Impor yang Tak Terlihat
Tulisan dari Fransiskus Xaverius Tyas Prasaja tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Impor tidak selalu datang dalam peti kemas. Meskipun sebuah pabrik berdiri di Indonesia dengan bangunan dan pekerjanya berada di sini, namun pabrik itu tetap melakukan impor jasa melalui lisensi perangkat lunak, konsultasi, perawatan mesin, dan logistik global. Tidak selalu ada peti kemas yang masuk dalam transaksi tersebut. Namun, Indonesia tetap melakukan impor.
Kita sering membayangkan impor sebagai barang yang melewati pelabuhan. Bentuknya dapat berupa minyak, mesin, telepon genggam, atau bahan baku. Padahal, terdapat impor lain yang lebih sulit terlihat: Indonesia juga mengimpor jasa.
Impor Jasa: Tagihan yang Tidak Masuk Peti Kemas
Impor jasa terjadi ketika masyarakat atau perusahaan membeli layanan dari luar negeri. Bentuknya sangat beragam.
Sebuah perusahaan dapat membayar lisensi perangkat lunak. Pabrik dapat membeli jasa rekayasa dan pemeliharaan mesin. Perusahaan teknologi menggunakan komputasi awan milik penyedia global.
Pelaku usaha juga dapat memakai konsultan, asuransi, dan jasa pengiriman asing. Bahkan, iklan digital pada platform global dapat menjadi pembayaran jasa ke luar negeri.
Seluruh transaksi tersebut tidak menambah tumpukan barang di pelabuhan. Namun, pembayarannya tetap mengalir melintasi perbatasan.
Bank Indonesia mencatat transaksi berjalan Indonesia mengalami defisit US$4 miliar pada triwulan pertama 2026. Nilainya setara 1,1 persen produk domestik bruto. Di balik neraca tersebut, perdagangan jasa menjadi salah satu bagian yang perlu diperhatikan.
Pembahasan mengenai sektor eksternal sering berpusat pada ekspor dan impor barang. Kita membicarakan batu bara, sawit, minyak, mesin, dan bahan pangan. Sementara itu, perdagangan jasa jarang memperoleh perhatian serupa.
Padahal, sebuah barang tidak pernah diproduksi sendirian. Di belakangnya terdapat desain, teknologi, pembiayaan, logistik, asuransi, dan pemasaran. Nilai jasa tersebut bahkan dapat melampaui nilai bahan bakunya.
Mengapa Impor Jasa Masih Dibutuhkan?
Penggunaan jasa asing tidak selalu menunjukkan keengganan memakai produk dalam negeri. Dalam banyak kasus, keputusan tersebut bersifat rasional.
Beberapa teknologi memang belum dikuasai perusahaan domestik. Tenaga ahli dengan pengalaman khusus juga masih terbatas. Penyedia lokal belum selalu memiliki skala, sertifikasi, atau rekam jejak internasional.
Pembelian mesin juga sering datang dalam satu paket. Produsen menyediakan instalasi, perangkat lunak, pelatihan, dan pemeliharaan. Perusahaan Indonesia sulit memisahkan layanan tersebut dari barang yang dibeli.
Pada industri transportasi, kebutuhan jasa asing dapat muncul karena keterbatasan armada. Usia kapal, persyaratan emisi, dan jaringan pelayaran juga menjadi pertimbangan.
Sementara itu, perusahaan manufaktur membutuhkan teknologi, jasa rekayasa, pemasok barang modal, dan pengiriman internasional. Banyak layanan tersebut belum sepenuhnya tersedia di dalam negeri.
Karena itu, menggunakan jasa asing bukan tindakan yang keliru. Dunia usaha harus memilih layanan yang aman, andal, dan ekonomis.
Namun, ketergantungan yang berlangsung terus-menerus menimbulkan pertanyaan lain. Kapan Indonesia mulai membangun kemampuan yang sama?
Nilai Tambah yang Ikut Pergi
Impor jasa pertama-tama meningkatkan kebutuhan devisa untuk membayar penyedia global. Perusahaan harus membeli dolar atau mata uang lain untuk membayar penyedia global.
Namun, persoalannya tidak berhenti pada devisa.
Sebagian nilai tambah dari kegiatan ekonomi domestik juga mengalir keluar. Pabriknya berada di Indonesia, tetapi pendapatan dari desain dinikmati perusahaan asing. Produknya dibuat di sini, tetapi lisensi teknologinya dibayar ke luar negeri.
Kita mungkin menguasai kegiatan produksi. Namun, kita belum tentu menguasai pengetahuan yang membuat produksinya berjalan.
Ketergantungan tersebut juga memengaruhi penciptaan pekerjaan berkualitas. Jasa rekayasa, analisis data, keamanan siber, dan desain industri menyediakan pekerjaan berpendapatan tinggi.
Ketika seluruh layanan itu berasal dari luar negeri, pusat pengetahuannya juga berada di sana. Indonesia memperoleh produknya, tetapi kehilangan sebagian kesempatan belajarnya.
