Bukan Sekadar Luka: Memahami Self-Harm

Mahasiswi Ilmu Komunikasi dengan ketertarikan pada jurnalistik, media, dan penulisan.
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Frederica Ricarda tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Self-harm atau perilaku menyakiti diri merupakan tindakan yang dilakukan secara sengaja dan dapat berkaitan dengan kesulitan seseorang dalam menghadapi tekanan emosional. Perilaku ini dapat terjadi pada remaja maupun orang dewasa dan dapat muncul di berbagai lingkungan, termasuk rumah, sekolah, kampus, maupun lingkungan sosial. Self-harm tidak selalu dilakukan dengan tujuan mengakhiri hidup, tetapi tetap membutuhkan perhatian karena dapat berkaitan dengan tekanan psikologis dan risiko masalah kesehatan mental yang lebih serius.
Dalam artikel Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, dr. Lahargo Kembaren, Sp.KJ, psikiater di RS Jiwa dr. H. Marzoeki Mahdi Bogor, menjelaskan bahwa self-harm dapat menjadi respons terhadap tekanan emosional yang berat dan memberikan rasa lega sementara. Kementerian Kesehatan juga menekankan pentingnya mengenali pemicu serta pola perilaku tersebut dan mencari bantuan dari tenaga profesional kesehatan jiwa.
Self-harm tidak selalu mudah dikenali karena seseorang dapat berusaha menyembunyikan perilaku atau kondisi yang dialaminya. Perubahan perilaku, menarik diri dari lingkungan sosial, perubahan suasana hati, serta kesulitan menjalani aktivitas sehari-hari dapat menjadi tanda bahwa seseorang sedang mengalami tekanan psikologis. Namun, tanda-tanda tersebut tidak secara otomatis menunjukkan adanya self-harm.
Kondisi yang melatarbelakangi perilaku self-harm dapat berbeda pada setiap individu. Tekanan psikologis, konflik, pengalaman traumatis, kehilangan, maupun kesulitan dalam mengelola emosi dapat menjadi bagian dari kondisi yang dialami seseorang. Oleh karena itu, penanganan perlu memperhatikan kondisi yang mendasari perilaku tersebut, bukan hanya perilakunya. Berbicara dengan orang yang dipercaya dan mencari bantuan psikolog atau psikiater dapat menjadi langkah untuk mendapatkan dukungan yang sesuai.
Masyarakat yang membutuhkan bantuan kesehatan mental dapat berkonsultasi dengan psikolog atau psikiater melalui fasilitas dan layanan kesehatan yang tersedia. Dalam situasi ketika seseorang mengalami tekanan psikologis atau krisis, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia juga menyediakan Healing119.id sebagai layanan dukungan psikologis awal. Mencari bantuan profesional dapat menjadi langkah untuk memahami kondisi yang sedang dialami dan memperoleh penanganan yang sesuai.
Frederica Ricarda
