Bon Odori: Tarian Musim Panas di Jepang

Mahasiswa Sastra Jepang di Universitas Andalas
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Frisnadhea Gusvita tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kalau kamu suka festival Jepang, kamu pasti pernah dengar tentang Bon Odori, kan? Bon Odori sekarang sudah tersebar ke berbagai negara, termasuk di Asia Tenggara loh! Jadi meski jauh dari Jepang, kita tetap bisa merasakan vibe musim panas Jepang lewat tarian, makanan, dan suasana festivalnya. Yuk, kenalan lebih dekat dengan tradisi seru satu ini!
Bon Odori (盆踊り) terdiri dari kata 盆 (bon) yang berarti baki, dan 踊り (odori) yang berarti tarian. Dalam konteks ini, Bon odori adalah tarian tradisional Jepang yang sudah menjadi tradisi pelaksanaan tahunan pada musim panas. Sangkut pautnya dengan baki dikarenakan tarian ini dilakukan pada saat festival Obon, yaitu ritual dari gabungan antara kepercayaan Jepang kuno dan Buddhisme tentang penghormatan terhadap leluhur. Bon Odori sendiri bertujuan sebagai salah satu bentuk penghormatan sekaligus penyambutan arwah leluhur tersebut.
Secara garis besarnya, Bon Odori merupakan acara menari bersama yang dilakukan pada saat perayaan Obon. Secara historis, tarian ini melambangkan kegembiraan karena roh-roh telah terbebas dari penderitaan. Obon, berarti meletakkan nampan sebagai persembahan bagi arwah nenek moyang terdahulu, merupakan tradisi yang sudah ada sejak abad ke-8 pada musim panas di Jepang. Meskipun awalnya obon merupakan sebagai tradisi keagamaan, fungsinya berubah menjadi hari libur nasional pada musim panas. Pulang kampung, bersilahturahmi dengan keluarga besar, dan menikmati festival, ada berbagai kegiatan yang bisa dilakukan pada saat perayaan tersebut.
Bon Odori dilaksanakan di berbagai daerah di Jepang, dan tiap daerah memiliki ciri khas wilayahnya masing-masing. Setiap daerah mempunyai tarian dan musik sendiri, sehingga menciptakan ragam jenis tarian Bon. Seperti di daerah Tokushima, identik dengan Awa Odori, di Hokkaido dengan nama Soran Bushi, Tokyo Ondo di Tokyo, Gujo Odori di prefektur Gifu, dan sebagainya. Bahkan salah satu daerah pernah mendapat penghargaan tinggi dikarenakan tariannya yang anggun, daerah itu merupakan Kota Ugo, di prefektur Akita dengan tarian yang bernama “Nishimonai Bon Odori”.
Cara melakukan tarian Bon ini tergantung dengan wilayah daerah masing-masing, namun umumnya tariannya dilakukan dengan para partisipan mengelilingi panggung kayu yang berada di tengah yang disebut Yagura, lalu menari sembari berputar searah jarum jam. Para penari biasanya menggunakan yukata, namun tidak ada aturan khusus terhadap kode pakaian. Para partisipan acara diperbolehkan untuk ikut menari bersama, bahkan sangat dianjurkan. Tidak ada batasan usia, wanita atau lelaki, turis asing maupun penduduk lokal untuk ikut serta dalam tarian Bon.
Properti pada Bon Odori juga beragam, umumnya para penari akan menggunakan kipas, namun ada keadaan tertentu di mana para penari menggunakan handuk kecil yang disebut tenugui, atau menggunakan kentongan kayu kecil yang disebut kachi-kachi. Musik yang dimainkan pada Bon Odori juga beragam, biasanya musik tersebut dimainkan dengan rekaman kaset, namun ada juga beberapa desa yang menggunakan alat-alat musik tradisional seperti gendang taiko, drum tsuzume, lonceng genta, seruling, dan semacamnya. Banyak lagu Bon Odori memiliki vokal yang berulang. Liriknya biasanya mengangkat tentang kehidupan rakyat, musim panas, kerja, atau rasa terima kasih pada leluhur.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa Bon Odori adalah tarian tradisional Jepang yang menjadi bagian penting dari perayaan Obon, yang merupakan sebuah tradisi musim panas untuk menghormati dan menyambut arwah leluhur. Bon Odori dilakukan di berbagai daerah Jepang dengan ciri khas masing-masing, baik dari segi tarian maupun musik. Tarian ini biasanya dilakukan mengelilingi panggung Yagura, diiringi musik tradisional atau rekaman, dan menggunakan properti seperti kipas atau tenugui. Bon Odori terbuka untuk semua orang tanpa batasan usia atau status, sehingga menjadi simbol kegembiraan, kebersamaan, serta rasa syukur kepada leluhur.
Jadi, kalau suatu hari kamu pergi liburan dan melihat ada festival Bon Odori, jangan ragu buat mampir dan ikut menari bersama. Siapkan yukata, ajak teman-temanmu, dan biarkan musiknya membawa kamu masuk ke suasana hangat khas musim panas Jepang.
