Generasi Kebaya: Bebas Ekspresi Tanpa Batas di Pesta Folka Vol. 2

Mahasiswa Aktif Program Studi Ilmu Komunikasi UBM
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Fredella Phoebe tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Urban Forest, Cipete, Jakarta Selatan di akhir Agustus 2026, tepatnya pada tanggal 29-30 Agustus 2026 menjadi lautan kebaya dan wastra lewat gelaran Pesta Folka Vol. 2. Bukan hanya festival kebaya biasa, tapi Urban Forest Cipete berubah menjadi "reuni besar" bagi siapa saja yang rindu akan merayakan budaya dengan cara yang lebih santai, playful dan jauh dari kata "kaku".
Festival yang mengusung tema "Generasi Berkebaya" ini digagas oleh PT Folkakomunal Kreasi Budaya. Ribuan pengunjung datang silih berganti selama dua hari, ditambah lebih dari 120 tenant UMKM dan brand lokal yang turut meramaikan suasana.
Kenapa Festival Ini Ada?
Di sela acara, aku sempat mendengar langsung cerita dari Sarah Tobing, selaku Direktur Pesta Folka, soal ide besar di balik festival ini. Ia (Sarah Tobing) merasa perlu ada gerakan nyata yang bisa menghidupkan kembali budaya dan warisan bangsa, terutaa lewat keterlibatan Gen Z. Kebaya dan wastra bukan lagi hanya dapat digunakan saat acara-acara seremonial tertentu, namun dengan anak muda ikut menjaga identitas bangsa, mereka bisa memadukan kebaya dan wastra dengan gaya keseharian mereka.
Kebaya, Musik, dan Ramainya Urban Forest
Salah satu spot favoritku sepanjang acara adalah Free Kebaya Styling Station. Di sini, siapa pun bebas bereksperimen memadupadankan kebaya dan wastra sesaui dengan gaya masing-masing, ditemani langsung oleh tim styling yang standby membantu. Belum lagi panggung musik live yang tampil bergantian sepanjang dua hari, bikin banyak orang betah berlama-lama nongkrong di area festival.
Ada juga Workshop Jamu Lab, tempat pengunjung bisa langsung belajar meracik jamu sendiri. Sore harinya pun semakin meriah dengan penampilan Mbok Jamu Party yang dilanjut dengan sesi “ngejamu” bareng, plus penampilan tari Tortor yang menambah warna budaya di sore itu. Oh iya, ada juga 20 aktivitas kreatif gratis, mulai dari melukis batik sampai berburu cap batik gratis, tanpa biaya sepersen pun.
Nonton Bareng “Jalan Pulang” dan Ngobrol Bareng Sharon Silania
Salah satu momen yang menurutku paling berkesan adalah kolaborasi Pesta Folka dengan Indonesia Kaya lewat pemutaran film pendek budaya berjudul “Jalan Pulang”’. Setelah filmya selesai, ada sesi diskusi interaktif bareng Sharon Silania, salah satu pemeran utamanya. Ia berbagi cerita di balik layar sekaligus menekankan betapa pentingnya kebaya harus terus dijaga sebagai bagian dari identitas budaya kita.
Masuk ke hari kedua, semangat pengunjung pun tidak kunjung surut. Malah semakin dinanti-nanti, apalagi dengan adanya penampilan panggung musik live, penampilan tari tradisional, hingga penampilan spesial dari Societeit de Harmonie yang turut memeriahkan panggung.
Lebih dari Sekadar Festival
Kalau dipikir-pikir, apa yang dibangun oleh PT Folkakomunal Kreasi Budaya lewat Pesta Folka ini bukan cuma soal pameran atau hiburan semata. Di bawah arahan Sarah Tobing, festival ini terasa seperti ruang temu, tempat kreaqtivitas, budaya, dan pasar bertemu untuk anak muda Indonesia. Kolaborasi dengan berbagai UMKM, brand lokal, hingga Indonesia Kaya juga menunjukkan bahwa upaya melestarikan kebaya dan wastra ini nggak dijalankan sendirian, tapi dibangun bersama-sama sebagai ekosistem.
Melihat antusiasme ribuan pengunjung selama dua hari itu, aku jadi semakin yakin kalau budaya dan tradisi sebenarnya nggak pernah benar-benar berjarak dari generasi muda. Yang dibutuhkan cuma cara penyajian yang playful interaktif, dan dekat dengan keseharian, supaya kebaya dan wastra tetap relevan tanpa kehilangan makna aslinya.
Ditulis oleh: Fredella Phoebe
