus berulang adalah pola yang sama: beras naik, lalu cabai naik, lalu bawang naik, lalu bergantian menekan harga sepanjang tahun.

Dan pola pergerakannya pun memiliki sifat yang khas. Harga pangan cenderung melonjak tajam saat musim kemarau, saat panen gagal, atau menjelang hari besar keagamaan. Lalu turun perlahan saat masa panen tiba — namun tidak pernah kembali sepenuhnya ke harga semula. Selalu tersisa kenaikan yang menetap. Artinya: tekanan harga datangnya bukan dari masyarakat yang berbelanja berlebihan, melainkan dari barang yang tersedia tidak sebanding dengan kebutuhan. Persoalannya ada pada sisi penyediaan, bukan pada jumlah uang.

Mengapa Hal Ini Menjadi Persoalan yang Sulit Diselesaikan?

Persoalan paling mendasar adalah ini: kebijakan suku bunga itu dirancang untuk mengatur seberapa banyak masyarakat berbelanja. Jika harga naik karena orang berbelanja terlalu banyak, maka menaikkan suku bunga akan membuat orang berhemat, dan harga pun kembali turun. Namun hukum itu tidak berlaku untuk harga pangan.

Harga cabai naik bukan karena semua orang tiba-tiba makan cabai berlebihan, melainkan karena hasil panen berkurang atau rusak. Harga beras naik bukan karena masyarakat menjadi kaya raya sekaligus, melainkan karena jalan rusak sehingga barang terlambat sampai atau jumlahnya belum cukup. Harga barang impor naik bukan karena uang beredar melimpah, melainkan karena nilai rupiah melemah. Dan menaikkan suku bunga tidak akan menambah jumlah cabai yang dipanen, tidak memperbaiki jalan yang rusak, dan tidak serta-merta membuat barang tersedia lebih banyak. Bank Indonesia sendiri telah menyatakan hal ini dengan tegas: kenaikan harga yang disebabkan oleh gangguan pasokan tidak dapat disembuhkan dengan obat suku bunga.

Namun cerita belum selesai di sana. Meskipun naiknya harga pangan itu berasal dari persoalan pasokan, jika dibiarkan terus-menerus, lama-kelamaan masyarakat akan mulai beranggapan: "memang begitulah keadaan, harga pasti terus naik setiap waktu". Dan ketika keyakinan itu terbentuk, dampaknya menjadi jauh lebih luas. Pedagang barang lain ikut menaikkan harga sebagai jaga-jaga. Pekerja meminta upah naik agar sanggup membeli kebutuhan. Pengusaha lalu menaikkan harga jual barang dan jasa mereka untuk menutup kenaikan upah. Terbukalah lingkaran yang saling mendorong ke atas. Yang awalnya hanya kenaikan harga pangan, lama-lama berubah menjadi kenaikan harga menyeluruh yang jauh lebih sulit dihentikan.

Inilah sebabnya harga pangan tetap menjadi urusan stabilitas moneter. Bukan karena suku bunga bisa menurunkan harga cabai, melainkan karena jika dibiarkan, dampaknya akan menjalar dan mengubah perilaku masyarakat secara menyeluruh.

Beban menjadi semakin berat karena masih banyak bahan pangan pokok yang kita andalkan dari luar negeri. Setiap kali nilai rupiah melemah, harga barang impor otomatis menjadi lebih mahal, dan mahalnya barang impor ikut mendorong harga dalam negeri naik. Bank Indonesia pun berada dalam posisi yang sulit. Jika suku bunga diturunkan, nilai rupiah makin melemah dan barang impor makin mahal. Jika suku bunga dinaikkan terlalu tinggi, biaya untuk membiayai pertanian dan pengiriman barang ikut menjadi mahal, sehingga harga pangan dalam negeri justru ikut terdorong naik.

Dari Mana Saja Tekanan Itu Berasal?

Mari kita lihat satu per satu sumber tekanan harga pangan yang terus berulang, dan seberapa jauh kebijakan suku bunga sanggup menanganinya.

Pertama, gangguan cuaca dan iklim. Kekeringan, banjir, atau perubahan musim membuat hasil panen turun tajam dan harga melonjak. Apakah menaikkan suku bunga bisa menurunkan hujan atau mengembalikan kesuburan tanah? Tentu tidak sama sekali.

