Konten dari Pengguna

Tekanan Ekonomi dan Kesehatan Mental

google
Tambah ke Prefensi Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Franky Pabianus tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Tekanan Ekonomi. Sumber: ChatGPT
zoom-in-whitePerbesar
Tekanan Ekonomi. Sumber: ChatGPT

Belakangan ini, masyarakat Indonesia menghadapi berbagai tekanan ekonomi yang datang silih berganti. Nilai tukar rupiah yang mengalami pelemahan terhadap dolar AS, dan terakhir kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) yang baru saja terjadi, sehingga dapat menimbulkan kenaikan harga kebutuhan pokok kedepannya sehingga akan menciptakan ketidakpastian dalam kehidupan sehari-hari. Bagi banyak orang, kondisi ini bukan hanya persoalan ekonomi, tetapi juga persoalan kesehatan mental.

Ketika biaya hidup meningkat sementara pendapatan relatif stagnan, banyak individu mulai merasakan kekhawatiran berlebihan terkait kondisi keuangan mereka. Fenomena ini dikenal sebagai financial anxiety atau kecemasan finansial.

Ketidakpastian Ekonomi dan Tekanan Psikologis

Dalam ilmu psikologi, manusia memiliki kebutuhan dasar akan rasa aman (sense of security). Ketika kondisi ekonomi tidak stabil, rasa aman tersebut dapat terganggu.

Kondisi tersebut dapat memunculkan berbagai reaksi psikologis, seperti:

• Khawatir berlebihan tentang tagihan bulanan.

• Sulit tidur karena memikirkan kondisi keuangan.

• Merasa cemas setiap kali menerima notifikasi transaksi atau tagihan.

• Menunda pemeriksaan kesehatan atau kebutuhan penting karena takut mengeluarkan uang.

• Konflik dalam keluarga terkait pengelolaan keuangan.

Berbagai penelitian menunjukkan bahwa tekanan finansial berkaitan dengan meningkatnya risiko stres, kecemasan, depresi, dan menurunnya kesejahteraan psikologis. Studi yang dipublikasikan dalam jurnal Frontiers in Psychology menemukan bahwa ketidakamanan ekonomi memiliki hubungan signifikan dengan meningkatnya gejala kecemasan dan depresi. Penelitian lain dari American Psychological Association juga secara konsisten menunjukkan bahwa uang dan kondisi ekonomi merupakan salah satu sumber stres terbesar bagi masyarakat.

Mengenal Financial Anxiety

Financial anxiety adalah kondisi ketika seseorang mengalami ketakutan, kekhawatiran, atau stres yang berkaitan dengan kondisi keuangan saat ini maupun masa depan.

Contohnya dapat terlihat dengan mudah dalam kehidupan sehari-hari seperti seorang pekerja muda yang mulai cemas setiap kali harga kebutuhan pokok naik dan membayangkan kemungkinan kehilangan pekerjaan dan tidak mampu membayarkan kebutuhan-kebutuhan kedepannya, hal lainnya adalah seseorang yang mudah marah, sulit tidur akibat memikirkan kondisi ekonomi keluarga karena biaya-biaya yang mengalami kenaikan. Dalam kondisi tertentu, kecemasan finansial dapat berkembang menjadi gangguan psikologis yang lebih serius apabila tidak ditangani dengan baik.

Perspektif Bronfenbrenner: Kesehatan Mental Bukan Hanya Urusan Individu

Sering kali kesehatan mental dipandang sebagai tanggung jawab individu semata. Namun, pandangan ini tidak sepenuhnya tepat.

Menurut Urie Bronfenbrenner melalui Ecological Systems Theory, perkembangan dan kesejahteraan individu dipengaruhi oleh berbagai lapisan lingkungan sosial yang saling berinteraksi.

Teori ini menjelaskan bahwa individu hidup dalam beberapa sistem:

1. Mikrosistem: keluarga, teman, tempat kerja.

2. Mesosistem: hubungan antarlingkungan, misalnya hubungan keluarga dengan sekolah atau tempat kerja.

3. Eksosistem: kebijakan institusi, kondisi ekonomi, media.

4. Makrosistem: budaya, nilai sosial, kebijakan negara.

5. Kronosistem: perubahan kondisi sosial dan ekonomi sepanjang waktu.

Dalam konteks ketidakpastian ekonomi, pemerintah memiliki peran penting karena kebijakan ekonomi berada pada level eksosistem dan makrosistem yang secara langsung maupun tidak langsung memengaruhi kesejahteraan psikologis masyarakat.

Artinya, kesehatan mental masyarakat tidak hanya bergantung pada kemampuan individu mengelola stres, tetapi juga pada keberadaan kebijakan publik yang mampu menciptakan rasa aman, perlindungan sosial, stabilitas ekonomi, akses layanan kesehatan mental, dan kesempatan kerja yang layak.

Dengan kata lain, ketika masyarakat mengalami tekanan akibat kenaikan biaya hidup, respons yang dibutuhkan tidak hanya berupa edukasi kesehatan mental, tetapi juga kebijakan yang mendukung kesejahteraan ekonomi rakyat.

