Memperkuat Mesin Penghasil Cadangan Devisa
Tulisan dari Fransiskus Xaverius Tyas Prasaja tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Cadangan devisa kerap menjadi perhatian ketika ketidakpastian global meningkat. Angkanya dibaca sebagai salah satu penanda ketahanan ekonomi sebuah negara. Semakin kuat bantalan yang tersedia, semakin besar ruang menghadapi gejolak dari luar.
Namun, cadangan devisa hanya menggambarkan sebagian cerita. Ketahanan eksternal tidak hanya ditentukan oleh berapa besar devisa yang tersimpan. Ia juga ditentukan oleh kemampuan ekonomi menghasilkan devisa secara berkelanjutan.
Bayangkan cadangan devisa seperti air dalam sebuah waduk. Tinggi permukaannya penting untuk menghadapi perubahan musim. Namun, ketahanan waduk juga bergantung pada sungai yang terus mengisinya.
Karena itu, pertanyaan penting bukan hanya berapa banyak devisa yang kita miliki. Pertanyaan berikutnya adalah dari mana devisa baru akan terus datang.
Stok dan Arus
Secara sederhana, cadangan devisa dapat dipandang sebagai sebuah stok. Sementara ekspor, investasi, pariwisata, dan aktivitas lintas negara menghasilkan arus.
Keduanya saling melengkapi. Stok yang kuat memberi bantalan ketika tekanan eksternal meningkat. Arus yang sehat membantu menjaga kekuatan stok tersebut dari waktu ke waktu.
Pendekatan ini semakin relevan di tengah ekonomi global yang bergerak cepat. Geopolitik, harga komoditas, dan arah kebijakan negara maju dapat berubah dalam waktu singkat. Arus modal internasional juga dapat berpindah mengikuti perubahan persepsi risiko.
Indonesia menghadapi dinamika tersebut dengan fundamental ekonomi yang tetap kuat. Penguatan stabilitas nilai tukar juga terus disertai koordinasi dengan Pemerintah. Pada saat yang sama, kebijakan diarahkan untuk menarik investasi dan memperdalam pasar valuta asing.
Fondasi tersebut memberi ruang untuk melangkah lebih jauh. Bukan sekadar mempertahankan bantalan, tetapi memperbesar mesin penghasil devisa.
Ekspor yang Naik Kelas
Mesin pertama adalah ekspor yang menghasilkan nilai tambah lebih tinggi.
Satu ton bahan mentah tidak selalu menghasilkan devisa sebesar produk olahan. Perbedaannya terletak pada nilai yang diciptakan sebelum barang meninggalkan Indonesia.
Karena itu, hilirisasi mempunyai makna lebih luas daripada pembangunan pabrik. Hilirisasi dapat memperpanjang rantai produksi di dalam negeri. Tenaga kerja, teknologi, logistik, dan jasa pendukung ikut memperoleh manfaat.
Orientasinya juga tidak harus berhenti pada komoditas besar. Produk makanan olahan, manufaktur, fesyen, ekonomi kreatif, dan berbagai produk UMKM memiliki peluang serupa.
Semakin besar nilai yang diciptakan di dalam negeri, semakin tinggi potensi pendapatan ekspor. Pada akhirnya, struktur ekspor juga menjadi lebih beragam.
Diversifikasi ini penting. Ketergantungan yang terlalu tinggi pada beberapa komoditas membuat penerimaan devisa lebih sensitif terhadap harga global.
Investasi yang Menghasilkan Investasi Berikutnya
Mesin kedua adalah investasi produktif.
Modal asing memang menambah pasokan valuta asing ketika pertama kali masuk. Namun, manfaat yang lebih besar muncul ketika investasi membangun kapasitas produksi baru.
Sebuah pabrik baru, misalnya, dapat meningkatkan produksi ekspor. Investasi juga dapat membawa teknologi dan pengetahuan baru. Pemasok lokal kemudian tumbuh bersama rantai produksi tersebut.
Dengan begitu, investasi hari ini dapat menjadi sumber devisa pada masa mendatang.
