Mengapa Membaca Buku Semakin Sulit bagi Remaja?

S1 Teknik Informatika Universitas Gunadarma. S2 Teknologi Pendidikan Universitas Pelita Harapan. Pendidik di Perkumpulan Strada
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Fransiskus Tri Wasono tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Ada Apa dengan Generasi Sekarang?

Mengapa semakin banyak remaja yang mampu menghabiskan waktu berjam-jam menonton video atau mendengarkan musik, tetapi merasa berat membaca beberapa halaman buku? Mengapa tugas membaca di kelas sering dianggap membosankan, sementara informasi yang muncul di media sosial dapat dikonsumsi tanpa terasa? Pertanyaan-pertanyaan ini menjadi keresahan banyak guru dan orang tua dalam kehidupan sehari-hari. Di ruang kelas, guru sering menjumpai siswa yang antusias ketika membahas konten viral, tetapi kesulitan mempertahankan fokus saat diminta membaca sebuah bacaan yang panjang. Apakah minat membaca remaja benar-benar menurun, atau justru lingkungan yang berubah membuat kebiasaan membaca menjadi semakin sulit?
Musuh Itu Bernama Distraksi
Dalam kehidupan sehari-hari, remaja hidup di tengah banjir informasi. Notifikasi media sosial, video pendek, gim daring, dan berbagai bentuk hiburan digital hadir tanpa henti. Akibatnya, perhatian mereka terbiasa berpindah dengan cepat dari satu hal ke hal lainnya.
Di kelas, guru sering mendapati siswa yang tampak sulit berkonsentrasi ketika membaca teks yang panjang. Mereka terbiasa memperoleh informasi dalam bentuk gambar, video, atau potongan informasi singkat. Membaca buku yang membutuhkan fokus dan kesabaran akhirnya terasa seperti aktivitas yang melelahkan.
Persoalannya bukan karena remaja tidak mampu membaca, melainkan karena lingkungan digital telah membentuk pola perhatian yang berbeda dari generasi sebelumnya.
Bukan Sekadar Malas
Banyak orang langsung menyimpulkan bahwa remaja saat ini malas membaca. Padahal, persoalannya jauh lebih kompleks daripada sekadar kemalasan.
Sebagian siswa sebenarnya mampu membaca ratusan komentar di media sosial, mengikuti alur cerita dalam serial favorit, bahkan menghabiskan waktu berjam-jam mencari informasi di internet. Hal ini menunjukkan bahwa kemampuan membaca masih ada, tetapi bentuk dan medianya telah berubah.
Sayangnya, kebiasaan membaca yang bersifat cepat dan dangkal membuat kemampuan memahami bacaan panjang menjadi semakin berkurang. Akibatnya, guru sering menghadapi siswa yang mampu menemukan jawaban secara instan, tetapi kesulitan memahami isi bacaan secara mendalam.
Buku Mulai Kehilangan Pesaingnya
Dahulu, buku merupakan salah satu sumber hiburan utama. Kini, buku harus bersaing dengan media sosial, layanan streaming, video pendek, podcast, dan berbagai aplikasi digital lainnya.
Bagi sebagian remaja, membaca buku dianggap membutuhkan usaha yang lebih besar dibandingkan menonton video berdurasi satu menit. Otak manusia cenderung memilih sesuatu yang memberikan kesenangan secara cepat. Inilah yang membuat budaya instan semakin mendominasi.
Di sisi lain, kemudahan memperoleh informasi melalui internet memang memiliki kelebihan. Siswa dapat belajar dari berbagai sumber dan memperoleh pengetahuan secara lebih cepat. Namun, jika tidak diimbangi dengan kebiasaan membaca yang mendalam, kemampuan berpikir kritis dan memahami konteks dapat ikut melemah.
Guru Menghadapi Dilema
Dalam kehidupan sehari-hari di sekolah, guru sering berada dalam posisi yang tidak mudah. Di satu sisi, guru ingin membiasakan siswa membaca buku. Di sisi lain, guru juga harus menyesuaikan diri dengan karakteristik peserta didik yang tumbuh di era digital.
Tidak sedikit guru yang mengeluhkan rendahnya minat membaca siswa. Namun, ada pula guru yang mulai beradaptasi dengan menghadirkan pembelajaran yang lebih menarik, seperti diskusi kelompok, membaca bersama, pemanfaatan buku digital, hingga proyek berbasis literasi.
