Konten dari Pengguna

Anak Sekarang Tumbuh Bersama Layar, Apa yang Hilang?

Frisca Dwi Aryantri

Frisca Dwi Aryantri

Mahasiswa Universitas Negeri Jakarta

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Frisca Dwi Aryantri tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Hari ini, memberikan gawai kepada anak mungkin sudah menjadi hal yang biasa. Ketika anak mulai bosan, sebuah video bisa menjadi hiburan. Ketika anak rewel, layar sering kali menjadi cara cepat untuk membuatnya tenang. Bahkan, tidak sedikit anak yang sudah terbiasa menggunakan gawai sejak usia dini.

Menurut saya, persoalannya bukan sekadar tentang boleh atau tidaknya anak menggunakan gawai. Teknologi memang sudah menjadi bagian dari kehidupan dan sulit untuk benar-benar dipisahkan dari anak-anak. Yang perlu kita pikirkan adalah apa yang terjadi ketika layar mulai mengambil terlalu banyak ruang dalam kehidupan mereka.

Anak-anak belajar bukan hanya dari apa yang mereka lihat di layar. Mereka juga belajar ketika bermain bersama teman, berbicara dengan orang tua, bertanya kepada guru, berlari di halaman, menyentuh benda di sekitarnya, atau sekadar mengamati lingkungan. Dari kegiatan sederhana seperti itulah anak mendapatkan banyak pengalaman.

Keterangan: Anak bermain gadget Sumber: Shutterstock

Saya terkadang berpikir, ketika seorang anak lebih sering menghabiskan waktunya dengan layar, berapa banyak pengalaman sederhana yang mungkin terlewat?

Mungkin ia kehilangan kesempatan untuk bermain bersama teman. Mungkin ia menjadi lebih jarang mengajak orang tua berbicara. Mungkin ia tidak memiliki cukup kesempatan untuk bermain dengan benda-benda di sekitarnya dan menggunakan imajinasinya sendiri. Bukan berarti semua itu pasti terjadi hanya karena anak menggunakan gawai, tetapi menurut saya, hal tersebut perlu menjadi perhatian.

Masalahnya, layar memang menawarkan sesuatu yang sangat menarik bagi anak. Video yang bergerak cepat, suara, warna, dan berbagai macam permainan dapat membuat anak betah berlama-lama. Dibandingkan dengan bermain menggunakan benda sederhana yang membutuhkan imajinasi, layar tentu terasa lebih mudah dan menarik.

Namun, menurut saya, justru di sinilah peran orang dewasa menjadi penting. Anak tidak selalu bisa menentukan sendiri apa yang baik untuk dirinya. Orang tua dan orang dewasa di sekitarnya perlu membantu anak mengenal batas dan memberikan pilihan aktivitas yang beragam.

Saya juga tidak setuju jika gawai selalu dianggap sebagai sesuatu yang buruk. Ada banyak konten edukatif yang dapat membantu anak belajar. Anak juga dapat mengenal berbagai pengetahuan yang sebelumnya mungkin sulit mereka temukan. Artinya, persoalannya bukan terletak pada keberadaan teknologinya, tetapi pada bagaimana teknologi tersebut digunakan.

Menurut saya, yang lebih penting daripada sekadar melarang anak menggunakan gawai adalah memastikan bahwa dunia anak tidak hanya berisi layar.

Anak tetap membutuhkan bermain. Anak tetap membutuhkan percakapan. Anak tetap membutuhkan kesempatan untuk bergerak, bereksplorasi, berimajinasi, dan berinteraksi dengan orang lain. Hal-hal tersebut tidak selalu bisa digantikan oleh teknologi.

Di sinilah saya melihat bahwa pendidikan anak usia dini memiliki peran yang sangat penting. Pendidikan tidak seharusnya hanya membuat anak mengenal banyak informasi, tetapi juga membantu mereka belajar berinteraksi, bekerja sama, mengenali perasaan, dan memahami lingkungan di sekitarnya.

Menurut saya, penerapan nilai-nilai Pancasila dalam persoalan ini juga bisa dimulai dari hal sederhana. Anak perlu diperlakukan sebagai manusia yang memiliki kebutuhan untuk didengar, diajak berinteraksi, dan dihargai. Kepedulian terhadap perkembangan anak bukan hanya tanggung jawab sekolah, tetapi juga keluarga dan lingkungan masyarakat.

Kita hidup di zaman yang berbeda dari generasi sebelumnya. Anak-anak sekarang akan tumbuh bersama teknologi, dan itu bukan sesuatu yang harus kita takuti. Justru, tugas kita adalah membantu mereka tumbuh sebagai pengguna teknologi yang tetap memiliki kemampuan untuk berinteraksi dan peduli terhadap lingkungan sekitarnya.

Pada akhirnya, saya tidak ingin melihat persoalan ini hanya sebagai pertanyaan tentang berapa lama anak boleh menggunakan gawai. Menurut saya, ada pertanyaan yang jauh lebih penting: apakah di luar layar anak masih memiliki cukup ruang untuk menjadi anak-anak?

Karena masa kanak-kanak tidak hanya tentang apa yang mereka tonton. Ada banyak hal yang perlu mereka rasakan, lakukan, tanyakan, dan temukan sendiri.

Layar mungkin bisa memberikan banyak hal kepada anak. Tetapi jangan sampai karena terlalu sibuk memberikan layar, kita justru lupa memberikan mereka dunia nyata.