Revolusi Pemikiran Ki Hajar Dewantara Terhadap Peserta Calon Guru Penggerak

Guru di SDN Kalirejo 3 Kabupaten Magelang CGP angkatan 8 Google Master Certified
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Fuji Zanuari Astutik tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Murid dalam keyakinan guru mempunyai kemampuan yang sama. Guru masih menganut teori tabularasa menurut John Locke di mana murid dianggap sebagai kertas kosong yang dapat di tulis sesuai dengan keinginan orang dewasa. Sehingga, dalam praktiknya guru masih menggunakan pengajaran jadul.
Tugas murid hanya mendengarkan ceramah dari guru. Hanya terjadi komunikasi 1 arah, pembelajaran di kelas pun sangat membosankan. Tujuan pembelajaran yang diharapkan tidak tercapai, guru cenderung menyalahkan murid karena tidak memperhatikan saat guru menerangkan. Hal ini tentunya bertolak belakang dengan pemikiran Ki Hajar Dewantara.
Modul 1 pada pendidikan guru penggerak ini mengubah pemikiran yang saya sebutkan di atas. Dasar pemikiran Ki Hajar Dewantara yang harus kita anut ada enam.
Pertama adalah menuntun yang artinya kita sebagai pendidik harus bisa membimbing, melayani, dan memberikan fasilitas sebaik-baiknya segala kekuatan kodrat yang dimiliki oleh anak dengan tujuan agar mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya sebagai manusia maupun sebagai anggota masyarakat (KHD. 1936. Dasar-Dasar Pemikiran, halaman 1 paragraf 4).
Wujud nyata dari arti menuntun adalah dengan melaksanakan pembelajaran yang sesuai dengan prinsip Ki Hajar Dewantara yaitu ing ngarso sung tulodho (di depan memberi contoh), ing madya mangun karya (dalam proses belajar mendampingi dan memfasilitasi), dan tur wuri handayani (di belakang memberi dukungan).
Kedua, sesuai kodrat anak (kompetensi) yang dimiliki anak. Kodrat alam merupakan sifat dan bentuk di mana lingkungan anak itu berada. Lingkungan akan memengaruhi cara belajar dan tingkah laku anak.
Kodrat zaman yaitu pendidikan harus menekankan pada keterampilan abad 21 di mana guru harus membekali anak untuk menghadapi zaman yang semakin berubah. Tidak hanya anak, namun guru harus bisa open mind terhadap perkembangan zaman. Jadilah guru kekinian jangan kekunoan. Pembelajaran di kelas harus humanistik karena pembelajaran yang merdeka adalah hak setiap anak.
Ketiga, kodrat anak adalah bermain. Setiap jenjang pendidikan mempunyai peserta didik dengan tahapan usia yang berbeda-beda. Saya adalah seorang guru di jenjang sekolah dasar, di mana pada tahap ini peserta didik masuk dalam tahap wiraga dan wirama.
Peserta didik belum bisa belajar secara mandiri atau melaksanakan pembelajaran secara andragogi. Pembelajaran harus dilaksanakan menggunakan games, sesuai dengan kodrat usia mereka. Guru harus bisa menggunakan berbagai metode dalam pembelajarannya. Contohnya untuk melatih kemampuan berhitung anak kelas satu pembelajaran menggunakan permainan dakon (congklak).
Keempat, anak bukan kertas kosong yang dapat digambar sesuai dengan keinginan orang dewasa. Guru di sini tugasnya adalah menuntun, membantu dan memfasilitasi anak untuk menebalkan garis samar-samar (potensi) agar dapat mencapai potensi yang maksimal dan memperbaiki tingkah lakunya untuk menjadi manusia seutuhnya yang bermanfaat bagi manusia lainya.
Kelima, budi pekerti. Budi artinya adalah emosi, perasaan ataupun kehendak manusia, sedangkan pekerti adalah tenaga. Menurut pemikiran Ki Hajar Dewantara harus ada keseimbangan antara cipta, Rasa, karsa dan pekerti agar menimbulkan semangat yang tinggi. Contoh dalam pendidikan kita memberikan pelayanan ekstrakurikuler gamelan.
Keenam, guru diibaratkan sebagai petani. Murid diibaratkan sebagai benih-benih yang siap disemai. Tugas guru adalah menuntun tumbuhnya benih-benih itu. Guru memperbaiki kondisi tanah, memelihara tanaman tersebut dengan cara memberikan pupuk, tentunya pada anak memberikan pengajaran-pengajaran yang baik dan membasmi dari hama yang mengganggu tanaman terebut.
Dasar pemikiran Ki Hajar Dewantara tersebut dapat kita terapkan di sekolah kita untuk mewujudkan Implementasi Kurikulum Merdeka (IKM). Kegiatan yang dapat diterapkan antara lain dengan cara berbaris di depan kelas sebelum masuk kelas.
Ini cara lama yang sudah banyak ditinggalkan. Padahal kedisiplinan siswa dapat diterapkan dengan melakukan pembiasaan ini. Berilah dua pilihan yaitu tos atau peluk sebelum masuk kelas. Hal ini berguna untuk memberi perhatian siswa serta meningkatkan motivasi siswa.
Selanjutnya, selalu berikan salam ketika masuk atau selesai pembelajaran dan ketika berpapasan dengan guru di jalan. Salam berarti mendoakan semoga kita semua selamat. Kemudian, melaksanakan pembelajaran sesuai kodrat anak, di mana saya sebagai guru akan menggunakan berbagai macam games campuran berbasis teknologi maupun tradisional dalam pembelajaran.
Alasannya adalah ketika kita menggunakan permainan tradisional adalah nguri-uri budaya Jawa sesuai dengan pemikiran Ki Hajar Dewantara pembelajaran sesuai sosio-kultural di daerah saya. Sedangkan saat menggunakan pembelajaran berbasis teknologi anak-anak belajar sesuai dengan kodrat zaman.
Anak harus bisa menggunakan keterampilan abad 21 ini. Aplikasi games yang dapat digunakan adalah Kahoot, Wordwall, Educandy, dan masih banyak aplikasi lain yang dapat kita gunakan. Untuk ulangan harian kita dapat menggunakan Liveworksheet dan Quiziz.
Lalu, memberikan keleluasaan berpendapat pada peserta didik, agar mereka dapat berlatih untuk berkomunikasi dengan baik. Dan, terakhir, saya akan melakukan refleksi diri, refleksi kepada siswa dan juga refleksi dengan teman sejawat. Hal ini berguna untuk mengetahui apa yang kurang dan apa yang dapat ditingkatkan dari pembelajaran yang sudah saya laksanakan.