Cara Mengatasi Financial Anxiety dari Sisi Keuangan

Meskipun faktor ekonomi makro tidak sepenuhnya dapat dikendalikan oleh individu, ada beberapa langkah yang dapat dilakukan untuk meningkatkan rasa kontrol terhadap kondisi keuangan.

1. Memetakan Pengeluaran

Langkah pertama adalah mencatat seluruh pengeluaran selama satu bulan. Banyak orang merasa kondisi keuangannya tidak terkendali karena tidak mengetahui secara pasti ke mana uang mereka digunakan.

2. Memprioritaskan Kebutuhan Esensial

Fokuskan anggaran pada kebutuhan primer seperti:

• Makanan

• Tempat tinggal

• Transportasi

• Pendidikan

• Kesehatan

Sementara itu, kebutuhan tersier dapat ditunda sementara hingga kondisi keuangan lebih stabil.

3. Mengurangi Pengeluaran yang Tidak Mendesak

Beberapa pengeluaran yang dapat dievaluasi antara lain:

• Langganan digital yang jarang digunakan.

• Pembelian impulsif melalui e-commerce.

• Makan di luar secara berlebihan.

• Gaya hidup yang bertujuan mengikuti tren sosial.

4. Menyiapkan Dana Darurat

Dana darurat membantu mengurangi kecemasan karena memberikan rasa aman ketika menghadapi situasi tak terduga.

Idealnya:

• 3–6 bulan pengeluaran bagi individu lajang.

• 6–12 bulan pengeluaran bagi mereka yang memiliki tanggungan keluarga.

5. Mencari Sumber Pendapatan Tambahan

Di era digital, peluang pendapatan tambahan semakin beragam, seperti:

• Freelance.

• Konsultasi sesuai keahlian.

• Mengajar daring.

• Menjual produk atau jasa secara online.

• Menjadi kreator konten profesional.

Pendapatan tambahan tidak hanya meningkatkan kondisi finansial, tetapi juga dapat meningkatkan rasa kompetensi dan kontrol diri.

Cara Mengatasi Financial Anxiety dari Sisi Psikologi

Selain mengelola keuangan, penting untuk mengelola respons psikologis terhadap tekanan ekonomi. Salah satu teknik yang dapat dipergunakan adalah Psychological First Aid atau yang sering dikenal sebagai PFA. Psychological First Aid merupakan pendekatan dukungan psikologis awal yang bertujuan membantu individu kembali merasa aman, tenang, dan mampu menghadapi situasi sulit.

Prinsip utamanya meliputi:

• Menciptakan rasa aman.

• Menenangkan emosi.

• Menghubungkan dengan dukungan sosial.

• Membantu individu mengakses sumber daya yang dibutuhkan.

1. Teknik Grounding 5-4-3-2-1

Ketika pikiran dipenuhi kekhawatiran tentang masa depan, teknik grounding dapat membantu mengembalikan fokus pada kondisi saat ini.

Coba identifikasi:

• 5 hal yang dapat dilihat.

• 4 hal yang dapat disentuh.

• 3 hal yang dapat didengar.

• 2 hal yang dapat dicium.

• 1 hal yang dapat dirasakan.

Teknik ini membantu menurunkan intensitas kecemasan secara cepat.

2. Latihan Pernapasan

Ketika cemas, tubuh masuk ke kondisi siaga sehingga napas menjadi lebih cepat dan dangkal.

Cobalah pola pernapasan sederhana:

• Tarik napas selama 4 detik.

• Tahan 4 detik.

• Hembuskan perlahan selama 6 detik.

• Ulangi selama 3–5 menit.

Latihan ini membantu mengaktifkan sistem saraf parasimpatis yang berperan dalam proses relaksasi.

3. Membatasi Paparan Informasi yang Memicu Kecemasan

Mengikuti berita ekonomi penting, tetapi paparan informasi negatif secara berlebihan dapat memperburuk kecemasan.

Tetapkan waktu khusus untuk membaca berita dan hindari memantau informasi ekonomi sepanjang hari.

4. Memanfaatkan Dukungan Sosial

Berbicara dengan pasangan, keluarga, teman, atau profesional kesehatan mental dapat membantu mengurangi beban psikologis.

Penelitian menunjukkan bahwa dukungan sosial merupakan salah satu faktor pelindung utama terhadap stres dan depresi.

Penutup

Ketidakpastian ekonomi merupakan tantangan nyata yang dapat berdampak pada kesehatan mental masyarakat. Kenaikan harga, pelemahan daya beli, dan kekhawatiran terhadap masa depan dapat memicu financial anxiety yang mengganggu kualitas hidup.

Namun, penting untuk memahami bahwa kesehatan mental bukan hanya tanggung jawab individu. Mengacu pada teori Bronfenbrenner, kesejahteraan psikologis juga dipengaruhi oleh lingkungan sosial dan kebijakan yang lebih luas. Oleh karena itu, upaya menjaga kesehatan mental perlu dilakukan secara bersama-sama, baik melalui pengelolaan keuangan yang bijak, keterampilan psikologis yang adaptif, dukungan sosial yang kuat, maupun kebijakan publik yang mampu memberikan rasa aman bagi masyarakat.

Ketika ekonomi sedang tidak pasti, menjaga kesehatan mental bukanlah kemewahan, melainkan kebutuhan yang sama pentingnya dengan menjaga kondisi finansial itu sendiri.