Konten dari Pengguna

Mengubah FOMO Menjadi Pondasi: Wajah Baru Pasar Modal di Tangan Gen Z

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Frastian Yeskia Renaldi Lumban Tobing tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi generasi muda belajar investasi di pasar modal. Sumber : gemini.google.com
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi generasi muda belajar investasi di pasar modal. Sumber : gemini.google.com

Oleh : Frastian Yeskia Renaldi Lumban Tobing

Kalau kamu sempat mengamati ekonomi Indonesia dalam beberapa tahun terakhir, ada satu pemandangan yang paling mencolok: anak-anak muda dan Gen Z sekarang mendadak hobi ngobrolin saham, reksa dana, sampai instrumen investasi digital. Nongkrong di kafe, nimbrung di grup WhatsApp keluarga, atau sekadar scrolling linimasa TikTok dan X (Twitter), bahasannya nggak jauh-jauh dari portofolio, cuan, dan cut loss. Topik seputar pasar modal yang dulu rasanya cuma jadi monopoli om-om berdasi di kawasan bisnis, sekarang sudah sangat akrab di telinga anak muda.

kumparan post embed

Lonjakan jumlah investor ritel yang didominasi Gen Z dan Milenial ini tentu jadi angin segar buat ekonomi nasional. Pertumbuhannya masif banget. Berkat aplikasi investasi yang user-friendly, modal awal yang ramah di kantong, serta derasnya arus informasi di media sosial, tembok tebal yang dulunya bikin pasar modal kelihatan "ngeri" dan berjarak akhirnya runtuh juga.

Tapi, di balik grafik hijau dan euforia pertumbuhan ini, ada realitas di lapangan yang harus kita tengok dengan kepala dingin.

Strategi Menjaga Ketahanan Berinvestasi bagi Investor Muda

Ilustrasi: Yang terjadi pada emiten saat di pump and dump (pompom). Sumber: https://encrypted-tbn0.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcTesfgD9PUvuuh-Wswlz3eYFPlzI5FD9MyweGGY2q6wNA&s=10

Harus diakui, langkah pertama banyak anak muda terjun ke pasar modal sering kali bukan karena riset mendalam, melainkan dipicu Fear of Missing Out (FOMO) alias takut ketinggalan kereta, atau termakan konten-konten financial influencer di medsos. Waktu pasar lagi bullish alias hijau semua, investasi rasanya gampang banget dan uang kayaknya gampang datang sendiri.

embed from external kumparan

Masalah baru datang ketika arah angin berubah, atau waktu ada oknum yang sengaja memanfaatkan kepolosan investor pemula. Contoh paling nyata bisa kita lihat dari kasus sanksi denda administratif sebesar Rp5,35 miliar yang dijatuhkan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) kepada seorang influencer pasar modal akibat dugaan manipulasi harga saham—atau yang biasa kita kenal sebagai pump and dump alias aksi "pom-pom". Modusnya memanfaatkan massa pengikut di media sosial buat memicu panic buying, sementara si oknum meraup untung pribadi di atas penderitaan orang lain. Ini tamparan keras: di balik rekomendasi yang kelihatannya manis, ada risiko jebakan batman.

Akibat minim literasi, banyak pemula akhirnya nyangkut di pucuk (buying at the top), lalu panik pas harganya diguyur turun dan buru-buru jual rugi (panic selling).

Di sinilah PR utamanya. Tantangan pasar modal kita hari ini bukan lagi sekadar gimana cara nambah jutaan akun baru, tapi bagaimana caranya agar mereka bisa bertahan hidup dan enggak jadi korban di pasar.

Maraton Panjang, Bukan Sekadar Cari Cuan Cepat

Dokumentasi Seminar Pasar Modal Universitas Pamulang. Sumber: https://www.youtube.com/live/H_ayOO95SwQ?si=RRSTD46D7ZG-rzFe

Investasi itu sebenarnya bukan ajang adu cepat buat jadi kaya dalam semalam, melainkan lari maraton panjang yang butuh kedisiplinan dan mental baja. Biar semangat anak muda enggak berujung jadi trauma finansial, ada beberapa prinsip dasar yang wajib dipegang:

  • Kenali Batas dan Profil Risiko: Ingat, enggak ada satu instrumen yang cocok untuk semua orang. Paham seberapa besar toleransi risiko diri sendiri dan pintar-pintar membagi porsi (alokasi aset), misalnya memecah dana ke saham blue-chip, reksa dana, sampai SBN adalah penyelamat utama saat pasar lagi beralih badai.

  • Pegang Teguh Prinsip "Uang Dingin": Pakai uang yang kalaupun hilang atau nyangkut, tidak akan mengganggu jatah makan harian, cicilan, apalagi dana darurat. Jangan pernah nekat modal investasi pakai uang pinjol atau uang operasional bulanan. Dijamin, ujung-ujungnya malah bikin stres dan ambil keputusan emosional.

  • Pahami Esensi Bisnisnya: Harga saham naik-turun dalam jangka panjang itu sangat dipengaruhi oleh kinerja perusahaan di baliknya. Keputusan beli saham idealnya lahir dari analisis laporan keuangan, cash flow, dan prospek bisnis yang sehat, bukan cuma karena tergiur screenshot portofolio hijau milik orang lain di grup telegram.

Gotong Royong Ekosistem dan Peran Regulator

Chart Grafik. Sumber: https://img.idxchannel.com/media/700/images/idx/2023/09/19/3_Jenis_Grafik_Saham.jpg

Tentu saja, beban edukasi ini enggak bisa dibebankan 100% ke pundak investor muda saja. Langkah tegas OJK yang aktif menindak kasus manipulasi pasar dan mulai merumuskan aturan main khusus buat para finfluencer patut kita acungi jempol.

Di sisi lain, regulator dan pelaku industri harus terus memperkuat perlindungan konsumen, membasmi investasi bodong, serta menyajikan edukasi yang tidak cuma asyik dipandang mata secara visual, tapi juga padat substansi.

Kalau pasar modal kita disokong oleh investor domestik yang mentalnya matang dan punya literasi tinggi, ekonomi Indonesia otomatis bakal punya antibodi yang kuat dalam menghadapi gejolak global.

Kehadiran generasi muda di pasar modal adalah aset sosial yang luar biasa. Tugas kita bersama adalah memastikan keberanian mereka melangkah diiringi dengan literasi yang solid dan ketahanan mental yang kokoh.

Sebab, ketika literasi keuangan sukses mengimbangi laju digitalisasi, anak muda Indonesia bukan cuma jadi penonton atau penasihat musiman di panggung ekonomi, tapi benar-benar memegang kendali atas masa depan finansial bangsa ini.