Konten dari Pengguna

Bukan Negara, Tapi Berdaya: Posisi Tawar Greenpeace dalam Politik Internasional

Fransiska Jeklin

Fransiska Jeklin

Hubungan Internasional (Universitas Cenderawasih)

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Fransiska Jeklin tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Transnasionalisme Dalam Politik Dunia

illutrasi Greenpeace (Foto: Fransiska/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
illutrasi Greenpeace (Foto: Fransiska/kumparan)

Dalam paradigma klasik hubungan internasional, hanya negara yang dianggap sebagai aktor utama. Namun, dunia saat ini memperlihatkan dinamika yang jauh lebih kompleks. Organisasi non-pemerintah (NGO) seperti Greenpeace membuktikan bahwa kekuatan politik tidak hanya dimiliki oleh negara. Saya berpandangan bahwa Greenpeace, meskipun bukan aktor negara, memiliki posisi tawar yang signifikan dalam politik internasional—terutama dalam isu lingkungan global.

Greenpeace sebagai Aktor Global

Greenpeace adalah NGO internasional yang dikenal dengan aksi-aksi langsungnya dalam isu perubahan iklim, kehutanan, energi, dan kelautan. Meskipun tidak memiliki kekuatan koersif seperti negara, Greenpeace mampu mempengaruhi kebijakan publik dan bahkan keputusan pemerintah melalui strategi kampanye global yang terorganisir. Contohnya, kampanye mereka berhasil mendorong perusahaan besar seperti Nestlé, Unilever, dan McDonald’s untuk memperbaiki rantai pasokan mereka agar lebih ramah lingkungan (Greenpeace Indonesia, 2021).

Kekuatan Greenpeace terletak pada kemampuannya membentuk opini publik global. Dengan memanfaatkan media dan teknologi informasi, Greenpeace mampu menciptakan tekanan moral terhadap negara dan korporasi. Dalam studi hubungan internasional kontemporer, ini disebut sebagai soft power—kemampuan memengaruhi tanpa paksaan.

Mengganggu Status Quo Politik

Dalam banyak kasus, Greenpeace bahkan dianggap sebagai gangguan oleh negara-negara besar. Misalnya, kapal Rainbow Warrior milik Greenpeace pernah disabotase oleh agen intelijen Prancis karena mengganggu uji coba nuklir di Pasifik Selatan. Ini menunjukkan bahwa keberadaan Greenpeace cukup kuat hingga dianggap sebagai ancaman oleh negara.

Greenpeace juga aktif dalam diplomasi iklim, menghadiri konferensi internasional seperti COP (Conference of the Parties) dan mengadvokasi perjanjian lingkungan global. Dalam hal ini, mereka bukan hanya pengamat, tetapi juga pemain aktif dalam membentuk norma internasional.

Tantangan dan Legitimasi

Namun, posisi Greenpeace tidak selalu mulus. Mereka sering dituduh terlalu radikal atau mengganggu stabilitas ekonomi. Beberapa pemerintah menyebut mereka “anti-pembangunan” karena menolak eksploitasi sumber daya alam dalam bentuk apa pun. Di sinilah letak dilema antara kepentingan ekonomi negara dan prinsip keberlanjutan yang dibawa oleh Greenpeace.

Meski begitu, saya menilai keberanian dan konsistensi Greenpeace menjadi contoh penting tentang bagaimana suara masyarakat sipil global bisa masuk ke arena diplomasi internasional. Dalam konteks demokrasi global, ini adalah perkembangan yang sehat dan perlu terus diperkuat.

Kesimpulan

Greenpeace membuktikan bahwa aktor non-negara bisa memiliki pengaruh besar dalam hubungan internasional. Mereka berhasil mengangkat isu lingkungan ke panggung global, menekan negara dan perusahaan, serta membentuk kesadaran kolektif. Dunia internasional harus mengakui bahwa kekuasaan tidak lagi monopoli negara. Justru dalam isu-isu global seperti perubahan iklim, suara-suara dari organisasi seperti Greenpeace menjadi semakin penting. Mereka bukan negara, tapi sangat berdaya.

Oleh : Fransiska Jeklin Orambe

Referensi

Greenpeace Indonesia. (2021). Laporan Tahunan Greenpeace Indonesia. Diakses dari: https://www.greenpeace.org/indonesia/

Rachman, F. (2022). “Peran NGO dalam Diplomasi Iklim Global.” Jurnal Politik Global, 7(2), 110–123.

Nugroho, D. (2020). Aktivisme Lingkungan dan Tantangan Global. Yogyakarta: Pustaka Ilmu.

Tempo.co. (2018, 10 Desember). Greenpeace Sebut Pemerintah Gagal Lindungi Hutan Indonesia.