Kredit Tidak Hanya Soal Likuiditas
Tulisan dari Fransiskus Xaverius Tyas Prasaja tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Bayangkan sebuah perusahaan memiliki rencana membuka pabrik baru dan sebenarnya membutuhkan kredit. Bank menawarkan pembiayaan. Dana tersedia. Biaya pinjaman juga mulai lebih menarik. Namun, direksi perusahaan tetap memilih menunggu. Keputusan itu bisa terlihat janggal. Jika uang tersedia, mengapa tidak segera berinvestasi?
Jawabannya sederhana. Dunia usaha tidak meminjam hanya karena kredit tersedia. Mereka meminjam ketika melihat peluang yang cukup menjanjikan untuk membayar kembali pinjaman tersebut.
Di sinilah hubungan antara likuiditas dan kredit menjadi lebih kompleks. Likuiditas memang penting. Namun, keberadaannya tidak otomatis berubah menjadi kredit, investasi, lalu pertumbuhan ekonomi.
Kredit lahir dari pertemuan dua keyakinan. Bank harus yakin bahwa calon debitur mampu membayar. Pada saat yang sama, debitur harus yakin bahwa ekspansi usahanya akan menghasilkan keuntungan.
Karena itu, memperkuat intermediasi tidak cukup hanya dengan membuka keran likuiditas. Yang sama pentingnya adalah memastikan ada alasan ekonomi yang cukup kuat untuk menggunakan dana tersebut.
Dua Sisi Kredit
Dari sisi perbankan, keputusan menyalurkan kredit selalu berkaitan dengan risiko. Bank bukan sekadar mencari perusahaan yang ingin meminjam. Mereka harus menilai kemampuan membayar, arus kas, prospek sektor usaha, kualitas manajemen, hingga kondisi ekonomi.
Kehati-hatian seperti ini justru diperlukan. Kredit yang tumbuh cepat tetapi tidak berkualitas dapat menimbulkan persoalan beberapa tahun kemudian. Karena itu, bank yang memiliki likuiditas besar tidak serta-merta harus menjadi bank yang paling agresif menyalurkan kredit. Ruang pembiayaan tetap harus bertemu dengan debitur yang layak.
Namun, persoalannya tidak berhenti pada sisi bank. Perusahaan juga melakukan kalkulasi sendiri. Sebelum membangun pabrik, membeli mesin, atau membuka cabang, pelaku usaha akan melihat permintaan produknya.
Apakah penjualan akan meningkat? Apakah kapasitas produksi yang ada sudah penuh? Apakah kondisi usaha beberapa tahun ke depan cukup menjanjikan?
Jika jawabannya belum meyakinkan, biaya kredit yang lebih murah sekalipun belum tentu mendorong perusahaan berinvestasi. Di sinilah salah satu mata rantai transmisi ekonomi yang sering terlupakan: Masalah kredit tidak selalu berasal dari kurangnya uang. Kadang yang belum cukup adalah alasan untuk meminjam.
Kredit Mengikuti Ekspektasi
Keputusan investasi pada dasarnya merupakan keputusan tentang masa depan. Sebuah perusahaan meminjam hari ini karena percaya pendapatan besok cukup besar untuk membayar utangnya. Karena itu, ekspektasi mempunyai peran yang tidak kalah penting dibandingkan suku bunga.
Ketika permintaan menguat, perusahaan membutuhkan tambahan modal kerja. Jika utilisasi pabrik mendekati kapasitas penuh, perusahaan mulai mempertimbangkan mesin baru. Ketika pesanan bertambah, kebutuhan pembiayaan ikut meningkat.
Sebaliknya, ketika permintaan belum cukup kuat, perusahaan dapat memilih menggunakan kapasitas yang tersedia terlebih dahulu. Hal tersebut menjelaskan mengapa transmisi dari likuiditas menuju kredit tidak pernah berjalan seperti membuka keran air. Di antara keduanya terdapat keputusan bisnis, persepsi risiko, dan keyakinan terhadap prospek ekonomi.
