Ketika Gelar Haji Menjadi Taruhan Harga Diri

Mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.
·waktu baca 7 menit
Tulisan dari Gaizka Laudya Azzahra tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Apa yang sebenarnya dicari seseorang ketika ingin menunaikan ibadah haji? Apakah semata-mata memenuhi panggilan agama, atau ada hal lain yang turut menyertainya, seperti pengakuan sosial, kehormatan, bahkan status di tengah masyarakat? Pertanyaan tersebut mengemuka ketika membaca cerpen Kelok Jalan Menuju Engkau karya Ahmadul Faqih Mahfudz yang terbit di Kompas pada 23 Mei 2026. Cerpen ini tidak hanya berkisah tentang perjalanan seorang kiai menuju Tanah Suci, tetapi juga mengangkat persoalan yang dekat dengan realitas sosial masyarakat Indonesia: bagaimana gelar haji sering kali dipandang sebagai simbol kehormatan yang dapat meningkatkan posisi seseorang di mata publik.
Melalui tokoh Kiai Badrul Arifin, Ahmadul Faqih Mahfudz menghadirkan cerita yang sarat kritik sosial sekaligus refleksi keagamaan. Jika dibaca menggunakan teori fiksi Robert Stanton, cerpen ini menunjukkan keterpaduan antara fakta-fakta cerita, tema, dan sarana-sarana sastra yang membangun makna secara utuh. Berikut rincian tiga unsur besar yang terdapat pada cerpen berdasarkan Teori Fiksi Robert Stanton:
A. Fakta-fakta Cerita
1. Alur: Perjalanan yang Tidak Sekadar Menuju Mekkah
Menurut Robert Stanton, alur merupakan rangkaian peristiwa yang tersusun berdasarkan hubungan sebab-akibat (Stanton, 2007: 26). Dalam cerpen ini, alur bergerak secara maju dengan beberapa kilas balik yang memperkuat latar belakang konflik. Cerita dimulai dari kegelisahan Kiai Badrul yang belum pernah menunaikan ibadah haji meskipun dirinya telah dikenal sebagai seorang kiai. Kondisi tersebut membuatnya sering menjadi sasaran sindiran dari rekan-rekan sesama tokoh agama. Konflik kemudian berkembang ketika ia mendapatkan dua tawaran keberangkatan haji melalui jalur khusus.
Tawaran pertama datang dari Kiai Jubni yang memiliki akses kepada seorang menteri.
”Mumpung menterinya masih orang kita, Kiai. Kapan saja, peta politik bisa berubah, dan semua ini bisa hangus. Kiai paham maksud saya, ’kan?”.
Dua kali Kiai Jubni memberikan tawaran tersebut kepada Kiai Badrul, hingga kemudian datang tawaran kedua dari Kiai Jubni.
”Asal sampean bersedia, Rudin, asisten pribadi saya, akan mengurus semuanya,” ucap Kiai Jubni malam itu. ”Mumpung menterinya masih orang kita,” bisiknya, sambil mencolek lenganku.
Tawaran kedua berasal dari Bram, agen perjalanan yang menjanjikan keberangkatan cepat melalui visa penghormatan dari Kerajaan Arab Saudi.
”Meski tidak ditangani kementerian di sini, jalur ini dikawal langsung oleh kerajaan di sana, Kiai,” gagah dan mantap Bram berucap. ”Tidak hanya keamanan, jemaah bahkan akan dapat kenyamanan.” Dia keluarkan ponselnya, dia tunjukkan foto juga video para haji yang dia berangkatkan tahun-tahun sebelumnya berikut aktivitas mereka selama di Tanah Suci.
Setelah mempertimbangkan keputusannya, ia menolak tawaran dari Kiai Jubni. Kemudian menerima tawaran Bram yang merupakan salah satu tamu dari perusahaan agen perjalanan di Jakarta yang datang ke rumahnya beberapa hari lalu. Karena ingin menjaga independensinya dari kepentingan politik, Kiai Badrul menolak tawaran pertama dan memilih jalur kedua, yaitu tawaran dari Bram. Namun keputusan tersebut justru membawanya pada konflik yang lebih besar. Setelah menjual aset dan meminjam uang untuk biaya keberangkatan, ia akhirnya menyadari bahwa dirinya telah menjadi korban penipuan. Puncak cerita terjadi ketika Kiai Badrul menunggu Bram di Bandara Soekarno-Hatta, tetapi orang yang ditunggunya tidak pernah datang. Ketegangan semakin kuat ketika ia harus menentukan pilihan antara pulang dan mengakui kegagalannya atau menyembunyikan kenyataan demi menjaga harga diri.
Alur yang dibangun pengarang berhasil menunjukkan bahwa jalan menuju tujuan mulia tidak selalu lurus. Ada banyak "kelok" yang harus dilalui sebelum seseorang memahami makna sebenarnya dari perjalanan tersebut.