Dilema ini menunjukkan bahwa tantangan membaca bukan hanya persoalan siswa, tetapi juga berkaitan dengan strategi pembelajaran yang digunakan di kelas.
Fasilitas Belum Merata
Kebiasaan membaca juga dipengaruhi oleh ketersediaan sumber daya pendukung. Tidak semua sekolah memiliki perpustakaan yang nyaman, koleksi buku yang menarik, atau akses terhadap bahan bacaan digital.
Dalam beberapa kasus, siswa lebih mudah menemukan konten hiburan di internet dibandingkan menemukan buku yang sesuai dengan minat mereka. Bahkan, ada sekolah yang memiliki perpustakaan tetapi jarang dimanfaatkan karena kurang menarik bagi peserta didik.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa budaya membaca tidak dapat tumbuh hanya dengan imbauan. Lingkungan yang mendukung juga menjadi faktor penting.
Ada Pro dan Kontra
Sebagian orang berpendapat bahwa teknologi menjadi penyebab utama menurunnya minat membaca. Namun, ada pula yang melihat teknologi sebagai peluang untuk memperluas akses literasi.
Pendapat pertama memiliki alasan yang kuat karena media digital memang sering memecah konsentrasi. Sementara itu, kelompok yang mendukung pemanfaatan teknologi berpendapat bahwa buku elektronik, platform membaca digital, dan audiobooks justru dapat mendekatkan remaja dengan dunia literasi.
Kedua pandangan tersebut tidak sepenuhnya salah. Teknologi dapat menjadi ancaman sekaligus peluang, tergantung bagaimana cara memanfaatkannya.
Membaca Harus Diubah
Membiasakan remaja membaca tidak dapat dilakukan dengan paksaan. Membaca perlu diperkenalkan sebagai aktivitas yang menyenangkan dan relevan dengan kehidupan mereka.
Guru dapat memulai dari bacaan yang dekat dengan minat siswa. Orang tua dapat memberikan teladan dengan membangun budaya membaca di rumah. Sekolah dapat menciptakan ruang literasi yang lebih menarik dan tidak hanya menjadikan membaca sebagai kewajiban akademik.
Pembelajaran di kelas juga dapat diubah dari sekadar membaca untuk menjawab soal menjadi membaca untuk berdiskusi, berpendapat, dan memecahkan masalah.
Dengan demikian, siswa tidak melihat membaca sebagai beban, tetapi sebagai sarana untuk memahami dunia di sekitarnya.
Literasi Bukan Sekadar Buku
Di era digital, definisi literasi telah berkembang. Literasi tidak lagi terbatas pada kemampuan membaca buku cetak, tetapi juga mencakup kemampuan memahami informasi, mengevaluasi kebenaran, dan berpikir secara kritis.
Namun, perubahan tersebut tidak berarti bahwa buku kehilangan perannya. Justru kemampuan membaca secara mendalam menjadi semakin penting ketika informasi yang beredar semakin banyak dan tidak semuanya dapat dipercaya.
Guru memiliki peran penting dalam membantu siswa membangun kemampuan tersebut. Sekolah bukan hanya tempat mengajarkan cara membaca, tetapi juga tempat melatih cara berpikir.
Jangan Menyalahkan Remaja
Menurunnya kebiasaan membaca pada remaja tidak dapat disederhanakan sebagai masalah kemalasan. Ada perubahan budaya, perkembangan teknologi, lingkungan yang kurang mendukung, hingga strategi pembelajaran yang perlu diperhatikan bersama.
Budaya membaca sering kali hanya dibebankan kepada siswa. Padahal, guru, orang tua, sekolah, pemerintah, dan masyarakat memiliki tanggung jawab yang sama besar dalam membangun ekosistem literasi.
Membaca buku memang menjadi semakin sulit bagi remaja, tetapi bukan berarti kebiasaan tersebut tidak dapat dibangun kembali. Yang diperlukan bukan sekadar tuntutan untuk membaca lebih banyak, melainkan lingkungan yang mampu membuat membaca terasa bermakna.
Pada akhirnya, tujuan literasi bukanlah menghasilkan siswa yang mampu menghafal isi buku, melainkan melahirkan generasi yang mampu memahami, berpikir kritis, dan menggunakan pengetahuan untuk menghadapi berbagai persoalan kehidupan.
