LIPSUS Kampung Tai

Ikan-Ikan Mati sebelum Kami (2)

Freelance Multimedia Journalist
28 September 2022 17:40
·
waktu baca 6 menit
sosmed-whatsapp-whitecopy-link-circlemore-vertical
Suara mesin bergemuruh tanpa jeda dari balik tembok yang menjulang tinggi. Dari luar yang tampak hanya kilauan atap dan cerobong yang memuntahkan asap, kadang hitam kadang putih. Di bagian paling belakang pabrik, air keruh mengalir deras memberaki sungai. Satu meter dari situ, di sungai yang sama, lima orang anak sedang asyik mandi dan memancing ikan.
Seorang anak mengangkat kail pancing sekuat tenaga. Ia girang melihat ikan yang melayang di udara sebelum kembali mencelupkannya ke dalam air, lalu mengulang-ulang adegan dengan kegirangan yang sama. Empat anak lainnya sibuk dengan kesenangan masing-masing: menyelam, berenang dengan gaya punggung, dan sesekali berlomba menentukan siapa yang paling lama menahan nafas di dalam air.
“Ini ikan sapu-sapu. Tidak kami makan, hanya untuk main-main saja,” ujar salah seorang anak, menunjukkan hasil tangkapannya. Hari itu, Rabu (13/10/2021), sebagian besar ikan yang ia tangkap berjenis sama: ikan sapu-sapu atau ikan bandaraya.
Lanjut membaca konten eksklusif ini dengan berlangganan
Keuntungan berlangganan kumparanPLUS
check
Ribuan konten eksklusif dari kreator terbaik
check
Bebas iklan mengganggu
check
Berlangganan ke newsletters kumparanPLUS
check
Gratis akses ke event spesial kumparan
check
Bebas akses di web dan aplikasi
Kendala berlangganan hubungi [email protected] atau whatsapp +6281295655814
Konten Premium kumparanPLUS
Setiap malam, Hajara tidak pernah absen melakukan ritual tolak bala: melumuri dua lubang hidung dengan balsam otot. Sekampung bau busuk dan itu cuma sebagian kecil. Semua karena pabrik pengolahan kelapa di Gorontalo. Reportase Franco Dengo.
Sedang memuat...0 Konten
Sedang memuat...0 Konten
Sedang memuat...0 Konten
Sedang memuat...0 Konten
Sedang memuat...0 Konten