Konten dari Pengguna

Budak FYP : Menggugat Hegemoni Algoritma Lewat Eksistensalisme

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Fadhila Alifia Tsabitah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber: Unsplash
zoom-in-whitePerbesar
Sumber: Unsplash

Pernahkah kalian scrolling handphone seharian dan merasa seperti disetir oleh beranda? Ketika muncul orang lain yang mengenakan baju A kalian menginginkannnya, ada orang lain me-review makanan B kalian craving juga. Anehnya tidak sekadar makanan dan pakaian saja, tetapi sampai gaya hidup pun sekarang banyak yang mengikuti For Your Page (FYP). Akibatnya apa? Kita akan kehilangan keunikan diri kita sendiri, apa yang harusnya menjadi pilihan individual menjadi standar bersama.

Hal itu bisa dimaknai sebagai hegemoni. Filsuf Antonio Gramsci dalam bukunya, Prison Notebooks (1971), yang menjelaskan bahwa hegemoni adalah bentuk kendali kelas penguasa melalui budaya dan ideologi. Saat ini banyak sekali terjadi hegemoni dalam bermedia sosial, contohnya dalam konteks kecantikan, kebanyakan orang Indonesia menganggap perempuan cantik itu harus putih, tinggi, berambut lurus dan sebagainya, hal tersebut terjadi juga pada media sosial. Ketika ada orang yang tidak memenuhi kriteria di atas maka dianggap sebagai perempuan yang tidak cantik.

Begitu pula dengan konteks lainnya seperti gaya hidup, yaitu ketika banyak konten kreator berada di tempat yang viral, contoh kafe X lalu penonton mengikuti gaya tersebut dengan alibi tempatnya bagus, padahal mereka sedang diatur hidupnya. Secara tidak langsung oleh apa yang ditontonnya. Hal tersebut sering terjadi karena apa yang menurutnya bahagia, maka mereka rela menganggap itu adalah pilihannya sendiri. Sedangkan jika ingin mendapatkan tempat yang bagus atau sebagainya tidak harus mengikuti figur pada media sosial.

Dampak dari perlakuan di atas dapat dilihat ketika kita sudah mulai bingung memprioritaskan antara kepentingan pribadi atau hanya mengikuti media sosial saja. Hal tersebut yang perlu diubah dari pemikiran kita, karena dengan menjadi apa yang kita lihat tidak akan membuat diri kita istimewa, malah akan menjadi pribadi yang tidak memiliki prinsip, hidupnya mengalir mengikuti arus media sosial, dan bahkan kehilangan esensi diri sendiri.

Standardisasi media sosial itulah yang membuat kebanyakan masyarakat sekarang ini kerap mengikuti apa yang orang lain lakukan. Menurut tokoh filsafat yaitu Jean-Paul Sartre dalam bukunya, Being and Nothingness (1943) dijelaskan bahwasa diri kita yang memegang kendali atas kehendak hidup, Sartre menegaskan konsep existence precedes essence (eksistensi mendahului esensi), artinya kebebasan menentukan hidup inilah yang menjadi hak istimewa tiap manusia. Sungguh rugi orang yang sudah memiliki kebebasan untuk memaknai hidupnya tetapi lebih memilih dikendalikan oleh standar media sosial.

Menghilangkan standarisasi di atas memang susah dan memerlukan upaya yang lebih, sebab sekarang ini masyarakat sudah lekat dengan hegemoni seperti itu, kita sudah terlanjur nyaman menjadi individu yang seragam. Namun membiarkan diri menjadi pribadi yang mudah disetir akan membuat lupa bahwasanya diri kita juga memiliki esensi hidup.

Oleh sebab itu, kita harus mulai menentukan makna hidup kita sendiri. Hal yang membuat diri kita bahagia tanpa melihat standar media sosial. Apapun yang menurut kita cantik, makanan yang menurut kita enak, tempat yang menurut kita bagus, tidak selalu berdasarkan dari hal-hal yang viral saja. Menjadi berbeda di tengah era sekarang ini memang tidak mudah. Namun, setidaknya kita tahu bahwa kita masih memiliki pikiran kita sendiri, bukan sekadar salinan dari orang lain.

Seperti yang dijelaskan oleh Jean-Paul Sartre mengenai pentingnya menjaga keotentikan diri agar manusia tidak jatuh ke dalam perangkapan kebohongan publik (bad faith) dimana kita sebagai manusia yang tak lepas dari sosial media mampu membedakan dan benar-benar bertanya apakah hal yang akan kita ikuti murni dari kemauan diri sendiri, atau hanyalah sekadar tidak ingin tertinggal oleh dunia FYP. Hal tersebut bentuk pencegahan dari maraknya fenomena di atas.

Selain bentuk pencegahan dari dalam diri, kita juga harus berani mengekspresikan gaya hidup maupun penampilan berdasarkan pendirian sendiri di ruang publik nyata. Tindakan kolektif di dunia fisik ini sejalan dengan konsep kontra-hegemoni (counter-hegemony) dari Antonio Gramsci untuk menolak penyeragaman budaya. Perlawanan nyata ini bisa kita saksikan sekarang, dimana perempuan secara kolektif mendobrak standardisasi kecantikan yang kaku. Mereka yang berambut keriting dan mempunyai kulit berwarna tan kini mulai tampil percaya diri, bahkan melahirkan subkultur baru seperti “baddie”. Perlawanan ini juga merambah pada kebebasan memilih tempat sesuai kenyamanan diri tanpa harus mendikte pilihan hidup kita.