Berpikirlah Positif, Sekali Lagi

Bankir - Mahasiswa MAPSI Soegijapranata Catholic University - Pemerhati Kesehatan Mental
·waktu baca 7 menit
Tulisan dari Franky Pabianus tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Belakangan ini berita-berita yang kurang mengenakan sering sekali kita dengar, dari mulai gempa, gunung meletus, karhutla, perang, dan kondisi ekonomi yang tidak mudah. Belum lagi berita mengenai layanan healing119 yang diakses 500 - 600 orang setiap hari mulai memaksa banyak orang untuk mulai berpikir dan mencerna kembali untuk bagaimana berpikiran positif.
Kalimat untuk "Berpikirlah Positif" mungkin pernah kita dengar, -sederhana, namun seringkali justru sulit untuk dilakukan. Kata ini seolah-olah disalahpahami sebagai kewajiban untuk dapat selalu berbahagia. Seolah-olah merasa sedih berarti kita sedang berpikir negatif. Seolah-olah menangis berarti kita kurang bersyukur. Seolah-olah mengakui bahwa hidup sedang berat merupakan tanda bahwa kita tidak cukup kuat.
Mungkin sudah saatnya kita untuk berpikir positif sekali lagi, namun dengan pemahaman yang berbeda dari sebelumnya. Bukan positif yang menolak kenyataan yang ada, melainkan positif yang dapat membantu kita menemukan alasan untuk tetap hidup, bertumbuh, dan menjalani hari.
Positif bukan berarti harus selalu bahagia
Ada persoalan dengan cara kita menggunakan kata “positif.”
Dalam percakapan sehari-hari, positif sering kali diterjemahkan menjadi bahagia, optimistis, tersenyum, dan tidak mengeluh. Akibatnya, ketika seseorang sedang mengalami kesedihan, kecemasan, kehilangan atau kekecewaan, respons yang muncul terkadang justru, “Jangan terlalu dipikirkan,” atau “Coba berpikir positif.” - padahal, seringkali orang tersebut tidak membutuhkan kalimat yang membuat masalahnya menghilang, tapi hanya membutuhkan seseorang yang berkata, “Saya mengerti bahwa ini memang berat.”
Pemikiran Carl Rogers dalam psikologi humanistik memberikan sudut pandang menarik mengenai hal tersebut. Rogers menempatkan manusia sebagai pribadi yang memiliki kapasitas untuk berkembang, dengan lingkungan yang mendukung melalui empati, keaslian, dan unconditional positive regard atau penerimaan positif tanpa syarat.
Penerimaan tanpa syarat bukan berarti membenarkan semua perilaku seseorang. Ia berarti memisahkan antara nilai seseorang sebagai manusia dan kesalahan atau persoalan yang sedang dialaminya.
Artinya, seseorang tetap berharga meskipun sedang gagal. Tetap berharga meskipun sedang menangis. Tetap berharga meskipun hari ini ia belum mampu menjadi versi terbaik dari dirinya.
Dalam perspektif Rogers, manusia justru membutuhkan ruang untuk mengenali pengalaman dirinya secara jujur. Ada konsep congruence, yaitu keselarasan antara pengalaman nyata, konsep diri, dan diri yang ingin diwujudkan. Ketika kehidupan nyata terlalu jauh dari gambaran tentang “seharusnya saya”, seseorang dapat mengalami ketidaksesuaian atau incongruence.
Maka, mungkin berpikir positif bukanlah mengatakan:
“Saya tidak boleh sedih.”
Melainkan:
“Saya sedang sedih, dan saya tetap bisa menerima diri saya.”
Kita tidak harus menyangkal kenyataan
Bayangkan seseorang baru saja kehilangan pekerjaan.
Kalimat “Berpikirlah positif” bisa terdengar seperti tuntutan untuk segera melihat sisi baiknya.
