Konten dari Pengguna

Memahami Perang dari Kisah Mariam, Laila dan Salama

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Frisca Alexandra tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ketika berbicara mengenai perang, kita terbiasa berbicara tentang negara, tentara, senjata, strategi militer, perebutan wilayah, dan perundingan damai. Berita mengenai konflik pun sering datang kepada kita melalui angka: berapa jumlah orang yang terbunuh?, berapa kota yang telah dikuasai?, berapa rudal yang ditembakkan?, atau berapa banyak pengungsi yang melintasi perbatasan?

Perang hampir selalu memberikan dampak yang destruktif. Semakin masif, perang yang terjadi maka semakin besar, kehancuran yang terjadi akibat perang. Destruksi akibat perang tidak hanya soal kerusakan infrastruktur tetapi perang juga dapat mengubah hubungan keluarga, menghancurkan rutinitas, memutus pendidikan, mengubah rumah sakit menjadi tempat yang penuh dan sesak, serta memaksa seseorang untuk memilih antara bertahan di tanah kelahirannya atau meninggalkan semua yang pernah ia sebut rumah.

Kita tidak akan dapat memahami sisi lain dari destruksi perang apabila hanya mengandalkan pemberitaan media massa. Terkadang kita butuh merasakannya melalui sebuah novel.

Dua novel yang menurut saya memberikan perspektif menarik mengenai hal tersebut adalah A Thousand Splendid Suns karya Khaled Hosseini dan As Long as the Lemon Trees Grow karya Zoulfa Katouh. Keduanya mengambil latar konflik yang berbeda. Hosseini membawa pembacanya ke Afghanistan melalui kehidupan dua perempuan yakni Mariam dan Laila, sementara Katouh membawa kita ke Homs, Suriah, melalui kehidupan Salama Kassab.

A Thousand Splendid Suns merentangkan kisah Mariam dan Laila, dua perempuan dari generasi dan latar belakang yang berbeda, namun dalam kondisi perang yang terjadi di Afghanistan, keduanya tetap merasakan dampak yang sama.

Sementara itu, As Long as the Lemon Trees Grow membawa kita kepada Salama, seorang mahasiswa farmasi yang kehidupannya berubah setelah pecahnya revolusi di Suriah. Ia kemudian menjadi sukarelawan di sebuah rumah sakit di Homs, merawat orang-orang yang terluka di tengah serangan bom yang dapat datang tiba-tiba dan berbagai tindak kekerasan lainnya seperti ancaman penembak jitu. Pada saat yang sama, Salama terus bergulat dengan pertanyaan yang jauh lebih pribadi: apakah ia harus meninggalkan Suriah untuk menyelamatkan dirinya dan keluarganya, atau tetap tinggal ketika begitu banyak orang membutuhkan pertolongannya?

Afghanistan dan Suriah adalah dua negara dengan situasi konflik yang berbeda. Mariam, Laila, dan Salama juga menghadapi situasi yang tidak sama. Namun, ada satu benang merah yang mempertemukan mereka: ketiganya memperlihatkan bagaimana perang dialami dari perspektif perempuan, dan perspektif inilah yang sering hilang ketika perang hanya dibaca melalui geopolitik dan geostrategi.

Dalam studi Hubungan Internasional, para penstudinya tentu familiar dengan konsep tentang kekuasaan, keamanan, kepentingan nasional, perang, dan perdamaian. Tetapi pertanyaan mengenai “siapa yang merasa aman dan siapa yang sebenarnya merasakan perang?” membawa kita kepada gambaran yang jauh lebih kompleks.

Bagi Mariam dan Laila, perang di Afghanistan bukan sekadar perubahan pemerintahan atau kemenangan satu kelompok bersenjata atas kelompok lainnya. Perubahan politik menentukan apakah mereka dapat keluar rumah, apakah mereka dapat mengenyam pendidikan, apakah mereka dapat bekerja, atau menentukan masa depan mereka sendiri. Ironisnya, kekerasan yang dialami oleh Mariam dan Laila tidak selalu datang dari medan perang. Rumah yang seharusnya menjadi tempat berlindung justru dapat menjadi ruang kekerasan itu tersendiri.

Di sinilah A Thousand Splendid Suns menjadi menarik. Khaled Hosseini pernah menjelaskan bahwa setelah menulis The Kite Runner, yang sebagian besar berisi karakter laki-laki, ia ingin mengeksplorasi pengalaman perempuan Afghanistan. Ia menyinggung bagaimana perang saudara dan kemudian pemerintahan Taliban membawa berbagai bentuk pelanggaran terhadap perempuan, mulai dari perkawinan paksa hingga pembatasan terhadap pendidikan, pekerjaan, pergerakan, dan ekspresi.

