Konten dari Pengguna

Yang Tersisa dari Alumnus Guru Penggerak

Fandy Hendrikus Mandang

Fandy Hendrikus Mandang

Guru SMK Katolik St. Familia Tomohon

·waktu baca 3 menit

comment
2
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Fandy Hendrikus Mandang tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

"Program guru penggerak boleh saja berakhir, tapi ilmu dan pengalaman yang didapat akan tetap tinggal kepada para alumninya."

Dokumentasi Pribadi. Pelatihan Guru Penggerak.
zoom-in-whitePerbesar
Dokumentasi Pribadi. Pelatihan Guru Penggerak.

Beberapa tahun terakhir, dunia pendidikan di Indonesia diwarnai oleh berbagai program pengembangan guru, salah satunya adalah Program Guru Penggerak. Program ini tidak hanya dirancang sebagai pelatihan teknis, tetapi sebagai ruang transformasi bagi para pendidik dalam memahami kembali makna pendidikan yang sesungguhnya.

Dalam pelaksanaannya, program ini mendorong para guru untuk merefleksikan pertanyaan-pertanyaan mendasar: untuk siapa proses pembelajaran dilakukan, dan apakah murid benar-benar mengalami proses belajar yang bermakna. Pertanyaan-pertanyaan ini menjadi titik awal perubahan paradigma, dari pembelajaran yang berorientasi pada penyampaian materi menuju pembelajaran yang berfokus pada pemahaman dan pengalaman belajar murid.

Namun, seiring dengan perubahan kebijakan pendidikan, keberlanjutan program ini tidak lagi berjalan seperti sebelumnya. Banyak guru yang telah menyelesaikan program tersebut kembali ke rutinitas mengajar di sekolah masing-masing tanpa lagi berada dalam ekosistem program yang sama. Situasi ini kemudian memunculkan pertanyaan yang lebih luas: apa yang sebenarnya tersisa dari sebuah program ketika ia tidak lagi berjalan secara aktif?

Jawaban atas pertanyaan tersebut tidak terletak pada keberadaan program secara struktural, melainkan pada dampak yang tertanam dalam diri para alumninya. Salah satu perubahan yang paling signifikan adalah pergeseran cara berpikir dalam memandang murid. Murid tidak lagi dilihat semata sebagai objek pembelajaran yang harus menyelesaikan kurikulum, tetapi sebagai individu yang memiliki keunikan, potensi, serta cara belajar yang berbeda-beda.

Perubahan perspektif ini mendorong lahirnya praktik pembelajaran yang lebih beragam dan kontekstual. Guru mulai berupaya menciptakan ruang belajar yang memungkinkan murid untuk berdiskusi, mengeksplorasi ide, serta memahami konsep secara lebih mendalam. Pembelajaran tidak lagi berhenti pada hafalan, tetapi bergerak menuju pemaknaan.

Menariknya, perubahan ini sejalan dengan arah kebijakan pendidikan saat ini yang menekankan pentingnya pembelajaran mendalam. Pendekatan ini menuntut siswa tidak hanya mampu mengingat informasi, tetapi juga memahami konsep, berpikir kritis, serta mengaitkan pengetahuan dengan kehidupan nyata. Dengan demikian, nilai-nilai yang pernah ditanamkan melalui Program Guru Penggerak tetap relevan, bahkan semakin dibutuhkan dalam konteks pendidikan masa kini.

Meski demikian, implementasi pembelajaran mendalam tidak lepas dari berbagai tantangan. Keterbatasan waktu, beban administrasi, serta tuntutan kurikulum sering kali menjadi hambatan dalam menciptakan pembelajaran yang ideal. Dalam situasi seperti ini, satu hal yang menjadi pembeda adalah kebiasaan refleksi yang telah terbentuk.

Refleksi menjadi praktik penting yang membantu guru mengevaluasi proses pembelajaran secara berkelanjutan. Melalui refleksi, guru dapat menilai apakah pembelajaran yang dilakukan benar-benar memberikan makna bagi murid, atau sekadar memenuhi tuntutan formalitas. Kebiasaan ini menjadi fondasi untuk terus melakukan perbaikan, meskipun berada dalam keterbatasan.

Pada akhirnya, yang tersisa dari sebuah program pendidikan bukanlah sekadar label atau pengalaman administratif. Yang bertahan adalah cara pandang, nilai, dan praktik yang terus hidup dalam keseharian guru di ruang kelas. Perubahan besar dalam pendidikan tidak selalu dimulai dari kebijakan berskala nasional, tetapi dari kesadaran kecil yang tumbuh dan dijaga secara konsisten oleh para pendidik.

Dengan demikian, warisan utama dari Program Guru Penggerak bukanlah program itu sendiri, melainkan transformasi cara berpikir yang mendorong pendidikan untuk terus bergerak ke arah yang lebih bermakna.