Komunikasi Organisasi : Efek Noise Psikologis terhadap Gangguan Mental

Dosen Ilmu Komunikasi Unpad
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Frila Nurfadila tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Noise psikologis meskipun tak kasat mata, namun dampaknya bisa sangat terasa.
Dalam kehidupan organisasi, komunikasi sering dianggap sebagai bagian penting yang menggerakkan seluruh sistem. Kita bicara soal alur kerja, koordinasi tim, atau hubungan antara atasan dan bawahan, Dimana semuanya bergantung pada seberapa mudah sebuah pesan diterima dan dipahami. Tetapi, ada satu hal yang cukup jarang dibahas secara mendalam: yaitu gangguan psikologis. Hal ini sering kali menyusup diam-diam ke dalam proses komunikasi yang terjadi antar individu. Noise psikologis meskipun tak kasat mata, namun dampaknya bisa sangat terasa.
Banyak orang berpikir bahwa gangguan komunikasi lebih sering terjadi ketika jaringan putus, email tidak terkirim, atau informasi tidak lengkap. Padahal, seseorang bisa mendengar setiap kata yang diucapkan lawan bicaranya, namun tetap gagal menangkap maksud sebenarnya. Mengapa demikian? Salah satu penyebabnya adalah karena pikirannya sedang penuh. Penyebabnya bisa berbagai macam, seperti tekanan pekerjaan, konflik pribadi, rasa tidak percaya, atau sekadar kelelahan emosional yang tak sempat dibereskan. Dalam kondisi ini, kemampuan seseorang untuk memahami pesan secara objektif menurun. Apa yang terdengar biasa bisa terasa mengancam. Instruksi sederhana bisa dianggap sebagai bentuk penekanan. Komentar rekan kerja bisa dirasakan sebagai sindiran. Semuanya jadi kabur, karena ada “noise” di dalam kepala.
Masalahnya, tidak semua orang menyadari sedang mengalami gangguan psikologis ini. Sering kali dalam banyak organisasi, bicara soal perasaan atau tekanan mental masih dianggap tabu. Kita sibuk mengurus target dan laporan, tapi lupa bahwa yang mengerjakan semua itu adalah manusia yang memiliki emosi, rasa lelah, dan luka-luka batin yang tidak selalu tampak dari luar. Ketika komunikasi memburuk, kita cenderung menyalahkan orangnya: “Dia tidak fokus,” “Dia terlalu sensitif,” atau “Dia memang tidak bisa kerja tim.” Padahal, mungkin saja kondisi yang terjadi bisa jadi lebih kompleks dari sekadar soal karakter.
Budaya organisasi juga memegang peran penting. Banyak tempat kerja memiliki jenis komunikasinya satu arah, yang mana atasan biasanya selalu benar dan bawahan selalu harus mengikuti. Pada akhirnya, sangat sulit bagi seseorang untuk merasa aman secara psikologis. Belum lagi jika lingkungan kerja dipenuhi kompetisi yang terkadang terlalu berlebihan bisa menciptakan tekanan psikologis yang pada akhirnya memperkeruh proses komunikasi sehari-hari. Salah satu efek jangka panjang dari noise psikologis adalah tumbuhnya ketidakpercayaan pada diri individu terhadap lingkungan sekitarnya. Ketika seseorang merasa bahwa setiap ucapan harus ditafsirkan secara hati-hati, bahwa tiap pernyataan bisa disalahartikan, maka ia akan mulai memilih diam. Komunikasi jadi dangkal, serba formal, dan kehilangan kehangatan dalam prosesnya. Lama-lama, ini bisa membunuh kolaborasi. Tim yang awalnya dinamis bisa berubah menjadi sekelompok individu yang bekerja dalam ruang masing-masing, tanpa keterhubungan emosional. Hubungan kerja pun menjadi kaku, dan inovasi menjadi sulit muncul.
Apa yang bisa dilakukan? Kita harus membangun kesadaran. Organisasi perlu mulai memandang kesehatan psikologis sebagai bagian dari strategi komunikasi. Ketika seseorang merasa aman untuk bicara jujur tanpa takut dinilai lemah, maka ruang komunikasi menjadi lebih terbuka. Kejelasan pesan tidak hanya berasal dari pola struktur sebuah kalimat, tetapi juga dari rasa saling percaya yang tumbuh perlahan-lahan. Kemudian, Kita juga perlu lebih peka terhadap diri sendiri. Menyadari bahwa mood kita hari ini mungkin mempengaruhi cara kita merespon sekitar kita. Mengenali noise psikologis bukanlah menjadi alasan yang dibuat-buat, tetapi sebagai cara untuk lebih bertanggung jawab terhadap bagaimana kita berkomunikasi dengan orang lain yang ada di sekitar kita.
Sebagai catatan, kita tidak dapat menghapus semua nois. Namun, kemampuan kita dalam mengelolanya perlu dilakukan. Mungkin melalui sesi refleksi tim, konseling, atau hanya dengan menciptakan budaya diskusi yang nyaman di sela-sela pekerjaan. Dalam organisasi yang sehat, ruang untuk berdiskusi harus tersedia, tidak hanya untuk melaporkan hasil kerja, tapi juga untuk saling mendengarkan. Bisa dikatakan apabila kita ingin komunikasi berjalan lancar, kita harus bersedia melihat lebih dalam, yaitu ke arah yang selama ini sering kita abaikan, karena sering kali di sanalah noise dalam sebuah proses komunikasi berada.