2. Karakter: Kiai yang Berjuang Menjaga Integritas
Karakter menjadi unsur penting dalam teori Stanton karena tokohlah yang menggerakkan cerita (Stanton, 2007: 33). Tokoh utama dalam cerpen ini adalah Kiai Badrul Arifin. Kiai Badrul digambarkan sebagai sosok yang religius, sederhana, dan memiliki integritas tinggi. Ia menolak berbagai bentuk kedekatan dengan penguasa maupun pengusaha karena tidak ingin menjadikan agama sebagai alat kepentingan tertentu.
Sebenarnya kami bisa hidup enak kalau mau bermain dengan penguasa dan pengusaha. Tapi dalam hal ini, aku benar-benar menjaganya, setidaknya sampai saat ini. Karena itu, ketika beberapa politikus datang dengan tujuan ingin menggunakan keluarga dan pesantren kami untuk melambungkan suaranya atau suara bosnya saat pemilu, aku tidak menanggapinya, meskipun mereka menjanjikan banyak proyek untuk Pesantren Banyu Urip maupun fasilitas untukku pribadi.
Namun, pengarang tidak menghadirkan Kiai Badrul sebagai tokoh yang sempurna. Ia tetap memiliki kelemahan, yaitu keinginan kuat untuk mendapatkan pengakuan sosial sebagai seorang haji. Keinginan inilah yang akhirnya membuatnya terjebak dalam penipuan.
”apa Ummi tidak kasihan kepada Aba? Dan apakah Ummi tidak malu, ketika kumpul-kumpul, para nyai menggojlok Ummi dengan berkata Aba sudah naik haji hanya karena Ummi sudah berhaji?”
Tokoh lain yang cukup penting adalah Ning Husna, istri Kiai Badrul. Ia berperan sebagai suara kewaspadaan dan pertimbangan rasional.
”Kalau namanya visa penghormatan, mestinya ’kan gratis. Penghormatan kok diperjualbelikan?!”
Sementara itu, Bram tampil sebagai tokoh antagonis yang memanfaatkan kepercayaan orang lain untuk menjalankan rencana tertentu. Di balik konflik tersebut terdapat Haji Subroto, seorang pengusaha yang ternyata menjadi dalang penipuan. Kehadirannya menunjukkan bagaimana kekuatan modal dapat digunakan untuk membungkam pihak-pihak yang dianggap menghambat kepentingan ekonomi. Selain itu, adapun tokoh pendukung lainnya, seperti Kiai Sonhaji, Gus Ripin, Ra Abror yang mencibir terkait gelar haji kepada Kiai Badrul Arifin.
3. Latar: Pesantren, Bandara, dan Realitas Sosial Masyarakat
Latar dalam cerpen ini tidak hanya berfungsi sebagai tempat berlangsungnya peristiwa, tetapi juga menjadi sarana untuk memperlihatkan kondisi sosial masyarakat. Pesantren Banyu Urip menjadi latar utama yang menggambarkan kehidupan keagamaan tradisional. Di tempat ini, pembaca melihat bagaimana masyarakat masih menempatkan gelar haji sebagai simbol prestise yang tinggi. Bandara Soekarno-Hatta menjadi latar penting pada puncak cerita. Tempat tersebut bukan hanya ruang keberangkatan fisik menuju Tanah Suci, tetapi juga menjadi ruang kehancuran harapan tokoh utama ketika ia menyadari telah ditipu. Latar sosial yang paling menonjol adalah budaya masyarakat yang memuliakan status haji. Dalam cerita, seseorang yang telah berhaji memperoleh penghormatan lebih tinggi dibandingkan mereka yang belum. Kondisi inilah yang menjadi salah satu sumber tekanan psikologis bagi Kiai Badrul.
B. Tema: Antara Ibadah dan Pengakuan Sosial
Tema utama cerpen ini adalah perjuangan mempertahankan integritas di tengah godaan status sosial dan kekuasaan. Melalui pengalaman Kiai Badrul, pengarang menunjukkan bahwa ibadah tidak selalu berdiri sendiri sebagai urusan spiritual. Dalam kehidupan sosial, ibadah sering kali berkaitan dengan identitas, kehormatan, bahkan legitimasi sosial. Cerpen ini juga mengangkat tema kritik terhadap praktik penyalahgunaan agama, kekuasaan, dan ekonomi. Pengarang seolah mengingatkan bahwa simbol-simbol keagamaan dapat kehilangan makna apabila digunakan hanya untuk memperoleh pengakuan atau keuntungan tertentu.
C. Sarana-Sarana Sastra
1. Judul
Dalam teori Stanton, judul termasuk bagian dari sarana sastra yang membantu pembaca memahami makna cerita (Stanton, 2007: 51). Judul “Kelok Jalan Menuju Engkau” memiliki makna simbolis yang kuat. Secara harfiah, judul ini menggambarkan perjalanan menuju Tanah Suci. Namun secara metaforis, "kelok jalan" melambangkan berbagai rintangan, ujian, dan konflik yang harus dihadapi manusia dalam mencapai tujuan hidupnya. Kata "Engkau" dapat dimaknai sebagai Tuhan, tujuan spiritual, atau bahkan kebenaran yang dicari oleh tokoh utama. Dengan demikian, judul tidak hanya menjadi penanda cerita, tetapi juga merangkum keseluruhan pesan yang ingin disampaikan pengarang.
