Viral Bukan Berarti Benar

Mahasiswa Universitas Negeri Jakarta
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Frisca Dwi Aryantri tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Di media sosial, informasi bisa menyebar dalam hitungan menit. Setiap hari ada saja berita atau kejadian yang menjadi viral dan ramai dibicarakn. Namun, menurut saya, sesuatu yang viral tidak selalu berarti benar.
Sering kali kita langsung percaya hanya karena informasi tersebut sudah dilihat atau dibagikan banyak orang. Padahal, belum tentu kita mengetahui cerita secara lengkap. Kita mungkin hanya membaca judul, melihat potongan video, lalu ikut memberikan pendapat tanpa mencari tahu kebenarannya.

Menurut saya, kebiasaan seperti ini perlu diperhatikan. Informasi yang salah bisa memengaruhi pandangan seseorang terhadap suatu kejadian atau bahkan merugikan orang lain. Karena itu, sebelum membagikan sesuatu, kita bisa mulai dengan membaca informasi secara lengkap, melihat sumbernya, dan memastikan kebenarannya.
Hal tersebut juga berkaitan dengan nilai pancasila. Sila keempat mengajarkan pentingnya bersikap bijaksana sebelum mengambil keputusan atau menyampaikan pendapat. Di media sosial, sikap tersebut dapat dilakukan dengan tidak terburu-buru mempercayai informasi yang belum jelas.
Selain itu, sila kedua yaitu "Kemanusiaan yang Adil dan Beradab", juga dapat diterapkan dengan tidak menyebarkan informasi yang dapat merugikan atau menyudutkan orang lain. Menurut saya, tanggung jawab dalam menggunakan media sosial juga merupakan bentuk menghargai sesama.
Pada akhirnya, mengikuti sesuatu yang sedang viral bukanlah masalah. Yang penting, kita tidak langsung menganggapnya sebagai kebenaran. Viral boleh, percaya jangan buru-buru. Periksa dulu sebelum ikut menyebarkan.
