Konten dari Pengguna

Manifest Destiny Modern Ala Donald Trump

Frisca Alexandra
Dosen Program Studi Hubungan Internasional Universitas Mulawarman
3 Juni 2025 14:07 WIB
·
waktu baca 5 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Manifest Destiny Modern Ala Donald Trump
Apakah niatan Trump untuk membeli Greenland sekadar tindakan impulsif, atau justru bagian dari pola pikir geopolitik yang lebih dalam yang dipengaruhi oleh ideologi Manifest Destiny ?
Frisca Alexandra
Tulisan dari Frisca Alexandra tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Bendera Amerika (Sumber: PIXABAY)
zoom-in-whitePerbesar
Bendera Amerika (Sumber: PIXABAY)
ADVERTISEMENT
Pada tahun 2019, Donald Trump pernah memicu kontroversi dengan menyatakan keinginannya untuk membeli Greenland. Ide ini pertama kali dilaporkan oleh Wall Street Journal, yang menyebutkan bahwa Trump membahas rencana tersebut dengan para penasihatnya di Gedung Putih. Ketika Trump kembali dilantik sebagai Presiden Amerika Serikat untuk kedua kalinya, ia kembali menyatakan keinginannya tersebut. Tidak berhenti hanya pada Greenland, Trump juga menyatakan niatannya untuk mengambil alih kembali Terusan Panama serta mengungkapkan niatan untuk menguasai Kanada setelah PM Kanada, Justin Trudeau mundur, niatan ini diutarakan Trump ditengah panasnya hubungan Amerika Serikat dan Kanada.
ADVERTISEMENT
Apakah ini sekadar tindakan impulsif, atau justru bagian dari pola pikir geopolitik yang lebih dalam yang dipengaruhi oleh ideologi Manifest Destiny ?

Greenland: Lebih dari Sekedar Pulau Es

Pada bulan Maret 2025, saat Trump berpidato di hadapan Kongres Amerika Serikat, ia kembali menegaskan keinginannya untuk menguasai Greenland. Niatan Donald Trump ini tentu tidak terlepas dari letak Greenland yang strategis.
Greenland terletak di kawasan Arktik yang kaya akan sumber daya alam. Selain itu Arktik kini juga menjadi arena persaingan baru antara kekuatan besar dunia yakni Amerika Serikat, Tiongkok serta Rusia. Sehingga bagi Donald Trump, menguasai Greenland akan memberikan keunggulan bagi geopolitik Amerika Serikat.

Mengambil Alih Kembali Terusan Panama

Amerika Serikat memiliki sejarah dengan Terusan Panama, ia adalah simbol kekuasaan global Amerika pada awal abad ke-20. Kala itu, Amerika Serikat memiliki hak untuk membangun dan mengoperasikan Terusan Panama. Hingga pada tahun 1979, melalui Perjanjian Torrijos-Carter, Amerika sepakat untuk menyerahkannya kepada Panama pada 31 Desember 1999.
ADVERTISEMENT
Pada awal bulan Januari 2025, ketika status Trump masih sebagai Presiden terpilih Amerika Serikat, ia telah mengutarakan keinginannya untuk mengambil alih kembali Terusan Panama. Trump mengatakan pengambilalihan Terusan Panama menjadi bagian penting dari strategi keamanan nasional Amerika Serikat.
Terusan Panama adalah salah satu jalur pelayaran paling strategis dan vital di dunia. Terusan ini menghubungkan Samudra Atlantik dan Pasifik melalui Amerika Tengah sehingga memungkinkan kapal-kapal perdagangan melewati benua Amerika tanpa harus memutar jauh ke selatan dan melewati Tanjung Horn di ujung Chile. Sehingga jelas niatan Trump untuk menguasai kembali Terusan Panama berkaitan dengan bagaimana Amerika Serikat dapat memegang kendali atas jalur perdagangan dunia.

Kerenggangan Hubungan Dengan Kanada

Bendera Kanada (Sumber: Pixabay)
Sebagai tetangga terdekat dan mitra dagang utama, Kanada selama ini dianggap sebagai sekutu paling akrab Amerika Serikat. Namun pada periode kedua kepemimpinan Trump, hubungan Amerika dan Kanada mengalami keretakan. Pada bulan Maret 2025, Trump mengatakan bahwa terdapat ketidakseimbangan perdagangan bilateral antara Amerika dan Kanada yang menyebabkan Amerika mengalami kerugian. Lebih lanjut, Trump juga mengatakan bahwa negaranya tidak membutuhkan ekspor sejumlah komoditi ke Kanada seperti mobil, kayu dan energi.
ADVERTISEMENT
Di Tengah memanasnya hubungan dagang antara Amerika Serikat dan Kanada, Trump menyatakan bahwa akan menjadi sesuatu hal yang luar biasa apabila Kanada menjadi negara bagian Amerika Serikat ke-51. Berdasarkan sejarahnya, Amerika memang pernah beberapa kali berupaya untuk mengintegrasikan Kanada sebagai bagian dari negaranya. Invasi Kanada pada tahun 1775 merupakan serangan pertama tentara Kontinental selama Perang Kemerdekaan Amerika yang bertujuan untuk menguasai Quebec dan menginvasi Kanada, namun serangan ini gagal. Perang 1812, di tengah konflik antara Amerika Serikat dengan Koloni Inggris, Amerika mencoba menaklukkan Kanada namun perang berakhir dengan kegagalan Amerika dalam menaklukkan Kanada.

