Konten dari Pengguna

Gaya Bahasa Kaum Milenial Apakah Sesuai?

Fuzi Rizky Ananda

Fuzi Rizky Ananda

Mahasiswa Universitas Pamulang

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Fuzi Rizky Ananda tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kata milenial sudah sering dijumpai di zaman sekarang, kata milenial ini diasumsikan mewakili generasi modern di atas tahun 90-an.

Umum nya generasi milenial sering sekali mencampuradukkan kata yang aneh atau kata dari bahasa asing yang sering disebut bahasa “alay” ke dalam pengucapan sehari-harinya. Tentu saja hal ini adalah kesalahan yang sudah melekat pada generasi milenial. Seharusnya penggunaan bahasa perlu diperhatikan atau menggunakan bahasa indonesia yang tidak dicampur dengan bahasa asing.

Menurut wikipedia Bahasa Alay adalah bahasa pergaulan yang digunakan oleh kelompok alay di Indonesia, khususnya dalam pesan singkat dan internet. Bahasa ini diturunkan dari bahasa Indonesia Gaul yang ditulis menggunakan kombinasi singkatan, huruf, kode, angka dan visualisasi sehingga menjadi ragam bahasa media sosial yang khas.[1][2] Bahasa Alay utamanya digunakan secara tertulis, walau sebagian kata dalam bahasa Alay tetap memiliki keunikan ketika diucapkan, seperti ciyus, miapa.

https://pixabay.com/illustrations/to-learn-school-language-lessons-2001847/

Bisa kita ambil contoh penggunaan kata singkatan "gpl" yang mengandung arti gak pakai lama, atau dengan kata "lo/lw" "Gue/Gw" yang mengandung arti kamu, aku. Bahasa yang digunakan generasi milenial inilah yang tidak mencerminkan bahasa indonesia yang baik dan benar. Dengan dalih manfaat menyingkat kata atau pengucapan nya yang dianggap lebih modern, bahasa indonesia yang baik dan benar mulai tergerus zaman. Alangkah baiknya generasi modern atau milenial juga lebih memperhatikan tata bahasa karena bahasa merupakan jati diri sebuah bangsa.