Konten dari Pengguna

Memahami Trust Issue: Ketika Kepercayaan Sulit Dibangun Kembali

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Frederica Ricarda tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber Foto: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Sumber Foto: Shutterstock

Trust issue atau masalah kepercayaan merupakan kondisi ketika seseorang mengalami kesulitan untuk mempercayai orang lain, yang dapat memengaruhi hubungan dengan pasangan, keluarga, teman, maupun lingkungan sosial. Kondisi tersebut dapat berkembang setelah seseorang mengalami pengalaman yang membuat kepercayaan terhadap orang lain terganggu, seperti kebohongan, pengkhianatan, penolakan, atau perlakuan yang merugikan. Rasa tidak percaya dapat muncul dalam berbagai situasi dan membuat seseorang menjadi lebih berhati-hati dalam menilai perkataan maupun tindakan orang lain. Ketika berlangsung secara terus-menerus, masalah kepercayaan dapat memengaruhi cara seseorang membangun dan mempertahankan hubungan. Karena itu, memahami penyebab munculnya rasa tidak percaya serta membangun komunikasi dan batasan yang sehat menjadi bagian penting dalam proses memperbaiki hubungan.

Menurut Ramone Ford, PhD, psikolog yang dikutip dalam artikel Cleveland Clinic mengenai masalah kepercayaan, pengalaman ketika seseorang pernah dimanfaatkan, disakiti, atau tersinggung dapat membuatnya menjadi lebih sulit mempercayai orang lain di kemudian hari. Ford menjelaskan bahwa rasa tidak percaya tersebut dapat terbawa ke hubungan berikutnya karena adanya kekhawatiran akan mengalami kejadian serupa. Dalam proses membangun kembali kepercayaan, seseorang perlu memahami pengalaman yang menyebabkan hilangnya rasa percaya serta mengomunikasikan kebutuhan dan batasan dalam hubungan.

Masalah kepercayaan dapat terlihat melalui berbagai pola dalam hubungan, seperti terus-menerus merasa curiga, sulit menerima perkataan orang lain, takut dikhianati, sulit membuka diri, atau membutuhkan kepastian secara berulang. Namun, rasa waspada tidak selalu berarti seseorang memiliki trust issue. Kepercayaan memang dapat berubah sesuai dengan pengalaman dan situasi yang dihadapi seseorang. Penelitian mengenai kepercayaan interpersonal menunjukkan bahwa faktor dari orang yang memberikan kepercayaan, orang yang dipercaya, serta konteks hubungan dapat memengaruhi terbentuknya kepercayaan. Ketika kepercayaan telah rusak, proses memperbaikinya membutuhkan waktu dan konsistensi. Beberapa langkah yang dapat dilakukan antara lain mengenali pengalaman yang menjadi sumber ketidakpercayaan, membedakan antara bukti nyata dan kekhawatiran pribadi, menyampaikan perasaan secara terbuka, menetapkan batasan yang sehat, serta memberikan kesempatan kepada hubungan untuk membangun kembali rasa aman melalui perilaku yang konsisten. Apabila masalah kepercayaan terus menimbulkan tekanan emosional atau mengganggu hubungan dan kehidupan sehari-hari, bantuan profesional dapat dipertimbangkan.

Bagi individu yang mengalami kesulitan dalam membangun kepercayaan dan merasa membutuhkan bantuan profesional, konsultasi dengan psikolog dapat menjadi salah satu pilihan. Di Indonesia, masyarakat dapat menggunakan layanan Cari Psikolog yang disediakan oleh Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI) untuk mencari psikolog berdasarkan provinsi dan kabupaten/kota. HIMPSI menyebutkan bahwa layanan tersebut menyediakan informasi psikolog dengan STR HIMPSI dan SILP dari Kemdiktisaintek, sehingga masyarakat dapat mencari tenaga profesional sesuai wilayah yang dibutuhkan. Konsultasi dengan psikolog dapat menjadi ruang untuk memahami pengalaman yang memengaruhi rasa percaya, mengenali pola pikir dan respons yang muncul, serta menentukan langkah yang sesuai untuk menghadapi masalah tersebut.

Frederica Ricarda