Respons Global

Dunia internasional tentu tidak menyambut positif rencana Trump tersebut. Pada bulan Maret 2025, Perdana Menteri Greenland dengan tegas mengecam pernyataan Trump yang hendak membeli Greenland. Sebagai negara yang berada dibawah wilayah otonom kerajaan Denmark, sikap pemerintah Greenland, didukung pula oleh pemerintah Denmark yang mengatakan bahwa Greenland tidak dijual.
ADVERTISEMENT
Negara-negara Amerika Latin, termasuk Panama menunjukkan kewaspadaan dan kekhawatiran terhadap berbagai kebijakan luar negeri Donald Trump yang cenderung intervensionis. Sementara Perdana Menteri Kanada, Justin Trudeau menanggapi pernyataan Trump dengan menunjukkan sikap tegas yang menyatakan bahwa Kanada tidak akan dikendalikan oleh tekanan. Sikap Trudeau ini didukung oleh publik dan media Kanada.
Negara-negara lain termasuk sekutu Amerika di kawasan Eropa dan Asia turut mempertanyakan arah kebijakan luar negeri Amerika di periode kedua kepemimpinan Trump. Tidak sedikit yang menganggap ambisi Trump untuk menguasai ketiga wilayah tersebut merupakan cerminan manifest destiny.

Apa itu Manifest Destiny?

Manifest destiny adalah ideologi ekspansionis pada abad ke-19 yang menyatakan bahwa Amerika memiliki “takdir ilahi” untuk memperluas wilayahnya ke seluruh benua Amerika Utara. Istilah ini pertama kali digunakan oleh John L. O’Sullivan pada tahun 1845. Ia menggambarkan Amerika sebagai bangsa pilihan Tuhan yang ditakdirkan untuk menyebarkan kebebasan dan peradaban ke seluruh benua. Gagasan ini kemudian menjadi justifikasi moral dan politik atas berbagai tindakan ekspansi teritorial termasuk pembelian Louisiana, aneksasi Texas, Perang Meksiko-Amerika serta pengusiran masyarakat asli Amerika.
ADVERTISEMENT
Pernyataan Trump yang ingin membeli Greenland, mengambil alih kembali Terusan Panama serta ketegangan dengan Kanada membuat banyak pihak teringat pada manifest destiny. Beberapa Presiden sebelum Trump juga secara tidak langsung mengeluarkan kebijakan yang mencerminkan semangat manifest destiny dalam versi modern.
George W. Bush pada periode kepemimpinannya di tahun 2001-2009, mengeluarkan sejumlah kebijakan yang mencerminkan semangat manifest destiny seperti Invasi Afghanistan tahun 2001 dan Invasi Irak tahun 2003. Bush menggunakan misi global yakni “War on Terror” dan mengklaim bahwa Amerika bertindak demi kebebasan umat manusia dari ancaman terorisme.
Pada era Presiden Barack Obama di tahun 2009-2017, ia juga mengeluarkan kebijakan Intervensi di Libya pada 2011 atas nama “responsibility to protect”. Obama juga menegaskan bahwa Amerika memiliki tanggung jawab khusus untuk memimpin dunia dalam menyebarkan demokrasi, hak asasi manusia dan tatanan internasional yang berbasis aturan.
ADVERTISEMENT
Dapat disimpulkan bahwa Trump bukanlah satu satunya Presiden Amerika yang masih menyimpan semangat manifest destiny. Namun perlu diingat bahwa sejak perjanjian Westphalia disepakati pada tahun 1648, konsep kedaulatan menjadi pondasi utama sistem internasional modern. Kedaulatan bukan hanya soal batas wilayah tetapi juga menyangkut hak negara untuk menentukan nasibnya sendiri, tanpa tekanan atau intervensi dari pihak luar.
Respons keras dunia internasional terhadap Trump menunjukkan bahwa dunia internasional menolak logika ekspansionisme. Kedaulatan perlu dijaga bukan hanya dari serangan militer namun juga dari ide-ide lama yang menyamar dalam wujud baru.