Cyberbullying di Kalangan Pelajar dan Pentingnya Edukasi Digital

D2 PGSD Unika Soegijapranata, S1 Pendidikan Matematika Unindra, S2 Magister Manajemen Universitas Mercu Buana, Karyawan di Perkumpulan Strada
·waktu baca 6 menit
Tulisan dari Gabriel Yudhistira Hanifyanto tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Ada zaman ketika ejekan berhenti di pagar sekolah. Ketika bel pulang berbunyi, anak-anak pulang membawa tas, dan luka batin punya kesempatan reda di rumah. Namun hari ini, pagar sekolah itu runtuh oleh layar lima inci. Perundungan tak lagi menunggu jam istirahat. Ia bisa datang pukul sepuluh malam lewat komentar Instagram, pukul dua dini hari lewat grup WhatsApp kelas, atau pagi-pagi sekali melalui video TikTok yang sengaja dibuat untuk mempermalukan seseorang.
Inilah wajah baru kekerasan di kalangan pelajar: cyberbullying.
Kita sering menyangka perundungan digital hanyalah candaan. “Cuma meme.” “Cuma bercanda.” “Cuma nge-prank.” Padahal di balik kata “cuma” itu, ada anak yang gemetar membuka ponsel, ada siswa yang mendadak tak mau sekolah, ada remaja yang kehilangan rasa percaya diri, bahkan ada yang memilih mengakhiri hidupnya.
Teknologi berkembang lebih cepat daripada kebijaksanaan manusia dalam menggunakannya. Di situlah masalah dimulai.
Dari Ruang Kelas ke Ruang Digital
Cyberbullying adalah tindakan menyakiti, mempermalukan, mengintimidasi, atau menyerang orang lain melalui media digital. Bentuknya beragam: komentar menghina, menyebar foto tanpa izin, membuat akun palsu, mengucilkan teman dari grup kelas, menyebar rumor, hingga ancaman secara daring.
Bedanya dengan bullying konvensional adalah jangkauannya. Jika dahulu penonton hanya satu kelas, kini penonton bisa satu kota. Jika dulu ejekan menghilang bersama waktu, kini jejak digital dapat bertahan lama. Jika dulu korban bisa bersembunyi di rumah, sekarang rumah pun ikut dimasuki notifikasi.
Penelitian Universitas Negeri Yogyakarta terhadap pelajar SMA di enam wilayah Indonesia menunjukkan angka cyberbullying berada pada kategori cukup tinggi, dengan skor 69,64 persen. Studi itu menegaskan bahwa meningkatnya penggunaan media sosial di kalangan remaja berjalan seiring dengan meningkatnya potensi perundungan digital. (UNY Journal)
Artinya jelas, ini bukan kasus kecil. Ini fenomena sosial.
Di banyak sekolah, grup kelas yang semestinya menjadi ruang koordinasi justru berubah menjadi arena penghinaan. Nama teman dijadikan bahan olok-olok. Foto di-edit memalukan. Kesalahan kecil direkam lalu diviralkan. Bahkan ada siswa yang sengaja diabaikan dari grup diskusi sebagai bentuk hukuman sosial.
Bagi orang dewasa, itu tampak remeh. Bagi remaja, itu bisa terasa seperti kiamat kecil.
Ketika Viral Menjadi Kekerasan
Beberapa tahun terakhir, publik berkali-kali dikejutkan video kekerasan antar pelajar yang viral di media sosial. Ada korban dipukul ramai-ramai, ditendang, dipermalukan, lalu videonya disebar. Ada pula kasus siswa yang dipaksa melakukan tindakan merendahkan martabat, direkam, dan ditonton jutaan orang.
Di sebuah kota besar, misalnya, viral video seorang pelajar dipaksa merangkak dan menggonggong oleh orang dewasa. Publik marah bukan hanya karena tindakannya, tetapi karena penghinaan itu dilakukan di depan kamera. Kekerasan hari ini sering membutuhkan penonton. (Reddit)
Di sekolah lain, sebut saja SMP XXX, seorang siswi menjadi bahan olokan karena bentuk tubuhnya. Mula-mula hanya komentar di grup kelas. Lalu muncul akun anonim yang mengunggah foto dirinya dengan caption menghina. Dalam hitungan hari, korban menolak masuk sekolah. Nilainya turun. Ia menarik diri dari teman-temannya.
Kisah semacam ini tidak selalu masuk berita. Justru yang tak viral sering lebih banyak.
Cyberbullying bekerja diam-diam. Tidak ada darah. Tidak ada memar. Tetapi ada kecemasan, depresi, insomnia, dan rasa malu yang menempel lama.
Mengapa Pelajar Mudah Terjebak?
Ada beberapa sebab mengapa pelajar rentan menjadi pelaku maupun korban.
Pertama, usia remaja adalah masa pencarian identitas. Mereka haus pengakuan. Like, komentar, dan followers sering disalahartikan sebagai ukuran harga diri. Demi diterima kelompok, seseorang bisa ikut menertawakan temannya.
