Konten dari Pengguna

The Politics of Yes-Men: When Leaders Prefer to Hear What They Want

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Frisca Alexandra tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ada satu hal yang menarik dari seorang pemimpin yang terlalu yakin pada dirinya sendiri. Ia mungkin memiliki banyak penasihat, mendengarkan berbagai laporan, bahkan mengadakan rapat berjam-jam. Namun, dari sekian banyak pendapat yang disampaikan, sering kali hanya satu jenis nasihat yang paling mudah diterima, yakni nasihat yang membenarkan apa yang sejak awal ingin ia lakukan. Dalam situasi seperti ini, masalahnya bukan lagi kekurangan orang pintar. Masalahnya adalah apakah orang-orang pintar itu masih punya ruang untuk mengatakan sesuatu yang tidak ingin didengar oleh pemimpinnya.

Saya teringat pada Stannis Baratheon, salah satu tokoh dalam seri novel A Song of Ice and Fire karya George R. R. Martin. Stannis bukan sosok yang mudah disukai. Ia keras kepala, kaku, dan memiliki keyakinan kuat bahwa Iron Throne adalah haknya yang sah. Bagi Stannis, menjadi raja bukan semata-mata soal ambisi. Ia merasa sedang menjalankan kewajiban. Ia percaya bahwa hukum berada di pihaknya. Persoalannya, ketika seseorang begitu yakin bahwa dirinya berada di pihak yang benar, masih adakah ruang untuk mempertanyakan cara yang ditempuhnya? Di sinilah dua orang penasihat Stannis menjadi menarik untuk ditelaah, yakni Davos Seaworth dan Melisandre atau Red Lady.

Ilustrasi Davos Seaworth, Stannis Baratheon dan Melisandre (Sumber: ChatGPT)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Davos Seaworth, Stannis Baratheon dan Melisandre (Sumber: ChatGPT)

Antara Davos dan Red Lady

Davos Seaworth bukan bangsawan besar. Ia hanyalah mantan penyelundup yang memperoleh kepercayaan Stannis. Namun, justru karena latar belakangnya itulah Davos sering melihat sesuatu yang luput dari orang-orang yang terlalu sibuk membicarakan takhta, kehormatan, dan kekuasaan. Davos tidak selalu mengatakan apa yang menyenangkan Stannis. Ia berani mengingatkan bahwa sebuah keputusan memiliki konsekuensi. Bahwa di balik ambisi merebut takhta, ada orang-orang yang harus menanggung akibatnya.

Sementara itu, Melisandre menawarkan sesuatu yang berbeda. Ia datang membawa nubuat, keyakinan tentang takdir, dan gambaran bahwa Stannis memiliki peran besar dalam sebuah perjuangan yang jauh melampaui perebutan kekuasaan biasa. Tentu saja, Melisandre bukan sekadar penjilat. Ia sungguh percaya pada apa yang disampaikannya. Stannis pun tidak selalu mengabaikan Davos. Hubungan mereka jauh lebih rumit daripada sekadar pertentangan antara penasihat yang baik dan penasihat yang buruk.

Namun, ada sesuatu yang patut direnungkan dari hubungan ketiganya. Davos mengajak Stannis mempertimbangkan kemungkinan bahwa sebuah keputusan bisa keliru. Melisandre menawarkan keyakinan bahwa perjuangannya memiliki pembenaran yang lebih besar. Bagi seorang pemimpin yang sedang menghadapi ketidakpastian, mana yang lebih menyenangkan untuk didengar? Orang yang mengatakan bahwa jalan di depan penuh risiko, atau orang yang meyakinkan bahwa jalan tersebut memang sudah ditakdirkan untuk dilalui?

Ketika Semua Orang Mengatakan YA!

Dalam kehidupan sehari-hari, kita mengenal istilah Asal Bapak Senang atau ABS. Istilah yang terdengar sederhana ini sebenarnya menyimpan persoalan serius dalam hubungan antara pemimpin dan orang-orang di sekelilingnya. Bayangkan seorang pemimpin mengutarakan sebuah gagasan dalam rapat. Semua orang mengangguk. Sebagian memuji gagasan itu sebagai langkah luar biasa. Sebagian lagi mungkin memiliki keraguan, tetapi memilih diam. Rapat berakhir dengan kesimpulan bahwa semua orang mendukung. Padahal, belum tentu demikian.

Bisa jadi, ada yang sebenarnya tidak setuju. Ada yang mengetahui bahwa rencana tersebut sulit dilaksanakan. Ada pula yang memahami risikonya, tetapi merasa bahwa menyampaikan keberatan hanya akan membuat dirinya kehilangan kepercayaan pemimpin. Inilah yang saya maksud dengan The Politics of Yes Man.