Risiko lain muncul ketika terjadi gangguan. Perubahan kontrak, konflik geopolitik, serangan siber, atau pembatasan teknologi dapat menghambat kegiatan domestik.
Pabrik dapat memiliki bahan baku dan pekerja. Namun, produksinya tetap berhenti karena lisensi atau perangkat lunaknya bermasalah.
Dengan demikian, kemampuan menghasilkan jasa modern bukan sekadar agenda perdagangan. Kemampuan itu juga menentukan daya tahan perekonomian.
Keterbukaan Tetap Diperlukan
Solusinya tentu bukan menutup pintu bagi penyedia asing. Pembatasan berlebihan dapat meningkatkan biaya dan menghambat perkembangan industri.
Indonesia tetap membutuhkan teknologi, modal, dan keahlian global. Perusahaan domestik juga perlu belajar dari pelaku terbaik dunia.
Investasi asing bahkan dapat mempercepat pembentukan kemampuan nasional. Syaratnya, investasi tersebut menciptakan pekerjaan, kemitraan, dan perpindahan pengetahuan.
Kemandirian tidak berarti mengerjakan semuanya sendirian. Kemandirian berarti memiliki kemampuan untuk memilih.
Indonesia harus mampu menggunakan jasa global ketika dibutuhkan. Namun, kita juga perlu memiliki alternatif domestik yang kompetitif.
Posisi tawar hanya muncul ketika pilihan tersedia.
Membangun Jasa Modern di Indonesia
Langkah pertama adalah membangun talenta yang sesuai kebutuhan industri. Pendidikan tidak cukup menghasilkan lulusan dengan pengetahuan umum.
Indonesia membutuhkan lebih banyak ahli keamanan siber, komputasi awan, dan analitik data. Industri juga memerlukan insinyur, perancang produk, dan pengelola proyek.
Pelatihan harus semakin dekat dengan persoalan nyata. Mahasiswa dan pekerja muda perlu mengerjakan proyek industri. Sertifikasi juga harus dihubungkan dengan kebutuhan pasar.
Kemampuan tidak tumbuh hanya melalui ruang kelas. Ia tumbuh ketika seseorang menghadapi persoalan dan menyelesaikannya.
Langkah kedua adalah menarik investasi pada sektor jasa bernilai tinggi. Indonesia tidak cukup hanya mengundang pembangunan pabrik.
Pusat penelitian, studio desain, pusat data, dan kantor rekayasa juga penting. Perusahaan global perlu didorong membangun tim dan pemasok lokal.
Kemitraan dengan perguruan tinggi dapat mempercepat proses tersebut. Talenta Indonesia memperoleh pengalaman. Perusahaan asing memperoleh tenaga kerja dan pasar yang lebih kuat.
Langkah ketiga adalah menyediakan pasar pertama bagi perusahaan domestik.
Banyak perusahaan teknologi lokal memiliki kemampuan. Namun, mereka belum memiliki rekam jejak untuk memenangkan proyek besar.
Pemerintah, BUMN, dan korporasi dapat menjadi pembeli pertama yang cerdas. Pengadaan harus tetap mengutamakan mutu dan persaingan sehat.
Namun, kontrak juga dapat mendorong konsorsium dan alih teknologi. Perusahaan lokal tidak hanya menjadi penonton atau penyedia tenaga pendukung.
Mereka harus memperoleh kesempatan menguasai teknologi inti.
Langkah keempat adalah memperkuat riset dan inovasi. Jasa bernilai tinggi lahir dari pengetahuan yang terus diperbarui.
Data terakhir yang tersedia dari Bank Dunia menunjukkan belanja penelitian Indonesia masih sekitar 0,28 persen PDB pada 2020. Angka tersebut memperlihatkan ruang penguatan yang sangat besar.
Riset juga tidak boleh berhenti sebagai laporan. Hasilnya harus berubah menjadi paten, perangkat lunak, produk, dan layanan komersial.
Dari Pengguna Menjadi Pencipta
Pabrik dalam cerita awal mungkin tetap memakai mesin dari luar negeri. Hal itu tidak menjadi masalah.
Namun, perangkat lunaknya kelak dapat dibuat talenta Indonesia. Perawatannya dilakukan teknisi domestik. Desainnya dikembangkan perusahaan lokal.
Kemampuan tersebut bahkan dapat dijual kepada negara lain. Indonesia kemudian tidak hanya mengurangi impor jasa. Kita juga menciptakan sumber ekspor baru.
Selama ini, kita terlalu sering menghitung barang yang masuk melalui pelabuhan. Padahal, banyak nilai ekonomi berpindah tanpa pernah terlihat.
Ia berpindah melalui lisensi, teknologi, konsultasi, dan pengetahuan.
Indonesia harus mulai melihat aliran tersebut. Dari sanalah perjalanan menjadi pencipta dapat dimulai.

