Mengurai Jalur Komunikasi Efektif dalam Membentuk Jenjang Karier di Tempat Kerja

Dosen Ilmu Komunikasi Unpad
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Frila Nurfadila tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Pentingnya membentuk kepuasan kerja melalui jalur komunikasi efektif pada jenjang karier di tempat kerja
Dalam dunia kerja modern, jenjang karier sering kali menjadi topik yang dibicarakan secara diam-diam oleh para karyawan. Kenapa diam-diam? Karena pada dasarnya banyak karyawan merasa kebingungan mengenai arah karier mereka, meskipun beberapa dari mereka telah bekerja selama bertahun-tahun di dalam sebuah perusahaan. Hal ini pada dasarnya bukan karena mereka tergolong tidak ambisius, tapi sering kali mereka hanya tidak tahu ke mana langkah berikutnya harus diambil, atau mungkin tidak yakin kepada siapa mereka harus berkonsultasi dan berdiskusi terkait arah karir mereka dalam sebuah perusahaan. Di sinilah peran komunikasi internal dalam organisasi menjadi krusial. Tanpa komunikasi yang terbuka dan jelas dari atasan ataupun manajemen, karyawan bisa merasa stagnan, kehilangan arah, bahkan kehilangan motivasi dalam melaksanakan tugas serta pekerjaan yang mereka miliki.

Idealnya, sebuah perusahaan tidak hanya memberi ruang tumbuh bagi para karyawan mereka, tetapi juga memberi peta yang jelas tentang seperti apa pertumbuhan karir itu bisa terjadi. Bukan hanya janji promosi atau sekadar evaluasi tahunan yang diberikan, melainkan percakapan yang nyata antara atasan dan bawahan mengenai potensi, minat, dan arah karier. Komunikasi semacam ini bukan hanya tugas dari HRD semata, tapi tanggung jawab bersama, terutama pemimpin tim yang sehari-hari bersentuhan langsung dengan anggota timnya.
Sayangnya, di banyak organisasi pembicaraan tentang karier masih dianggap tabu atau terlalu sensitif. Padahal, justru dengan menyembunyikan informasi, organisasi hanya menciptakan jarak antara manajemen dengan para karyawannya. Karyawan merasa tidak dilibatkan, dan pada akhirnya akan mencari tempat lain yang dianggap dapat memberi kejelasan terkait hal ini. Kita tidak sedang bicara soal gaji besar atau posisi tinggi, tapi soal rasa memiliki, rasa dihargai, dan rasa diyakinkan bahwa setiap individu punya peluang untuk berkembang. Karena menurut Gibson, Ivancevich dan Donnelly (1993) faktor-faktor yang mempengaruhi kepuasan kerja pada karyawan bukan hanya kepuasan terhadap gaji, tetapi juga pada pekerjaan, atasan, kesempatan promosi, dan rekan kerja.
Oleh karena hal tersebut, organisasi yang ingin maju seharusnya mulai membangun budaya komunikasi terbuka tentang jenjang karier. Mulai dari memberi akses informasi tentang struktur organisasi, jalur promosi, kriteria evaluasi, hingga menyediakan sesi coaching yang sekiranya dapat rutin dilakukan oleh perusahaan untuk karyawan-karyawan yang memiliki kriteria tertentu sesuai dengan kebutuhan perusahaan. Sewajarnya hal-hal ini dilakukan bukan hanya karena terjadi sebuah permasalahan, tapi karena sadar bahwa keterbukaan bisa menjadi bentuk kepercayaan pada kapasitas tim.
Masa depan kerja bukan hanya tentang teknologi dan efisiensi, tapi tentang bagaimana manusia diperlakukan. Tentu saja di tengah ketidakpastian dalam memperoleh sebuah lapangan pekerjaan yang sesuai menjadi makin kompleks. Maka komunikasi yang jelas, terbuka, dan manusiawi tentang karier adalah bentuk kepemimpinan yang dibutuhkan hari ini. Melalui hal semacam ini, perusahaan menjadi lebih efektif dalam mendorong kinerja para karyawan dalam mencapai tujuan perusahaan yang dimiliki.
