Jika Hidup adalah Sistem, Mengapa Kita Masih Sering Error?

Mahasiswa Universitas Pamulang prodi Ilmu Komunikasi
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Anasya Gesty Erawati tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pernahkah Anda merasa bahwa hidup Anda sudah direncanakan dengan sangat matang, namun di tengah jalan segalanya mendadak berantakan? Mengapa keputusan yang kita ambil terkadang meleset, hubungan interpersonal kita mendadak renggang, atau strategi hidup kita mengalami kegagalan alias "error"?
Banyak orang mengira bahwa error atau kesalahan dalam hidup terjadi karena nasib buruk atau kebetulan semata. Namun, jika kita melihatnya dari kacamata Ilmu Komunikasi, khususnya Tradisi Sibernetika, manusia dan kehidupannya sebenarnya adalah sebuah sistem kompleks. Di dalam sistem tersebut, setiap aspek fisik, biologis, sosial, dan perilaku kita saling berinteraksi, bergantung, dan memengaruhi satu sama lainnya. Ketika hidup kita mengalami error, itu bukan tanda bahwa kita gagal total, melainkan indikasi bahwa ada dinamika putaran umpan balik (feedback loop) yang sedang bekerja menuntut perubahan.
Tradisi Sibernetika: Memahami Manusia sebagai Sistem Kompleks
Dalam Teori Komunikasi, sibernetika (cybernetics) dipahami sebagai tradisi sistem-sistem kompleks di mana komunikasi berfungsi sebagai variabel-variabel yang saling memengaruhi, membentuk, serta mengontrol karakter keseluruhan sistem. Kata sibernetik sendiri berasal dari bahasa Yunani yang berarti pengendali atau pilot. Logikanya sama seperti sebuah pesawat terbang: bagaimana ia bisa tetap mengatur dirinya melawan gaya gravitasi, arus angin, dan daya eksternal lainnya agar tetap berada pada rute yang benar? Hal ini bisa terjadi karena adanya sistem di dalam sistem.
Inti dari pemikiran sibernetika adalah ide bahwa sistem adalah seperangkat komponen yang saling berinteraksi, yang bersama-sama membentuk sesuatu yang lebih dari sekadar sejumlah bagian. Ketika kita mengalami error, para pakar sibernetika sebenarnya tidak tertarik pada kesalahan itu sendiri, melainkan lebih tertarik pada bagaimana sistem tubuh, pikiran, dan sosial kita mengatur diri untuk menyokong, mengontrol, dan mempertahankan keseimbangan (homeostasis) dari waktu ke waktu di tengah lingkungan yang dinamis.
Mengapa Kita Sering Error? Membedah Akar Masalah Lewat Struktur Sistem
Berdasarkan variasi dan prinsip dalam tradisi sibernetika, ada beberapa alasan ilmiah mengapa manusia sering mengalami error dalam pengolahan informasi dan perilakunya:
Sistem Informasi yang Menentukan Proses: Merujuk pada teori belajar sibernetik, hal terpenting dalam hidup manusia adalah "Sistem Informasi" dari apa yang dipelajari. Error terjadi ketika informasi yang kita monitor, olah, dan susun strateginya mengalami distorsi atau ketidaksesuaian. Karena tidak ada satu jenis cara belajar atau adaptasi yang ideal untuk segala situasi, kesalahan strategi adalah hal yang wajar dalam proses pengolahan informasi.
Tekanan Keterkaitan (Subsistem): Bagian apa pun dari sistem diri kita selalu berada pada tekanan akan keterkaitannya dengan bagian lain. Misalnya, ketika subsistem biologis kita terganggu (stres atau lelah), ia akan menekan subsistem sosial kita (cara kita berkomunikasi dengan keluarga atau rekan kerja), sehingga memicu error dalam interaksi.
Krisis Input Baru: Sebuah sistem tidak akan mampu bertahan hidup tanpa mendatangkan asupan-asupan baru dalam bentuk input dari lingkungannya. Kita sering kali error karena menutup diri dari lingkungan, sehingga kekurangan informasi atau energi baru untuk memproses dan menciptakan timbal balik (output) yang sehat.
Memperbaiki Error Hidup dengan Prinsip Sibernetika
Untuk meminimalisasi error dan mengembalikan regulasi diri (self-regulation and control), kita dapat mengadopsi lima prinsip utama dari mekanisme sibernetika dalam kehidupan sehari-hari:
1 Tetapkan Sasaran (Goal Setting): Mekanisme dalam diri individu harus mempunyai sasaran yang jelas. Jika sasaran hidup atau hubungan Anda sudah ditentukan, mekanisme sibernetika dalam otak Anda akan otomatis mengarahkan seluruh subsistem diri untuk bergerak menuju sasaran tersebut.
2 Percaya (Trust): Sistem sibernetika beroperasi atas orientasi pada hasil akhir. Tanpa rasa percaya terhadap proses dan sistem yang sedang berjalan, komunikasi interpersonal akan pupus dan sistem kontrol diri akan goyah.
3 Rileks (Relax): Jangan takut membuat kesalahan yang sifatnya sementara demi perubahan yang lebih baik. Menjalani sistem hidup tanpa ketegangan dan mengomunikasikan segala hal secara efektif akan membantu menjaga kestabilan sistem diri.
4 Belajar (Learn): Belajar keterampilan hidup apa pun selalu melibatkan proses coba-coba (trial and error). Melalui putaran timbal balik (feedback), secara mental kita harus mengoreksi sasaran setelah timbulnya kekeliruan. Lupakan kekeliruan masa lalu, tapi ingatlah respon suksesnya untuk diaplikasikan kembali.
5 Lakukan (Do It): Lakukan semua hal yang sudah menjadi komitmen atau kesepakatan sistem. Saling bersinergi dengan lingkungan dan orang-orang di sekitar kita untuk bertindak sesuai visi-misi akan menciptakan hubungan dan sistem hidup yang jauh lebih harmonis.
Pada akhirnya, menjadi manusia yang hidup di dalam sistem berarti kita harus siap menerima dua hal yang pasti: keseimbangan dan perubahan. Mengalami error bukan berarti sistem kita rusak permanen; itu adalah cara sibernetika bekerja—sebuah arus putar dua arah yang memberi kita umpan balik untuk mengevaluasi diri, menyesuaikan kemudi, dan kembali mengendalikan rute perjalanan hidup dengan lebih cerdas.
