Konten dari Pengguna

Mengatasi Dan Mencegah Limbah Organik Di Mojopuro Gede Membangun Resapan Biopori

Gabriel Dean Saputra

Gabriel Dean Saputra

Mahasiswa Psikologi

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Gabriel Dean Saputra tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Warga Desa bersama Mahasiswa KKN membuat biopori di lingkungan Desa Mojopuro Gede. (Dokumentasi Gabriel Dean Saputra, 2026) Nama DPL : Novi Andari, S.S., M.Pd
zoom-in-whitePerbesar
Warga Desa bersama Mahasiswa KKN membuat biopori di lingkungan Desa Mojopuro Gede. (Dokumentasi Gabriel Dean Saputra, 2026) Nama DPL : Novi Andari, S.S., M.Pd

GRESIK — Warga Desa Mojopuro Gede, Kecamatan Bungah, Kabupaten Gresik, mulai menerapkan lubang resapan biopori sebagai solusi alternatif untuk mengatasi persoalan sampah organik yang selama ini menumpuk di lingkungan permukiman. Kegiatan tersebut dilaksanakan pada Sabtu, 11 Juli 2026, dengan melibatkan sejumlah elemen masyarakat, di antaranya karang taruna, PKK, mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN), serta perangkat desa setempat.

Pembuatan biopori dipilih sebagai metode penanganan sampah karena dinilai sederhana, berbiaya rendah, dan ramah lingkungan. Selain mengurangi volume sampah organik rumah tangga, metode ini juga diyakini mampu memperbaiki daya serap air tanah di wilayah tersebut.

Lubang Silindris Penampung Sampah Organik

Secara teknis, biopori berupa lubang silindris yang dibuat secara vertikal ke dalam tanah dengan kedalaman berkisar 80 hingga 100 sentimeter dan diameter sekitar 10 hingga 30 sentimeter. Lubang tersebut kemudian diisi dengan sampah organik seperti daun kering, sisa sayuran, dan sampah dapur lainnya. Seiring waktu, sampah organik yang dimasukkan akan terurai secara alami oleh mikroorganisme dan cacing tanah, sehingga menghasilkan kompos yang menyuburkan tanah di sekitar lubang. Selain berfungsi sebagai pengolah sampah organik, keberadaan biopori juga berperan meningkatkan resapan air hujan ke dalam tanah, sehingga berpotensi menekan risiko genangan air maupun banjir pada musim penghujan.

Berangkat dari Persoalan Layanan Pengangkutan Sampah

Persoalan sampah di Desa Mojopuro Gede selama ini menjadi salah satu perhatian warga, mengingat belum seluruh wilayah desa terjangkau layanan pengangkutan sampah secara rutin. Kondisi tersebut membuat sebagian warga masih membakar sampah atau membuangnya ke lahan kosong maupun saluran air, yang berpotensi mencemari lingkungan dan mengganggu kesehatan. Menyikapi kondisi tersebut, mahasiswa KKN yang bertugas di desa itu berinisiatif memperkenalkan biopori sebagai langkah nyata yang dapat diterapkan oleh setiap rumah tangga tanpa memerlukan biaya besar. Dalam pelaksanaannya, warga dipandu langsung mengenai cara membuat lubang biopori menggunakan alat bor tanah sederhana. Setelah lubang selesai dibuat, bagian atasnya ditutup menggunakan pipa paralon berlubang agar sampah organik dapat dimasukkan secara berkala tanpa risiko lubang longsor atau tertutup tanah.

Kepala Desa: Langkah Kecil, Dampak Besar

“Program biopori ini adalah langkah kecil, tapi dampaknya bisa besar bagi desa kita. Selain membantu mengurangi sampah organik, biopori juga membantu tanah menyerap air lebih baik, sehingga risiko genangan saat musim hujan bisa berkurang. Saya berharap warga bisa terus melanjutkan kebiasaan baik ini di rumah masing-masing.”

H. Kasmuji, S.Pd. — Kepala Desa Mojopuro Gede

Pernyataan tersebut sekaligus menegaskan pentingnya keterlibatan aktif warga agar program biopori dapat berjalan berkelanjutan di tengah masyarakat.

Disertai Edukasi Pemilahan Sampah

Kegiatan pembuatan biopori ini turut disertai edukasi kepada warga mengenai pentingnya memilah sampah organik dan anorganik sejak dari rumah tangga. Warga diajak memahami bahwa tidak semua sampah harus dibuang atau dibakar, karena sampah organik dapat dimanfaatkan kembali sebagai pupuk alami melalui proses biopori. Edukasi ini diharapkan mampu mengubah kebiasaan warga dalam mengelola sampah, sekaligus menumbuhkan kesadaran akan pentingnya menjaga kebersihan dan kelestarian lingkungan desa.

Akan Diperluas ke Titik Lain

Dengan adanya program resapan biopori ini, warga Desa Mojopuro Gede berharap persoalan sampah organik yang selama ini menjadi keluhan dapat berkurang secara bertahap. Selain manfaat lingkungan, kegiatan ini juga dinilai mempererat kebersamaan warga melalui semangat gotong royong. Ke depan, warga bersama perangkat desa berencana memperluas jumlah titik biopori, menyelenggarakan pelatihan secara rutin, serta menjadikan program ini sebagai kegiatan tahunan agar manfaatnya dapat dirasakan lebih luas oleh seluruh warga desa.

Program biopori di Desa Mojopuro Gede menjadi salah satu contoh bahwa persoalan sampah dapat diatasi melalui langkah sederhana namun berkelanjutan, tanpa memerlukan teknologi maupun biaya besar. Partisipasi aktif warga menjadi kunci utama keberhasilan program semacam ini, sekaligus membuktikan bahwa perubahan besar dapat dimulai dari tindakan kecil di tingkat rumah tangga.