Inilah mengapa kualitas investasi sama pentingnya dengan jumlah investasi. Investasi yang terhubung dengan industri domestik menghasilkan efek berganda lebih besar.
Penguatan kerja sama domestik dan internasional untuk menarik investasi juga menjadi bagian kebijakan yang terus didorong. Tantangannya adalah mengarahkan semakin banyak investasi menuju kegiatan produktif dan berorientasi jangka panjang.
Devisa Tidak Selalu Datang dalam Kontainer
Mesin ketiga sering kurang memperoleh perhatian. Devisa tidak selalu datang melalui kapal yang membawa barang ekspor.
Seorang wisatawan asing juga membawa devisa. Uang tersebut mengalir ke hotel, restoran, transportasi, pemandu wisata, dan pedagang lokal.
Potensinya semakin besar apabila wisatawan tinggal lebih lama dan membelanjakan lebih banyak. Karena itu, kualitas pariwisata sama pentingnya dengan jumlah kedatangan wisatawan.
Hal serupa berlaku pada ekspor jasa. Indonesia mempunyai modal besar pada ekonomi kreatif, teknologi, pendidikan, dan jasa profesional.
Seorang pengembang perangkat lunak Indonesia dapat melayani perusahaan di luar negeri. Desainer lokal dapat bekerja untuk klien internasional. Film, musik, permainan digital, dan produk kreatif juga dapat menembus pasar global.
Ekspor jasa membuat sumber devisa tidak hanya bergantung pada sumber daya alam. Ia juga memungkinkan pengetahuan dan kreativitas menjadi komoditas ekspor.
Membuat Devisa Bekerja Lebih Efisien
Mesin keempat bukan hanya menghasilkan lebih banyak devisa. Kita juga perlu membuat penggunaannya semakin efisien.
Aktivitas perdagangan internasional selama ini sangat bergantung pada sejumlah mata uang utama. Ketergantungan tersebut membuat kebutuhan valuta asing tertentu menjadi sangat besar.
Karena itu, penggunaan mata uang lokal dalam transaksi bilateral terus dikembangkan. Pendalaman pasar valuta asing juga mempunyai peran penting.
Tujuannya bukan menggantikan satu mata uang dengan mata uang lainnya. Tujuannya adalah memberi lebih banyak pilihan bagi pelaku ekonomi.
Semakin dalam pasar valuta asing, semakin baik perusahaan mengelola kebutuhan transaksinya. Instrumen lindung nilai juga dapat digunakan secara lebih luas. Ketidakpastian biaya menjadi lebih mudah dikelola.
Bank Indonesia sendiri menempatkan pendalaman pasar uang dan valuta asing sebagai bagian penguatan stabilitas. Aktivasi kerja sama swap mata uang juga diarahkan mendukung stabilitas dan pembiayaan ekonomi.
Artinya, ketahanan eksternal tidak hanya berbicara mengenai berapa dolar yang masuk. Arsitektur keuangan yang mengelola arus tersebut juga menentukan.
Memperbesar Sungai yang Mengalir
Indonesia telah memiliki fondasi yang kuat untuk menghadapi dinamika eksternal. Tantangan berikutnya adalah memastikan semakin banyak sumber devisa terus berkembang.
Ekspor perlu menghasilkan nilai tambah yang semakin tinggi. Investasi perlu memperbesar kapasitas produksi. Pariwisata dan jasa dapat membuka sumber pendapatan baru. Infrastruktur pasar keuangan juga perlu terus diperdalam.
Upaya tersebut membutuhkan kerja bersama. Bank sentral menjaga stabilitas dan memperkuat pasar keuangan. Pemerintah memperbaiki iklim investasi dan daya saing. Dunia usaha menciptakan produk yang mampu bersaing di pasar global.
Dengan cara itu, pembicaraan mengenai devisa tidak berhenti pada besarnya cadangan. Perhatian juga bergeser pada kemampuan ekonomi untuk terus menghasilkannya.
Pada akhirnya, cadangan devisa yang kuat menjaga ketahanan hari ini, namun mesin penghasil devisa yang produktif memperkuat ketahanan untuk masa depan.