2. Sudut Pandang
Cerpen ini menggunakan sudut pandang orang pertama "aku". Hal tersebut membuat pembaca dapat masuk langsung ke dalam pikiran dan perasaan Kiai Badrul. Pembaca tidak hanya mengetahui apa yang terjadi, tetapi juga memahami kecemasan, harapan, rasa malu, dan kekecewaan yang dialami tokoh utama. Kedekatan emosional ini membuat konflik terasa lebih nyata dan menyentuh.
3. Gaya Bahasa dan Tone
Salah satu kekuatan cerpen ini terletak pada gaya bahasa yang memadukan nuansa religius, humor, dan kritik sosial. Dialog-dialog antartokoh terasa alami karena menggunakan ungkapan yang dekat dengan kehidupan pesantren dan masyarakat Jawa.
”apa Ummi tidak kasihan kepada Aba? Dan apakah Ummi tidak malu, ketika kumpul-kumpul, para nyai menggojlok Ummi dengan berkata Aba sudah naik haji hanya karena Ummi sudah berhaji?”.
Kata “menggojlok” yang menggambarkan kehidupan masyarakat Jawa, jika diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia artinya mengolok-olok.
Tone cerita bergerak dari ringan dan satir pada bagian awal menjadi semakin serius dan tragis menjelang akhir cerita. Perubahan tone tersebut membuat pembaca ikut merasakan perjalanan emosional tokoh utama.
4. Simbolisme
Simbolisme yang paling menonjol dalam cerpen ini adalah perjalanan haji itu sendiri. Haji tidak hanya dimaknai sebagai perjalanan fisik menuju Mekkah, tetapi juga perjalanan moral dan spiritual manusia.
5. Ironi
Selain itu, terdapat ironi yang kuat dalam cerita. Kiai Badrul berusaha menjaga diri dari pengaruh politik demi mempertahankan integritas, tetapi justru terjebak dalam penipuan yang dirancang oleh pihak berkepentingan ekonomi. Ia ingin memperoleh kehormatan melalui ibadah, tetapi yang diperoleh justru kehancuran harapan dan beban utang. Ironi lainnya terlihat pada kenyataan bahwa seorang tokoh agama yang dikenal jujur dan berhati-hati akhirnya tertipu karena keinginannya untuk segera menunaikan ibadah haji. Semakin keras ia berusaha mencapai tujuan mulia tersebut, semakin besar ujian yang harus dihadapinya.
Cerpen "Kelok Jalan Menuju Engkau" karya Ahmadul Faqih Mahfudz termasuk Fiksi Realisme dengan unsur psikologis, satir, dan simbolisme yang kuat karena menggambarkan realitas sosial masyarakat secara objektif dan dekat dengan kehidupan nyata, terutama mengenai status sosial haji, relasi agama dan politik, serta praktik penipuan perjalanan ibadah. Unsur psikologis terlihat pada konflik batin Kiai Badrul.
Apakah aku pulang saja lalu berkata jujur kepada orang-orang bahwa aku kena tipu? Atau aku bertahan saja di Jakarta?
Cerpen ini juga mengandung unsur Satir karena pengarang menyampaikan kritik sosial melalui sindiran.
”Kiai harus K.H., kalau hanya K., itu pelat nomor kendaraan,” ledek Kiai Sonhaji seusai halalbihalal kemarin.
Cerpen ini juga memuat unsur simbolisme yang cukup kuat. Beberapa simbol yang muncul antara lain: “Kelok Jalan” Melambangkan perjalanan hidup yang penuh rintangan, “Haji” Tidak hanya bermakna ibadah ke Tanah Suci, tetapi juga simbol (Pengakuan sosial, kehormatan, legitimasi keagamaan), “Engkau” Dapat ditafsirkan sebagai (Tuhan, kebenaran, tujuan hidup, kesempurnaan spiritual).
Melalui “Kelok Jalan Menuju Engkau”, Ahmadul Faqih Mahfudz menghadirkan cerita yang tidak hanya menghibur, tetapi juga mengajak pembaca merenungkan hubungan antara agama, kekuasaan, dan status sosial. Dengan memanfaatkan unsur-unsur fiksi sebagaimana dijelaskan Robert Stanton, pengarang berhasil membangun cerita yang kuat secara struktur sekaligus kaya makna. Pada akhirnya, cerpen ini mengingatkan bahwa perjalanan menuju tujuan mulia sering kali dipenuhi kelokan yang tidak terduga. Namun justru melalui kelokan-kelokan itulah manusia diuji dan belajar memahami arti sesungguhnya dari keikhlasan, martabat, dan iman.
DAFAR PUSTAKA
Mahfudz, A.F. (2026, 23 Mei). Kelok Jalan Menuju Engkau. Harian Kompas (Kompas.id). https://www.kompas.id/artikel/kelok-jalan-menuju-engkau.
Stanton, Robert. Teori Fiksi Robert Stanton. Yogyakarta: Pustaka Belajar. 2007.
