ModerART dan Eksperimen Baru Musik Sasak

Dosen (Pengajar) di Universitas Nahdlatul Ulama Nusa Tenggara Barat, Mataram
·waktu baca 6 menit
Tulisan dari Galih Suryadmaja tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Lombok Barat— Di tengah arus musik digital dan perubahan selera generasi muda, sekelompok remaja di Lombok tengah menempuh jalan kreatif yang berbeda. Mereka tidak meninggalkan musik modern yang lekat dengan keseharian, tetapi mencoba mempertemukannya dengan karakter bunyi tradisi Sasak dan pesan keagamaan yang inklusif.
Eksperimen tersebut dikembangkan melalui ModerART: Inovasi Musik Hibrida Modern–Tradisi sebagai Media Penguatan Moderasi Beragama dan Pemberdayaan Ekonomi Kreatif. Program ini menjadi bagian dari Program Inovasi Seni Nusantara (PISN), skema pengabdian kepada masyarakat dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi yang mendorong penerapan inovasi seni perguruan tinggi secara langsung di tengah masyarakat.
Program ModerART berlangsung selama lima bulan, mulai pertengahan Juni hingga pertengahan November 2026, dengan rangkaian kegiatan meliputi sosialisasi, pelatihan, penciptaan komposisi, pendampingan produksi, pertunjukan, serta publikasi karya. Program ini dilaksanakan oleh tim Universitas Nahdlatul Ulama Nusa Tenggara Barat (UNU NTB) yang diketuai Baiq Mulianah dengan melibatkan Komunitas Al Fatih, kelompok musik remaja yang tumbuh di Dusun Gegutu Reban Dasan Geria, Kecamatan Lingsar, Kabupaten Lombok Barat.
Daya tarik ModerART tidak hanya terletak pada kemungkinan lahirnya musik dengan warna baru. Program ini berangkat dari gagasan bahwa musik dapat menjadi ruang pendidikan sosial bagi generasi muda. Bunyi, lirik, dan pertunjukan tidak diperlakukan semata-mata sebagai hiburan, tetapi sebagai medium untuk membicarakan toleransi, kebersamaan, penghormatan terhadap perbedaan, dan identitas keagamaan yang terbuka.
Komunitas Al Fatih berdiri sejak 2022 dan memiliki sekitar 10 anggota aktif berusia 15–25 tahun. Para anggotanya berasal dari latar belakang pendidikan SMP, SMA, hingga perguruan tinggi. Aktivitas mereka selama ini meliputi latihan musik, pembinaan keagamaan informal, dan keterlibatan dalam kegiatan sosial di lingkungan sekitar.
Modal utama komunitas ini bukan fasilitas yang lengkap, melainkan semangat berkarya dan kedekatan sosial antaranggota. Peralatan musik yang tersedia masih terbatas dan didominasi instrumen modern. Komunitas juga belum memiliki tata kelola produksi, dokumentasi, distribusi digital, dan pengembangan karya yang terstruktur.
Kondisi tersebut justru menjadi titik berangkat ModerART. Program ini tidak hadir dengan membawa karya yang telah selesai, melainkan mengajak komunitas membangun identitas artistiknya sendiri. Anggota komunitas ditempatkan sebagai pencipta bersama atau co-creator, mulai dari merumuskan konsep, menafsirkan nilai, mengeksplorasi bunyi, menyusun repertoar, hingga menentukan cara karya tersebut dipertunjukkan dan dipublikasikan.
Musik sebagai ruang perjumpaan
Lombok merupakan ruang perjumpaan antara tradisi lokal, ekspresi keagamaan, dan perubahan sosial generasi muda. Dalam konteks tersebut, musik memiliki kemampuan menjangkau masyarakat melalui pengalaman yang lebih emosional, cair, dan partisipatif dibandingkan penyampaian pesan secara formal.
ModerART memanfaatkan kemungkinan itu dengan mempertemukan musik modern yang dekat dengan kehidupan remaja dan idiom musikal tradisi Sasak. Unsur tradisi tidak ditempatkan sekadar sebagai ornamen tambahan, tetapi dijadikan sumber penciptaan yang dapat memengaruhi ritme, pola melodi, warna bunyi, lirik, dan gagasan pertunjukan.
Cara tersebut sekaligus menawarkan pendekatan lain dalam pelestarian budaya. Musik tradisi tidak hanya dijaga dengan mempertahankan bentuk lamanya, tetapi juga diberi ruang untuk berdialog dengan perkembangan zaman. Inovasi tidak dipahami sebagai penghilangan identitas, melainkan sebagai upaya memperluas kemungkinan hidup sebuah tradisi.