Karena itu, menjaga stabilitas juga mempunyai arti penting bagi intermediasi. Stabilitas memberikan ruang bagi dunia usaha untuk membuat perhitungan yang lebih panjang. Perusahaan lebih mudah menyusun proyeksi biaya. Bank lebih mudah menilai risiko. Rumah tangga juga mempunyai kepastian lebih besar dalam mengambil keputusan keuangan.
Dengan kata lain, stabilitas dan pertumbuhan kredit bukan dua agenda yang saling bertentangan. Stabilitas justru membantu menciptakan fondasi agar kredit dapat tumbuh secara sehat.
Ketika Bank dan Debitur Sulit Bertemu
Ada satu persoalan lain. Bank mungkin memiliki dana. Pelaku usaha mungkin membutuhkan modal. Namun, keduanya belum tentu mudah bertemu.
Masalah ini terutama terlihat pada usaha yang masih memiliki keterbatasan pencatatan keuangan. Usahanya mungkin berjalan baik, tetapi transaksi belum terdokumentasi dengan rapi. Arus kas belum terpisah dari keuangan pribadi. Riwayat kredit juga masih pendek.
Bagi pelaku usaha, bisnis tersebut terasa layak. Namun, bagi lembaga keuangan, informasi untuk mengukur risikonya masih terbatas. Akibatnya muncul kesenjangan informasi.
Karena itu, memperluas pembiayaan membutuhkan lebih dari sekadar memperbesar dana yang dapat dipinjamkan. Ekonomi juga membutuhkan lebih banyak usaha yang dapat dinilai, mempunyai rekam jejak, dan mampu menunjukkan kapasitas pembayaran.
Digitalisasi dapat membantu proses ini. Begitu pula peningkatan kualitas pencatatan keuangan, tata kelola usaha, serta penguatan ekosistem pembiayaan. Semakin kecil kesenjangan informasi antara bank dan pelaku usaha, semakin mudah keduanya menemukan titik temu.
Memperkuat Jembatan ke Sektor Riil
Bank Indonesia menempatkan dorongan kredit dan pembiayaan sektor riil melalui penguatan kebijakan makroprudensial sebagai salah satu bagian dari bauran kebijakan. Arah tersebut ditempatkan bersama upaya menjaga ketahanan serta stabilitas perekonomian.
Pendekatan seperti ini penting karena kebijakan tidak hanya berbicara tentang jumlah uang yang tersedia. Insentif dapat diarahkan agar ruang intermediasi semakin mendukung sektor-sektor produktif.
Namun, kebijakan dari sisi keuangan tetap hanya satu bagian dari mata rantai. Kredit akan semakin kuat apabila dunia usaha juga melihat permintaan yang sehat, peluang investasi, produktivitas yang meningkat, serta kepastian untuk melakukan ekspansi.
Dengan demikian, memperkuat intermediasi membutuhkan kerja dari dua arah. Sektor keuangan perlu memiliki kapasitas dan insentif untuk membiayai. Sektor riil perlu memiliki cukup banyak proyek dan usaha yang layak dibiayai. Keduanya harus bergerak bersama.
Lebih dari Sekadar Uang
Kita sering melihat pertumbuhan kredit sebagai persoalan ketersediaan dana atau tingkat suku bunga. Padahal, keputusan kredit jauh lebih manusiawi daripada itu.
Di dalamnya terdapat keyakinan seorang pengusaha untuk membuka cabang baru. Ada keputusan bank untuk mengambil risiko. Ada perkiraan mengenai daya beli konsumen. Ada pula harapan bahwa investasi hari ini masih akan menghasilkan pendapatan beberapa tahun mendatang.
Karena itu, ruang likuiditas yang memadai tetap merupakan fondasi penting. Tetapi pekerjaan berikutnya adalah memastikan ruang tersebut bertemu dengan peluang ekonomi yang produktif. Kredit tumbuh ketika bank menemukan debitur yang layak dan dunia usaha menemukan peluang yang layak dibiayai.
Pada akhirnya, kikuiditas menyediakan bahan bakar. Namun, keyakinan untuk berekspansi yang membuat mesin ekonomi bergerak.

