Konten dari Pengguna

Memahami Anger Issue: Ketika Emosi Sulit Dikendalikan

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Frederica Ricarda tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber Foto: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Sumber Foto: Shutterstock

Anger issue merupakan istilah yang digunakan untuk menggambarkan kesulitan seseorang dalam mengelola atau mengendalikan kemarahan. Masalah dalam pengelolaan amarah dapat terjadi dalam berbagai situasi, baik di lingkungan keluarga, pertemanan, pendidikan, pekerjaan, maupun hubungan interpersonal. Kemarahan dapat muncul sebagai respons terhadap berbagai pemicu, seperti frustrasi, merasa diperlakukan tidak adil, merasa terancam, tekanan, atau konflik dengan orang lain. Ketika kemarahan tidak terkendali, seseorang dapat menunjukkan respons seperti berteriak, membentak, memulai pertengkaran, merusak barang, atau melakukan tindakan agresif. Pengelolaan amarah dapat dilakukan dengan mengenali pemicu, memberi jeda sebelum bereaksi, serta mencari bantuan profesional apabila kemarahan mulai mengganggu kehidupan sehari-hari.

Menurut Raymond W. Novaco, PhD, psikolog yang dikutip dalam materi American Psychological Association (APA) mengenai masalah kemarahan, psikolog dapat membantu seseorang mengenali pemicu yang menyebabkan kemarahan dan mempelajari strategi untuk mengelolanya. Dalam materi yang diterbitkan APA tersebut, dijelaskan bahwa salah satu pendekatan yang digunakan dalam penanganan masalah kemarahan adalah Cognitive Behavioral Therapy (CBT). Pendekatan ini membantu seseorang mengenali pola pikir yang tidak membantu, mengevaluasi pikiran yang muncul sebelum kemarahan, serta mengembangkan cara merespons situasi secara lebih konstruktif.

Kesulitan mengendalikan amarah dapat ditandai melalui perubahan fisik, pikiran, perasaan, dan perilaku. Secara fisik, kemarahan dapat membuat detak jantung meningkat, otot menegang, tangan mengepal, dada terasa sesak, atau tubuh terasa panas. Secara emosional dan mental, seseorang dapat menjadi lebih mudah tersinggung, sulit merasa rileks, merasa tegang, atau menyimpan rasa kesal terhadap orang lain. Dalam perilaku, kemarahan dapat ditunjukkan melalui berteriak, membentak, mengabaikan orang lain, memulai pertengkaran, merusak benda, hingga perilaku agresif. Pemicu kemarahan berbeda pada setiap orang. Beberapa faktor yang umum antara lain merasa diperlakukan tidak adil, merasa terancam, menghadapi tekanan atau banyak masalah dalam waktu bersamaan, pengalaman masa lalu yang menimbulkan tekanan, serta penggunaan alkohol atau zat tertentu. Untuk mengelolanya, seseorang dapat mencoba mengenali tanda-tanda awal kemarahan, mengambil waktu sejenak sebelum memberikan respons, melakukan latihan pernapasan, berbicara dengan orang yang dipercaya, serta melakukan aktivitas fisik untuk membantu mengurangi ketegangan. Jika cara tersebut belum membantu dan kemarahan terus mengganggu kehidupan atau menyebabkan perilaku agresif, konsultasi dengan tenaga profesional dapat dipertimbangkan.

Bagi individu yang merasa kesulitan mengendalikan kemarahan dan membutuhkan bantuan profesional, konsultasi dengan psikolog dapat menjadi salah satu pilihan. Di Indonesia, masyarakat dapat menggunakan layanan Cari Psikolog dari Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI) untuk menemukan psikolog berdasarkan provinsi serta kabupaten/kota. HIMPSI menjelaskan bahwa fitur tersebut menyediakan informasi psikolog dengan STR HIMPSI dan SILP dari Kemdiktisaintek, sehingga masyarakat dapat mencari bantuan profesional sesuai kebutuhannya. Konsultasi dapat membantu seseorang memahami pemicu kemarahan, mengevaluasi pola pikir dan perilaku yang muncul, serta menentukan strategi penanganan yang sesuai.

Frederica Ricarda