Tentang KamiPedoman Media SiberKetentuan & Kebijakan PrivasiPanduan KomunitasPeringkat PenulisCara Menulis di kumparanInformasi Kerja SamaBantuanIklanKarir
2025 © PT Dynamo Media Network
Version 1.98.1
Konten dari Pengguna
RFID : Teknologi Pada Kartu Perpustakaan
4 November 2017 15:27 WIB
Diperbarui 14 Maret 2019 21:14 WIB
Tulisan dari Gabrielle Putrinda tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
ADVERTISEMENT

(Atas: Antrian Calon Anggota Perpusnas - Bawah: Contoh Kartu Anggota Perpusnas / Maria Gabrielle)
ADVERTISEMENT
Tahukah kamu? Bahwa kartu keanggotaan Perpustakaan Nasional Republik Indonesia sudah menggunakan teknologi RFID? Dan, apakah RFID?
Dikutip dari sis.binus.ac.id RFID (Radio Frequency Identification) adalah sebuah teknologi yang menggunakan komunikasi via gelombang elektromagnetik untuk merubah data antara terminal dengan suatu objek seperti produk barang, hewan, ataupun manusia dengan tujuan untuk identifikasi dan penelusuran jejak melalui penggunaan suatu piranti yang bernama RFID tag.
Teknologi ini memudahkan kedua belah pihak, petugas perpustakaan dan anggota. Petugas dengan mudah mengetahui dan menyimpan data buku yang dipinjam, belum dikembalikan dan apabila ada anggota yang "nakal" meminjam buku tanpa izin akan ada alarm berbunyi. Anggota juga dapat meminjam buku tanpa melalui prosedur catat mencatat, cukup dengan tap kartu anggota pada mesin. Nantinya, selain untuk pinjam-meminjam buku, untuk memasukki ruangan setiap lantainya, anggota diharuskan untuk tap kartu di pintu masuk. Dengan begitu, hanya anggotalah yang dapat masuk-keluar ruangan koleksi dan membaca.
ADVERTISEMENT
Jangan khawatir, bagi kalian yang sudah menjadi anggota di saat Perpusnas masih di Salemba, selama kartu anggota kalian masih aktif, tidak perlu upgrade ujar Yoyo selaku bagian informasi Perpusnas(4/11). Membuat kartu anggota pun tidak sulit, cukup mengisi data diri dikomputer yang sudah tersedia. Kemudian, setelah selesai mengisi data, akan mendapat nomer antrian. Calon anggota tinggal menunggu nomer antrian dipanggil petugas dan foto serta mencetak kartu.
Kendala yang dihadapi saat ini adalah jumlah petugas dan jumlah pengunjung yang tidak sebanding. Sehingga, jumlah antrian menjadi panjang, kemudian pengunjung yang membutuhkan bantuan saat mengisi data diri harus menunggu beberapa waktu. "Saya senang bisa daftar online gini, tempatnya juga udah adem, tapi kalau bisa online ya online aja, jangan pakai antri-antri juga" ujar Rubi salah satu pengunjung. Diharapkan, awal tahun 2018 Perpustakaan Nasional Republik Indonesia sudah dapat beroperasi secara maksimal.
ADVERTISEMENT