Padahal kehilangan pekerjaan tetaplah kehilangan pekerjaan. Ada tagihan yang harus dibayar. Ada keluarga yang perlu dipikirkan. Ada ketidakpastian mengenai masa depan.
Berpikir positif tidak akan mengubah fakta tersebut.
Namun, cara seseorang memaknai pengalaman itu dapat mengubah cara ia menjalani hari berikutnya.
“Saya gagal” berbeda dengan “Saya mengalami kegagalan.”
“Saya tidak berguna” berbeda dengan “Saat ini saya belum menemukan tempat yang sesuai.”
“Hidup saya selesai” berbeda dengan “Saya belum tahu bagaimana kelanjutannya.”
Perbedaannya dari beberapa kalimat tersebut terdapat pada ruang yang masih diberikan kepada diri sendiri untuk bertumbuh.
Di sinilah psikologi humanistik menjadi menarik. Rogers melihat manusia bukan sebagai sesuatu yang statis, melainkan sebagai pribadi yang terus berada dalam proses menjadi. Bahkan gagasan tentang good life dalam pemikiran Rogers lebih dekat dengan sebuah proses dan arah pertumbuhan daripada kondisi tetap yang harus selalu bahagia.
Dengan demikian, berpikir positif bukan tentang mendapatkan kehidupan yang sempurna, namun, berpikir positif memberikan kesempatan kepada diri sendiri bahwa kehidupan masih dapat berkembang.
Lalu, untuk apa kita bangun setiap pagi?
Pertanyaan tersebut membawa kita pada konsep ikigai.
Dalam buku Ikigai: The Japanese Secret to a Long and Happy Life, Héctor García dan Francesc Miralles memperkenalkan ikigai sebagai alasan untuk hidup atau alasan yang membuat seseorang memiliki dorongan untuk bangun pada pagi hari. Buku tersebut mengaitkan kebermaknaan dengan aktivitas, hubungan, keterlibatan, dan sesuatu yang membuat kehidupan terasa bernilai.
Ikigai menarik karena ia tidak selalu berbicara tentang sesuatu yang besar.
Alasan untuk bangun pagi tidak harus menjadi CEO.
Tidak harus memiliki kekayaan.
Tidak harus memiliki pekerjaan dengan jabatan tinggi.
Tidak harus pula mencapai sesuatu yang dikagumi banyak orang.
Bisa saja alasannya adalah anak yang menunggu di rumah.
Orang tua yang ingin kita temui.
Pekerjaan yang kita sukai.
Secangkir kopi di pagi hari.
Berkebun.
Menulis.
Bertemu teman.
Atau sekadar keinginan untuk mengetahui apa yang akan terjadi besok.
Sesuatu yang kecil tetap dapat memiliki makna
Dan mungkin di situlah kita sering keliru.
Kita mencari alasan besar untuk hidup, sementara alasan kecil sebenarnya sudah ada di sekitar kita.
Makna membuat kita memiliki alasan untuk terus berjalan
Ketika kehidupan terasa berat, kita sering kali bertanya, “Bagaimana supaya saya tidak merasa seperti ini?”
Mungkin pertanyaannya dapat digeser menjadi:
“Apa yang membuat saya tetap ingin menjalani hari ini?”
Pertanyaan kedua tidak mengharuskan kita langsung bahagia.
Ia hanya meminta kita menemukan satu alasan.
Dalam buku Ikigai, para penulis menggambarkan bagaimana orang-orang di Okinawa yang mereka temui memiliki aktivitas, hubungan sosial, dan keterlibatan dalam kehidupan sehari-hari yang memberi mereka rasa tujuan. Ikigai digambarkan sebagai sesuatu yang memberikan kepuasan, kebahagiaan, dan makna.
Ini bukan berarti seseorang yang memiliki ikigai akan terbebas dari kesedihan.
Justru, kebermaknaan dapat menjadi sesuatu yang membantu seseorang tetap memiliki arah ketika hidup tidak berjalan sesuai harapan.