Buku A Thousand Splendid Suns (Sumber: Dokumentasi Pribadi Penulis)

Hampir dua dekade setelah novel tersebut terbit, pertanyaan yang dibawanya bahkan terasa kembali relevan. UN Women pada tahun 2025 melaporkan bahwa berbagai kebijakan otoritas Taliban kembali mendorong perempuan Afghanistan keluar dari pendidikan, pekerjaan, politik, dan kehidupan publik.

Dengan demikian, perang bagi perempuan tidak selalu berhenti ketika suara senjata mereda. Kekerasan dapat berubah bentuk: dari peluru dan bom menjadi pembatasan terhadap ruang hidup, pendidikan, mobilitas, dan kebebasan menentukan masa depan.

Jika Mariam dan Laila memperlihatkan bagaimana konflik memasuki ruang-ruang pribadi, Salama dalam As Long as the Lemon Trees Grow membawa pembaca ke ruang lain yang juga sering luput dari pembicaraan mengenai perang, yakni rumah sakit.

Buku As Long As The Lemon Trees Grow (Sumber: Dokumentasi Pribadi Penulis)

Salama bukan tentara. Ia juga bukan diplomat, bukan pula pemimpin politik, atau komandan kelompok bersenjata. Ia hanyalah seorang mahasiswa farmasi yang kehidupannya berubah ketika Suriah mengalami perubahan. Namun justru dari posisinya itulah perang terlihat sangat nyata. Ia melihat tubuh-tubuh yang terluka. Ia harus melakukan pekerjaan medis dalam kondisi yang jauh dari ideal. Ia mengalami kehilangan. Ia hidup dalam rasa takut. Bahkan ketakutannya digambarkan oleh Katouh melalui karakter Khawf, sesosok figur yang muncul sebagai manifestasi dari rasa takut dan trauma yang terus mengikuti Salama.

Salama kemudian berhadapan dengan salah satu dilema paling manusiawi dalam konflik: “apakah meninggalkan negara yang sedang berperang berarti menyerah?” Keinginannya untuk menyelamatkan diri harus berbenturan dengan rasa bersalah karena meninggalkan orang lain. Pergi berarti hidup. Tetapi tinggal terasa seperti tanggung jawab. Dilema semacam ini sulit dibahasakan melalui statistik pengungsi. Angka dapat menunjukkan berapa juta orang yang pergi meninggalkan negara nya yang tengah berkonflik demi mencari rasa aman, tetapi angka tidak dapat sepenuhnya menjelaskan apa artinya menutup pintu rumah untuk terakhir kalinya sambil tidak mengetahui apakah suatu hari kita akan kembali.

Rentan Tidak Berarti Lemah

Hal yang paling menarik dari kedua novel tersebut, bagi saya, adalah bahwa keduanya tidak menyangkal kerentanan perempuan dalam konflik. Mariam, Laila, dan Salama hidup dalam rasa takut. Mereka kehilangan orang-orang yang mereka cintai. Mereka menangis. Mereka mengalami trauma. Pada berbagai titik, mereka bahkan tampak tidak memiliki banyak pilihan. Tetapi tidak satu pun dari mereka dapat dengan mudah disebut sebagai perempuan yang lemah.

Mariam mengambil keputusan yang menentukan nasib orang yang dicintainya. Laila berusaha mempertahankan keluarganya dan membayangkan kehidupan setelah perang. Salama tetap bekerja di tengah kehancuran sambil terus mempertanyakan batas antara kewajiban kepada negaranya dan haknya untuk bertahan hidup. Agensi mereka tidak selalu hadir dalam bentuk tindakan heroik yang besar. Kadang-kadang agensi itu sesederhana merawat orang yang terluka, melindungi seorang anak, mempertahankan persahabatan, menentukan kapan harus bertahan atau justru memiliki keberanian untuk pergi.

Ini penting karena secara umum, masyarakat internasional memiliki kecenderungan melihat perempuan dalam konflik melalui dua gambaran yang terlalu sederhana. Gambaran pertama menempatkan perempuan semata-mata sebagai korban yang membutuhkan perlindungan. Gambaran kedua, sebagai reaksinya, menggambarkan perempuan sebagai sosok yang luar biasa tangguh dan dapat mengatasi segala penderitaan. Kedua gambaran tersebut sesungguhnya dapat dikatakan bermasalah.

