Budayakan Eksistensialisme dalam Menentukan Pilihan

Saya adalah seorang Mahasiswi baru tahun 2025 Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga yang sedang menempuh pendidikan pada Program Studi S1 Bahasa dan Sastra Indonesia.
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Fadhila Alifia Tsabitah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pernahkah kalian scrolling handphone seharian dan merasa seperti disetir oleh beranda? Ketika muncul orang lain yang mengenakan baju A kalian menginginkannnya, ada orang lain me-review makanan B kalian craving juga. Anehnya tidak sekadar makanan dan pakaian saja, tetapi sampai gaya hidup pun sekarang banyak yang mengikuti For Your Page (FYP). Akibatnya apa? Kita akan kehilangan keunikan diri kita sendiri, apa yang harusnya menjadi pilihan individual menjadi standar bersama.
Hal itu bisa dimaknai sebagai hegemoni, yaitu bagaimana sebuah standarisasi kelompok mengatur gaya hidup hingga menghilangkan jati diri. Saat ini banyak sekali terjadi hegemoni dalam bermedia sosial, contohnya dalam konteks kecantikan, kebanyakan orang Indonesia menganggap perempuan cantik itu harus putih, tinggi, berambut lurus dan sebagainya, hal tersebut terjadi juga pada media sosial. Ketika ada orang yang tidak memenuhi kriteria diatas maka dianggap sebagai perempuan yang tidak cantik.
Begitu pula dengan konteks lainnya seperti gaya hidup, yaitu ketika banyak konten kreator berada pada tempat yang viral, contoh kafe X dan yang menonton mengikuti gaya tersebut dengan alibi tempatnya bagus, padahal mereka sedang diatur hidupnya secara tidak langsung oleh apa yang ditontonnya. Hal tersebut sering terjadi karena apa yang menurutnya bahagia, maka mereka rela menganggap itu adalah pilihannya sendiri. Sedangkan jika ingin mendapatkan tempat yang bagus atau sebagainya tidak harus mengikuti figur pada media sosial.
Dampak dari perlakuan di atas dapat dilihat ketika kita sudah mulai bingung memprioritaskan antara kepentingan pribadi atau hanya mengikuti sosial media saja. Hal tersebut yang perlu diubah dari pemikiran kita, karena dengan menjadi apa yang kita lihat tidak akan membuat diri kita istimewa, justru sebaliknya kita akan menjadi pribadi yang tidak memiliki prinsip, hidupnya mengalir mengikuti arus sosial media, dan bahkan kehilangan esensi diri sendiri.
Standarisasi media sosial itulah yang membuat kebanyakan masyarakat sekarang ini kerap mengikuti apa yang orang lain lakukan. Menurut tokoh filsafat yaitu Jean Paul Sartre dalam teori Eksistensialisme dijelaskan bahwasanya diri kita yang memegang kendali atas kehendak hidup, kebebasan menentukan hidup inilah yang menjadi hak istimewa tiap manusia. Sungguh rugi orang yang sudah memiliki kebebasan untuk memaknai hidupnya tetapi lebih memilih dikendalikan oleh standar sosial media.
Menghilangkan standarisasi memang susah dan memerlukan upaya yang lebih, sebab sekarang ini masyarakat sudah lekat dengan hegemoni seperti itu, kita sudah terlanjur nyaman menjadi individu yang seragam. Namun, membiarkan diri menjadi pribadi yang mudah disetir akan membuat lupa bahwasanya diri kita juga memiliki esensi hidup.
Oleh sebab itu, kita harus mulai menentukan makna hidup kita sendiri. Hal yang membuat diri kita bahagia tanpa melihat standar media sosial. Apapun yang menurut kita cantik, makanan yang menurut kita enak, tempat yang menurut kita bagus, tidak selalu berdasarkan dari hal-hal yang viral saja. Menjadi berbeda di tengah era sekarang ini memang tidak mudah. Namun, setidaknya kita tahu bahwa kita masih memiliki pikiran kita sendiri, bukan sekadar salinan dari orang lain.
