Saat Tubuh Ikut Panik: Mengenal Panic Attack dan Respons Kecemasan

Mahasiswi Ilmu Komunikasi Universitas Bunda Mulia dengan ketertarikan pada jurnalistik, media, dan penulisan.
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Frederica Ricarda tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Satu kabar buruk terkadang tidak berhenti di pikiran. Jantung dapat berdebar lebih cepat, napas terasa berat, tangan gemetar, air mata sulit dibendung, bahkan tubuh terasa mual. Respons tersebut menunjukkan bahwa emosi dan tubuh saling berkaitan. Dalam situasi tertentu, rasa takut atau cemas yang meningkat secara intens dapat memicu respons panik yang terasa begitu nyata secara fisik. Kondisi ini dikenal sebagai panic attack, yaitu episode ketakutan atau kecemasan intens yang muncul secara tiba-tiba dan dapat disertai berbagai reaksi tubuh. Serangan dapat terjadi dengan atau tanpa pemicu yang jelas dan umumnya mencapai intensitas tertinggi dalam beberapa menit sebelum perlahan mereda.
Menurut Chivonna Childs, PhD, psikolog yang dikutip dalam artikel Cleveland Clinic mengenai panic attack, tubuh dapat memberikan respons seolah-olah sedang menghadapi ancaman ketika seseorang mengalami serangan panik. Respons tersebut dapat menyebabkan jantung berdebar, kesulitan bernapas, berkeringat, gemetar, hingga muncul perasaan kehilangan kendali. Childs juga menjelaskan bahwa tidak semua serangan panik memiliki pemicu yang mudah dikenali. Pengalaman traumatis, kecemasan, maupun situasi tertentu dapat berkaitan dengan kemunculannya, tetapi serangan juga dapat muncul secara tiba-tiba.
Ketika respons panik terjadi, perubahan dapat dirasakan hampir bersamaan pada tubuh dan pikiran. Seseorang mungkin mengalami pusing, mual, kesemutan, sensasi seperti tersedak, dada terasa tidak nyaman, atau merasa lingkungan di sekitarnya tidak nyata. Di sisi lain, muncul pula ketakutan bahwa sesuatu yang buruk akan terjadi, kehilangan kendali, atau bahkan meninggal. Mengambil jarak dari situasi yang terasa mengancam, berada di tempat yang aman, memperlambat pernapasan, dan mengingatkan diri bahwa sensasi tersebut akan berlalu dapat membantu melewati momen tersebut. Namun, keluhan seperti nyeri dada, sesak napas berat, atau kehilangan kesadaran juga dapat berkaitan dengan masalah kesehatan lain sehingga tidak sebaiknya langsung dianggap sebagai serangan panik.
Apabila pengalaman tersebut berulang, menimbulkan kekhawatiran akan serangan berikutnya, atau membuat aktivitas sehari-hari mulai dihindari, bantuan profesional dapat dipertimbangkan. Penanganannya dapat melibatkan psikoterapi, termasuk Cognitive Behavioral Therapy (CBT), dan dalam kondisi tertentu dapat disertai pengobatan berdasarkan penilaian tenaga kesehatan. Di Indonesia, masyarakat dapat berkonsultasi dengan psikolog secara langsung maupun melalui layanan kesehatan digital seperti Halodoc. Selain itu, layanan Cari Psikolog dari Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI) dapat digunakan untuk menemukan psikolog berdasarkan provinsi serta kabupaten/kota. Dengan bantuan profesional, pola kecemasan dapat dipahami lebih baik sehingga seseorang dapat mempelajari cara menghadapi respons tubuh dan pikirannya secara lebih tepat.
Frederica Ricarda