Kedua, persoalan distribusi dan pengiriman. Jalan rusak, biaya angkut antar-pulau yang mahal, membuat harga yang dibayar pembeli bisa jauh lebih tinggi dibanding harga saat masih di tangan petani. Apakah suku bunga bisa memperbaiki jalan dan menurunkan biaya angkut? Juga tidak.

Ketiga, pola musim panen dan hari besar. Hasil panen tidak tersedia melimpah sepanjang tahun, sementara kebutuhan ada setiap hari. Saat hari besar tiba, kebutuhan melonjak sementara pasokan belum bertambah. Harga naik, lalu turun, namun tidak pernah kembali sepenuhnya ke harga semula. Sebagian puncak harga itu menetap. Apakah suku bunga bisa mengubah musim panen? Tidak sepenuhnya.

Keempat, ketergantungan pada barang impor. Beras, kedelai, gandum, dan sarana produksi pertanian masih banyak didatangkan dari luar negeri. Setiap kali rupiah melemah atau harga dunia naik, harga barang impor ikut melonjak. Dalam hal ini, Bank Indonesia dapat menjaga nilai tukar agar tidak melemah terlalu jauh — namun itu saja belum cukup menyelesaikan persoalan.

Kelima, harga bahan bakar dan sarana produksi. Mahalnya bahan bakar dan pupuk langsung menambah biaya menanam dan mengirim barang. Apakah suku bunga bisa menurunkan harga bahan bakar atau pupuk? Tidak. Hal itu sepenuhnya berada di tangan kebijakan pemerintah.

Keenam, keyakinan masyarakat terhadap harga di masa depan. Ketika masyarakat sudah terbiasa melihat harga selalu naik, mereka ikut menaikkan harga barang dan jasa yang mereka jual. Inilah satu-satunya bidang yang benar-benar dapat dijaga oleh Bank Indonesia — yaitu meyakinkan masyarakat bahwa harga akan tetap terjaga kestabilannya, sehingga kebiasaan menaikkan harga tidak menjadi berlebihan.

Jadi dari enam sumber tekanan itu, hanya satu yang sepenuhnya berada dalam jangkauan kebijakan moneter. Sisanya sepenuhnya tergantung pada kebijakan yang diambil pemerintah di luar pengaturan suku bunga.

Dilema yang Dihadapi Bank Sentral

Dari uraian di atas, terlihat jelas betapa sulitnya posisi yang dihadapi Bank Indonesia. Ada dua pilihan, dan keduanya sama-sama berat.

Jika Bank Indonesia membiarkan harga pangan naik begitu saja, maka angka inflasi akan melampaui batas yang disepakati. Masyarakat mulai ragu apakah harga benar-benar dapat dijaga. Keyakinan itu runtuh, dan yang terjadi selanjutnya adalah kenaikan harga yang menyebar ke seluruh sektor — jauh lebih sulit diperbaiki.

Namun jika Bank Indonesia justru menaikkan suku bunga untuk menahan kenaikan harga, ternyata cara itu tidak menambah jumlah barang pangan yang tersedia. Harga pangan tetap mahal karena persoalan pasokan belum terselesaikan. Sementara di sisi lain, biaya meminjam uang menjadi mahal, usaha menjadi lambat berjalan, dan perekonomian justru ikut melambat. Hasilnya: harga tetap mahal, namun perekonomian ikut tertekan. Itulah hasil yang paling tidak diharapkan sekaligus.

Inilah dilema terberatnya. Menanggapi dengan suku bunga ternyata tidak efektif, namun tidak menanggapi pun berisiko besar. Bank Indonesia menyadari keterbatasan ini dan telah menyatakan secara terbuka: persoalan harga pangan tidak dapat diselesaikan sendirian oleh bank sentral. Oleh karena itu, Bank Indonesia bekerja sama dengan pemerintah melalui tim pengendalian inflasi, membantu menjaga pasokan dan kelancaran distribusi, menjelaskan keadaan kepada masyarakat agar keyakinan tetap terjaga, serta menjaga nilai tukar agar barang impor tidak menjadi terlalu mahal. Namun semua langkah itu sifatnya penyangga sementara, bukan penyelesaian akar persoalannya.