Di sinilah ikigai dan Carl Rogers dapat dipertemukan.
Rogers mengajarkan kita untuk menerima siapa diri kita dan pengalaman yang sedang kita jalani.
Ikigai mengajak kita bertanya apa yang membuat hidup kita memiliki arti.
Yang satu membawa kita kepada penerimaan diri.
Yang lainnya membawa kita kepada kebermaknaan.
Keduanya tidak mengharuskan kita menjadi manusia yang selalu bahagia.
Mungkin kita perlu mendefinisikan ulang “positif.”
Mungkin sudah waktunya kita berhenti menggunakan berpikir positif sebagai kalimat untuk membungkam kesedihan.
Ketika seseorang menangis, kita tidak selalu harus mengatakan, “Jangan menangis.”
Mungkin kita dapat mengatakan, “Tidak apa-apa kalau hari ini kamu menangis.”
Ketika seseorang gagal, kita tidak harus segera berkata, “Pasti ada hikmahnya.”
Mungkin kita cukup mengatakan, “Kegagalan ini memang menyakitkan. Mari kita lihat pelan-pelan apa yang bisa dilakukan berikutnya.”
Dan ketika seseorang berkata, “Saya sedang tidak baik-baik saja,” mungkin respons yang paling manusiawi bukanlah memintanya segera menjadi positif.
Melainkan:
“Saya ada di sini. Ceritakan.”
Sebab dalam pemikiran Rogers, empati dan penerimaan bukan sekadar kata-kata manis. Keduanya merupakan bagian penting dari kondisi hubungan yang mendukung proses pertumbuhan seseorang.
Mungkin itulah bentuk berpikir positif yang lebih dewasa.
Bukan memaksa diri melihat semuanya indah.
Bukan menolak berita buruk.
Bukan berpura-pura bahwa kondisi ekonomi baik-baik saja.
Bukan pula mengatakan bahwa semua masalah akan selesai dengan sendirinya.
Tetapi mampu berkata:
“Saya melihat kenyataan ini. Saya mengakui bahwa ini berat. Saya boleh merasa sedih. Tetapi saya belum selesai.”
Berpikirlah positif, sekali lagi
Kita tidak bisa mengendalikan apakah besok akan terjadi gempa, kebakaran hutan, perang, tekanan ekonomi, atau berita lain yang membuat kita kembali khawatir.
Kita juga tidak dapat menghilangkan seluruh persoalan psikologis hanya dengan berpikir positif.
Namun, kita masih dapat memiliki hubungan yang berbeda dengan diri sendiri.
Kita dapat belajar menerima bahwa menjadi manusia berarti mengalami berbagai emosi.
Kita dapat mencari orang yang membuat kita merasa didengar.
Kita dapat mencari bantuan ketika beban terasa terlalu berat.
Dan kita dapat mulai mencari kembali apa yang membuat kehidupan kita memiliki arti.
Mungkin itu keluarga.
Mungkin pekerjaan.
Mungkin belajar.
Mungkin membantu orang lain.
Mungkin karya yang sedang kita bangun.
Atau mungkin, untuk sementara, alasannya sangat sederhana:
hari ini kita ingin mencoba sekali lagi.
Sebab berpikir positif bukan berarti percaya bahwa hidup akan selalu baik-baik saja.
Berpikir positif adalah kemampuan untuk melihat bahwa meskipun hidup tidak selalu baik-baik saja, masih ada kemungkinan untuk bertumbuh di dalamnya.
Dan mungkin, di tengah dunia yang semakin ramai dengan berita buruk, tuntutan hidup, dan ketidakpastian, kita memang perlu mendengar kalimat itu sekali lagi.
Bukan sebagai perintah.
Bukan sebagai penyangkalan.
Tetapi sebagai sebuah pilihan:
Berpikirlah positif, sekali lagi.
Bukan karena hidup selalu mudah, tetapi karena hidup masih memiliki makna untuk dijalani.
