LIPSUS Kampung Tai

Hidup di Kampung Tahi (1)

Freelance Multimedia Journalist
28 September 2022 17:41
·
waktu baca 9 menit
sosmed-whatsapp-whitecopy-link-circlemore-vertical
Ketimbang selimut, balsam adalah perangkat yang paling menentukan kenyamanan tidur Hajara. Barang yang satu itu selalu terselip di bawah bantalnya, seperti pusaka. Setiap malam tiba, sesaat sebelum tidur, dia tidak pernah absen melakukan ritual tolak bala: melumuri dua lubang hidung dengan balsam otot.
“Kalau malam memang busuknya berlebihan, lebih menusuk dari tahi kucing,” kata wanita baya itu. “Pakai balsam pun tetap tembus!”
Di teras rumah beratap daun kelapa, Hajara sedang berkumpul dengan beberapa orang dewasa. Sore itu, semua manusia yang tinggal di sana menjalani hidup yang wajar dan tampak memiliki hidung yang sama, kecuali saya. Waktu pertama kali tiba di sana, sulit untuk tidak kaget dengan bau aneh yang menyapa dan tidak mau berhenti meneror hidung. Seperti masuk ke dimensi tangki septik, bau tahi di mana-mana.
Lanjut membaca konten eksklusif ini dengan berlangganan
Keuntungan berlangganan kumparanPLUS
check
Ribuan konten eksklusif dari kreator terbaik
check
Bebas iklan mengganggu
check
Berlangganan ke newsletters kumparanPLUS
check
Gratis akses ke event spesial kumparan
check
Bebas akses di web dan aplikasi
Kendala berlangganan hubungi [email protected] atau whatsapp +6281295655814
Konten Premium kumparanPLUS
Setiap malam, Hajara tidak pernah absen melakukan ritual tolak bala: melumuri dua lubang hidung dengan balsam otot. Sekampung bau busuk dan itu cuma sebagian kecil. Semua karena pabrik pengolahan kelapa di Gorontalo. Reportase Franco Dengo.
Sedang memuat...0 Konten
Sedang memuat...0 Konten
Sedang memuat...0 Konten
Sedang memuat...0 Konten
Sedang memuat...0 Konten