Mengakui agensi perempuan tidak berarti kita harus meromantisasi penderitaan mereka. Perempuan tidak seharusnya dipaksa menjadi “kuat” karena dunia gagal memberi mereka keamanan. Apa yang ditunjukkan Mariam, Laila, dan Salama justru lebih kompleks: “seseorang dapat menjadi rentan sekaligus memiliki agensi. Seseorang dapat takut sekaligus berani. Seseorang dapat menjadi korban dari sebuah struktur kekerasan sekaligus tetap menjadi aktor dalam kehidupannya sendiri.”

Women, Peace and Security

Gagasan tersebut sebenarnya tidak asing dalam Hubungan Internasional. Pada tahun 2000, Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa mengadopsi Resolusi 1325 mengenai Women, Peace and Security. Resolusi tersebut menjadi tonggak penting karena mengakui dua hal sekaligus: perempuan dan anak perempuan mengalami dampak konflik secara berbeda, tetapi perempuan juga memiliki peran penting dalam pencegahan konflik, penyelesaian konflik, pembangunan perdamaian, respons kemanusiaan, dan rekonstruksi pascakonflik. Dengan kata lain, perempuan tidak cukup ditempatkan hanya dalam kategori “kelompok rentan yang harus dilindungi.” Mereka juga harus dilihat sebagai aktor.

Dalam konteks inilah saya melihat A Thousand Splendid Suns dan As Long as the Lemon Trees Grow menawarkan sesuatu yang berharga bagi pembaca Hubungan Internasional. Keduanya membawa kita dari keamanan negara menuju keamanan manusia. Dari istana pemerintahan menuju dapur dan ruang keluarga. Dari medan tempur menuju rumah sakit. Dari pertanyaan mengenai siapa yang memenangkan perang menuju pertanyaan yang mungkin lebih manusiawi: “bagaimana seseorang dapat tetap hidup ketika dunianya runtuh?”

Tentu saja, novel bukan dokumen sejarah dan bukan pula laporan akademik. Mariam, Laila, dan Salama adalah karakter dalam karya fiksi. Namun justru karena itulah sastra memiliki ruang yang unik. Sebuah laporan dapat memberi tahu kita kapan Kabul jatuh. Sebuah artikel akademik dapat menjelaskan dinamika Taliban. Sebuah analisis politik dapat menerangkan mengapa konflik Suriah berkembang menjadi perang berkepanjangan. Tetapi Mariam, Laila, dan Salama mengajak kita mengajukan pertanyaan yang berbeda, Apa yang terjadi ketika perubahan rezim menentukan apakah seorang perempuan boleh keluar rumah? Apa yang terjadi ketika seorang mahasiswa tiba-tiba harus menghadapi tubuh-tubuh korban perang? Apa artinya kehilangan rumah? Apa artinya memilih antara tanah air dan keselamatan? Dan bagaimana seseorang menemukan alasan untuk tetap berharap setelah begitu banyak hal direnggut darinya?

Barangkali karena itulah judul As Long as the Lemon Trees Grow terasa begitu kuat. Pohon lemon menjadi pengingat bahwa di balik gambaran Suriah sebagai medan konflik, terdapat sebuah negeri yang dipenuhi dengan rumah, keluarga, cinta, kenangan, dan kehidupan.

Hal serupa dapat kita temukan dalam A Thousand Splendid Suns. Afghanistan bukan hanya Taliban, perang dengan Soviet, mujahidin, atau operasi militer Amerika Serikat. Di sana juga ada Mariam dan Laila atau setidaknya jutaan kehidupan nyata yang pengalaman kesehariannya jarang mendapatkan tempat sebesar para jenderal dan pemimpin politik dalam cerita tentang perang.

Pada akhirnya, kedua novel tersebut mengingatkan kita bahwa perempuan memang menjadi salah satu kelompok yang sangat rentan ketika konflik terjadi. Tetapi rentan tidak sama dengan tidak berdaya. Mariam, Laila, dan Salama tidak mengendalikan perang yang menghancurkan dunia mereka. Mereka tidak menentukan kapan bom dijatuhkan, siapa yang mengambil alih pemerintahan, atau kapan kekerasan akan berakhir. Namun mereka terus mengambil keputusan di dalam ruang yang masih mereka miliki. Mereka merawat. Mereka melindungi. Mereka mencintai. Mereka melawan. Mereka bertahan. Dan mungkin di situlah pelajaran terpenting dari kedua novel tersebut bagi kita yang mempelajari perang dan politik internasional.

Bahwa untuk memahami konflik, sesekali kita perlu berhenti dari hanya memandang mereka yang memegang senjata. Kita juga harus mendengarkan mereka yang berusaha tetap hidup ketika senjata-senjata itu ditembakkan.