Konten dari Pengguna

Retroactive Jealousy: Ketika Masa Lalu Pasangan Menjadi Sumber Kecemasan

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Frederica Ricarda tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber Foto: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Sumber Foto: Shutterstock

Retroactive jealousy atau kecemburuan terhadap masa lalu pasangan merupakan istilah yang digunakan untuk menggambarkan rasa cemburu, tidak nyaman, atau tertekan ketika seseorang memikirkan hubungan romantis maupun pengalaman pasangan sebelum hubungan mereka dimulai. Perasaan tersebut dapat muncul setelah mengetahui cerita tentang mantan pasangan, melihat foto atau informasi mengenai hubungan masa lalu, maupun membayangkan pengalaman romantis pasangan sebelumnya. Dalam beberapa kasus, kecemburuan tersebut dapat membuat seseorang terus memikirkan masa lalu pasangan, mencari informasi mengenai mantan di media sosial, atau membandingkan dirinya dengan pasangan sebelumnya. Hal tersebut dapat memengaruhi kenyamanan dan dinamika hubungan yang sedang dijalani.

Menurut Chivonna Childs, PhD, psikolog yang dikutip dalam artikel Cleveland Clinic mengenai retroactive jealousy, kecemburuan terhadap masa lalu pasangan dapat berkaitan dengan rasa tidak aman dan kecemasan dalam hubungan. Seseorang dapat terus memikirkan kemungkinan pasangannya kembali kepada mantan atau merasa khawatir bahwa pengalaman masa lalu akan memengaruhi hubungan saat ini. Childs juga menjelaskan bahwa pengalaman pernah diselingkuhi, rendahnya kepercayaan diri, ketakutan akan ditinggalkan, serta negative self-talk dapat menjadi faktor yang berkontribusi terhadap munculnya kecemburuan tersebut.

Retroactive jealousy dapat terlihat melalui berbagai pola, seperti berulang kali meminta pasangan menceritakan hubungan sebelumnya, mencari foto atau informasi mengenai mantan di media sosial, membandingkan diri dengan pasangan sebelumnya, atau merasa cemas ketika masa lalu pasangan dibicarakan. Namun, rasa cemburu terhadap masa lalu pasangan tidak secara otomatis menunjukkan adanya gangguan psikologis. Retroactive jealousy juga bukan merupakan diagnosis klinis yang berdiri sendiri, sementara penelitian mengenai fenomena ini masih terus berkembang. Untuk mengelolanya, seseorang dapat mulai dengan mengenali pemicu kecemburuan, menerima bahwa pasangan memiliki pengalaman sebelum hubungan saat ini, serta mengurangi kebiasaan mencari informasi yang justru memperkuat kecemasan. Komunikasi terbuka mengenai perasaan dan batasan juga dapat membantu, disertai dengan memusatkan perhatian pada hubungan dan pengalaman yang sedang dibangun bersama pasangan.

Bagi individu yang merasa kecemburuan terhadap masa lalu pasangan sudah sulit dikendalikan, menimbulkan tekanan emosional, atau mengganggu hubungan sehari-hari, konsultasi dengan psikolog dapat menjadi salah satu pilihan. Konsultasi dapat dilakukan secara tatap muka maupun secara daring melalui layanan kesehatan digital seperti Halodoc. Melalui konsultasi dengan psikolog, individu dapat memahami pemicu kecemburuan, mengenali pola pikiran dan perilaku yang muncul, serta mempelajari strategi yang sesuai untuk mengelola emosi dan menjaga hubungan tetap sehat. Selain layanan daring, masyarakat juga dapat menggunakan layanan Cari Psikolog dari Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI) untuk menemukan psikolog berdasarkan provinsi dan kabupaten/kota.