Lalu Apa Sebenarnya yang Diperlukan?

Karena akar persoalannya bukan pada jumlah uang yang beredar, maka solusinya pun tidak cukup hanya dengan mengatur suku bunga. Yang diperlukan adalah langkah-langkah yang menyentuh langsung pada persoalan penyediaan barang.

Pertama, memperkuat kemampuan menghasilkan pangan sendiri. Meningkatkan jumlah produksi agar tidak lagi bergantung pada barang dari luar negeri. Membangun sarana pengairan dan menyesuaikan pola tanam dengan perubahan cuaca, sehingga panen tidak lagi terancam setiap kali hujan terlambat atau datang terlalu deras. Menjamin ketersediaan pupuk dan sarana produksi dengan harga yang terjangkau petani.

Kedua, memperbaiki cara barang dikirim dan didistribusikan. Memperpendek rantai dari petani hingga ke tangan pembeli, sehingga biaya perantara tidak menumpuk dan harga akhir tidak membengkak. Memperbaiki jalan dan jembatan serta menurunkan biaya pengiriman antar-pulau. Membangun gudang cadangan pangan yang cukup, sehingga saat terjadi gagal panen atau gangguan pasokan, barang cadangan dapat dikeluarkan untuk menahan harga agar tidak melonjak tajam.

Ketiga, menjaga kestabilan harga bahan bakar dan sarana produksi pertanian. Mahalnya bahan bakar dan pupuk langsung ikut menaikkan biaya menanam dan mengirim barang. Menjaga harga-harga input strategis ini adalah syarat mutlak agar harga pangan tidak terus-menerus tertekan naik.

Dan keempat, peran Bank Indonesia tetap diperlukan — namun dengan batas yang jelas. Menjaga keyakinan masyarakat agar tidak ikut mendorong kenaikan harga berlebihan. Menjaga nilai tukar agar barang impor tidak ikut menjadi penyebab kenaikan harga. Tidak menaikkan suku bunga secara berlebihan jika kenaikan harga pangan itu sifatnya sementara dan akan turun kembali setelah panen tiba. Namun tetap waspada dan bertindak tegas jika kenaikan harga pangan mulai menjalar dan menarik harga barang lain ikut naik.

Penutup

Sebagai penutup cerita ini: harga pangan adalah penentu utama arah inflasi di Indonesia sekaligus ujian terberat bagi kemampuan menjaga stabilitas harga. Kenaikan harga pangan itu lahir dari persoalan pasokan — cuaca yang berubah-ubah, hasil panen yang belum cukup, rantai pengiriman yang panjang dan mahal, serta ketergantungan pada barang impor. Karena akarnya bukan pada jumlah uang yang beredar, maka obat suku bunga saja tidak akan mampu menurunkannya. Menaikkannya berlebihan justru dapat memperlambat perekonomian tanpa menurunkan harga pangan.

Namun membiarkannya pun berbahaya. Jika harga pangan terus naik tanpa penanganan, lama-kelamaan masyarakat akan menganggap kenaikan harga itu pasti terjadi setiap waktu. Keyakinan itu lalu mengubah perilaku seluruh pihak, sehingga kenaikan harga menyebar ke mana-mana dan menjadi jauh lebih sulit dihentikan. Itulah sebabnya harga pangan tetap menjadi urusan stabilitas moneter — bukan karena suku bunga bisa menurunkan harga cabai atau beras, melainkan karena dampak yang ditimbulkannya terhadap keyakinan masyarakat dapat merusak kestabilan harga secara menyeluruh.

Maka kesimpulannya pun menjadi jelas: harga pangan tidak akan dapat distabilkan hanya dengan kebijakan suku bunga. Kebijakan moneter mampu menjaga pintu agar keadaan tidak makin memburuk, namun memperbaiki bangunannya sendiri — dengan meningkatkan produksi, memperlancar distribusi, dan mengurangi ketergantungan impor — adalah tugas yang harus diselesaikan oleh kebijakan pemerintah. Tanpa perbaikan dari sisi penyediaan barang, tekanan harga pangan akan terus berulang, dan ujian bagi stabilitas moneter pun akan terus berlanjut.