Budaya ini tidak selalu lahir karena seorang pemimpin secara terang-terangan meminta semua orang menyetujuinya. Terkadang, ia tumbuh perlahan ketika orang-orang di sekitar kekuasaan mulai memahami pendapat seperti apa yang disukai dan pendapat mana yang sebaiknya tidak disampaikan. Mereka yang pandai menyenangkan pemimpin semakin dekat dengan kekuasaan. Sementara orang-orang yang terlalu sering mempertanyakan keputusan bisa dianggap tidak sejalan, tidak loyal, atau bahkan menghambat pekerjaan.

Lama-kelamaan, yang tersisa bukan lagi perdebatan tentang benar atau salah. Yang lebih penting adalah bagaimana memastikan pemimpin tetap merasa benar. Ironisnya, seorang pemimpin dalam lingkungan semacam ini mungkin merasa dirinya sangat didukung. Ia melihat semua orang sepakat dengan keputusannya. Ia mendengar laporan yang meyakinkan dan menerima pujian atas setiap langkahnya. Padahal, bisa jadi yang sedang terjadi justru sebaliknya. Ia semakin jauh dari kenyataan.

Bahaya Merasa Selalu Benar

Dalam psikologi dikenal istilah confirmation bias atau bias konfirmasi. Sederhananya, manusia cenderung lebih mudah menerima informasi yang sesuai dengan keyakinannya dan lebih sulit menerima informasi yang bertentangan dengannya. Kecenderungan ini manusiawi. Kita semua bisa mengalaminya. Namun, ketika bias yang sama hadir dalam lingkaran kekuasaan, akibatnya bisa jauh lebih besar. Sebab, keputusan seorang pemimpin tidak hanya menyangkut dirinya sendiri.

Di sinilah kisah Stannis menjadi relevan. Keyakinannya tentang hak atas takhta memberikan alasan kuat untuk terus berjuang. Namun, merasa memiliki tujuan yang benar tidak berarti setiap tindakan untuk mencapai tujuan itu otomatis benar. Sebuah keputusan tetap perlu dipertanyakan. Sebuah pengorbanan tetap harus dijelaskan. Sebuah peringatan tetap layak didengar, bahkan ketika datang dari orang yang tidak memiliki gelar atau kedudukan tinggi.

Kita tentu tidak bisa berharap seorang pemimpin selalu mengikuti nasihat Davos. Tidak semua kritik benar dan tidak setiap keputusan yang berisiko harus dibatalkan. Namun, setidaknya seorang pemimpin harus mampu membedakan antara orang yang berani menyampaikan kebenaran dan orang yang hanya pandai mengatakan hal-hal yang ingin didengarnya. Sebab, kesetiaan kepada pemimpin tidak seharusnya berarti kewajiban untuk selalu membenarkannya. Barangkali, justru orang yang berani mengatakan bahwa pemimpinnya keliru sedang menunjukkan bentuk kesetiaan yang paling berharga.

Siapa yang Membayar Harganya?

Ada satu hal yang sering terlupakan ketika kita membicarakan ambisi, keyakinan, dan keputusan seorang pemimpin: siapa yang menanggung akibat ketika keputusan itu ternyata salah? Dalam kisah-kisah perebutan kekuasaan, para raja membicarakan takhta dan kemenangan. Para penasihat berdebat tentang strategi. Namun, ketika keputusan mereka berakhir buruk, yang harus menanggung akibatnya sering kali justru orang-orang yang tidak pernah dilibatkan dalam perdebatan tersebut.

Hal serupa dapat terjadi di luar dunia fiksi. Sebuah keputusan mungkin dibuat di ruang yang nyaman, melalui rapat yang penuh persetujuan, dan diumumkan dengan keyakinan bahwa semuanya akan berjalan baik. Tetapi ketika keputusan itu gagal, akibatnya bisa dirasakan oleh jauh lebih banyak orang daripada mereka yang ikut membuatnya. Karena itu, ukuran kepemimpinan seharusnya tidak berhenti pada seberapa besar keyakinan seorang pemimpin terhadap visinya. Kita juga perlu melihat seberapa besar kesediaannya untuk menerima kenyataan ketika kenyataan tersebut tidak sesuai dengan keinginannya.

Stannis Baratheon mengingatkan kita bahwa memiliki keyakinan kuat tidak selalu sama dengan memiliki penilaian yang tepat. Mungkin itulah ironi terbesar dari The Politics of Yes Man. Seorang pemimpin bisa merasa semakin kuat karena semua orang di sekelilingnya mengatakan bahwa ia benar. Padahal, pada saat yang sama, ia mungkin sedang kehilangan sesuatu yang jauh lebih penting: kesempatan untuk mengetahui bahwa dirinya salah. Ketika seorang pemimpin lebih suka mendengar apa yang ingin ia dengar daripada apa yang perlu ia dengar, siapa yang akhirnya membayar harganya?