Kedua, anonimitas digital menciptakan ilusi tanpa konsekuensi. Dengan akun palsu, seseorang merasa bebas menghina tanpa tanggung jawab.
Ketiga, rendahnya empati digital. Banyak siswa belum memahami bahwa tulisan di layar bisa melukai sedalam tamparan.
Keempat, lemahnya pengawasan orang dewasa. Banyak orang tua memahami cara membeli gawai, tetapi belum memahami cara mendampingi anak di dunia maya.
Sebuah penelitian di Makassar menunjukkan literasi digital yang lebih baik berkaitan dengan rendahnya perilaku cyberbullying pada siswa. Ini penting: pengetahuan digital bukan sekadar bisa memakai aplikasi, tetapi juga memahami etika, keamanan, dan dampak perilaku daring. (Journal of UNM)
Jadi, masalahnya bukan teknologi. Masalahnya adalah kedewasaan dalam menggunakan teknologi.
Sekolah Jangan Hanya Sibuk Nilai
Banyak sekolah cepat bereaksi jika nilai matematika turun, tetapi lambat bergerak ketika kesehatan mental siswa jatuh. Padahal korban cyberbullying sering menunjukkan tanda-tanda jelas: mendadak murung, enggan sekolah, takut memegang ponsel, prestasi menurun, mudah marah, atau menarik diri.
Sayangnya, respons institusi kadang normatif. Dipanggil ke BK, dimediasi, saling minta maaf, lalu selesai. Padahal jejak digital belum hilang. Luka psikologis belum pulih.
Sekolah perlu memiliki protokol yang nyata: kanal pelaporan aman, pendampingan psikologis, edukasi rutin, serta sanksi yang mendidik. Guru juga perlu dilatih memahami budaya digital siswa. Tidak semua guru paham arti doxing, body shaming, impersonation, atau harassment online. Padahal istilah-istilah itu kini hadir di kehidupan murid setiap hari.
Sekolah yang baik bukan hanya tempat belajar rumus, tetapi tempat anak merasa aman.
Orang Tua Tak Bisa Menjadi Penonton
Sebagian orang tua menyerahkan gawai kepada anak seperti menyerahkan kendaraan tanpa rem. Anak diberi internet tanpa peta, tanpa sabuk pengaman, tanpa pendampingan.
Pertanyaan penting bukan “Anak saya punya HP apa?” melainkan “Anak saya sedang mengalami apa di internet?”
Orang tua perlu membangun komunikasi yang membuat anak berani bercerita. Jika anak mengadu soal perundungan, jangan buru-buru menyalahkan: “Makanya jangan main medsos.” Reaksi semacam itu justru menutup pintu kejujuran.
Lebih baik dengarkan, simpan bukti, blokir pelaku jika perlu, laporkan ke sekolah, dan dampingi kondisi emosional anak.
Kadang yang paling dibutuhkan korban bukan nasihat panjang, tetapi keyakinan bahwa ia tidak sendirian.
Edukasi Digital: Mendesak, Bukan Pelengkap
Selama ini literasi digital sering dipahami sebatas kemampuan menggunakan perangkat. Itu terlalu sempit. Edukasi digital harus mencakup karakter.
Anak perlu diajarkan bahwa jejak digital dapat abadi. Bahwa membagikan foto orang lain tanpa izin adalah pelanggaran. Bahwa bercanda yang membuat orang menangis bukan candaan. Bahwa diam menonton perundungan juga bentuk pembiaran.
Materi seperti etika berkomentar, keamanan data pribadi, mengenali hoaks, kesehatan mental digital, hingga cara melapor penyalahgunaan akun harus menjadi bagian pembelajaran modern.
Bayangkan jika sekolah mewajibkan satu jam per minggu untuk pendidikan kewargaan digital. Dampaknya bisa lebih besar daripada sekadar larangan membawa ponsel.
Sebab anak-anak hari ini hidup di dua dunia sekaligus: dunia nyata dan dunia digital. Keduanya sama pentingnya.
Menyelamatkan Masa Depan dari Layar Kecil
Kita terlalu sering bangga melihat anak cepat memakai teknologi. Balita bisa membuka YouTube, siswa SD bisa edit video, remaja piawai membuat konten. Tetapi kemampuan teknis tanpa etika hanya menghasilkan generasi yang canggih sekaligus kasar.
Cyberbullying bukan sekadar kenakalan remaja. Ia adalah alarm bahwa pendidikan karakter tertinggal dari perkembangan teknologi.
Jika kita ingin masa depan lebih sehat, maka layar harus menjadi ruang belajar, bukan ruang menyiksa. Media sosial harus menjadi tempat bertumbuh, bukan tempat menjatuhkan. Sekolah harus menjadi benteng aman, bukan sumber trauma yang dibawa sampai dewasa.
Dan setiap kali jari hendak mengetik komentar merendahkan, mungkin kita perlu mengingat satu hal sederhana: di balik akun itu ada manusia.
Sering kali, satu kalimat bisa menjadi luka.
Tetapi satu kalimat juga bisa menjadi penyelamat.