Bagi generasi muda, strategi ini menjadi penting. Musik tradisi kerap berjarak dari kehidupan remaja karena minimnya ruang eksplorasi dan terbatasnya perjumpaan antara pengetahuan tradisi dan praktik musik populer. ModerART mencoba memperpendek jarak tersebut melalui proses penciptaan yang partisipatif dan kontekstual.
Program ini juga memandang tradisi sebagai sumber pengetahuan, bukan sekadar benda warisan. Pola ritmis, karakter bunyi, nilai kebersamaan, dan cara masyarakat Sasak memaknai musik ditempatkan sebagai bahan kreatif yang dapat diolah kembali oleh generasi muda.
Dengan demikian, hasil yang diharapkan bukan hanya musik modern yang diberi “sentuhan lokal”, tetapi karya yang lahir dari dialog lebih mendalam antara pengalaman remaja, pengetahuan musikal, identitas Sasak, dan nilai sosial yang hidup di tengah masyarakat.
Moderasi beragama dalam bahasa kreatif
Sisi lain yang membedakan ModerART adalah cara program ini menerjemahkan moderasi beragama. Nilai toleransi, keseimbangan, penghormatan, dan kebersamaan tidak hanya dibicarakan dalam forum atau materi pembinaan, tetapi diterjemahkan menjadi konsep musikal, lirik, proses kolaborasi, dan pesan karya.
Musik menjadi bahasa alternatif untuk mendekatkan gagasan keagamaan kepada generasi muda. Pendekatan ini menghindari penyampaian pesan yang terlalu normatif. Nilai dibangun melalui pengalaman mencipta, berdiskusi, bermain musik, mendengar pendapat orang lain, dan bekerja bersama dalam satu proses artistik.
Moderasi beragama, dengan demikian, tidak berhenti sebagai istilah kebijakan. Nilai tersebut diupayakan hadir dalam hubungan antaranggota, proses pengambilan keputusan, pembagian peran, penulisan lirik, dan cara komunitas menyikapi perbedaan.
Program ini sekaligus menunjukkan bahwa identitas keagamaan dan identitas budaya tidak harus ditempatkan dalam posisi yang berlawanan. Keduanya dapat dipertemukan melalui karya yang terbuka terhadap pembaruan, tetapi tetap berpijak pada pengalaman dan pengetahuan lokal.
Di tangan generasi muda, musik religi tidak harus kehilangan daya kreatifnya. Sebaliknya, pesan keagamaan dapat memperoleh bahasa baru yang lebih komunikatif, reflektif, dan dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Dari komunitas menuju ekonomi kreatif
ModerART tidak hanya berorientasi pada dampak sosial dan kebudayaan. Program ini juga dirancang untuk memperkuat posisi Komunitas Al Fatih dalam ekosistem ekonomi kreatif.
Komunitas ditargetkan menghasilkan tiga karya musik orisinal, satu repertoar tematik, dokumentasi audio-visual, pertunjukan komunitas, serta kanal digital untuk publikasi dan distribusi karya. Target tersebut diarahkan agar aktivitas musik tidak berhenti sebagai kegiatan internal, tetapi berkembang menjadi produk kreatif yang memiliki identitas dan mampu menjangkau publik lebih luas.
Kemampuan merekam, mendokumentasikan, mengelola media sosial, dan merancang publikasi menjadi bagian penting dalam proses tersebut. Di era digital, karya yang baik tidak selalu memperoleh perhatian apabila tidak disertai dokumentasi dan strategi distribusi yang memadai.
Karena itu, pemberdayaan dalam ModerART tidak hanya berkaitan dengan kemampuan memainkan alat musik. Anggota komunitas juga diperkenalkan pada perencanaan produksi, pembangunan identitas artistik, manajemen pertunjukan, pengelolaan media digital, dan peluang monetisasi karya.
Pendekatan ini penting karena banyak komunitas seni memiliki potensi kreatif, tetapi belum mampu mengubah aktivitasnya menjadi produksi yang berkelanjutan. Tanpa tata kelola, dokumentasi, dan distribusi yang baik, karya sering berhenti di ruang latihan atau pertunjukan terbatas.
ModerART mencoba menghubungkan proses artistik dengan penguatan kapasitas komunitas. Karya tidak hanya diciptakan untuk dipentaskan, tetapi juga disiapkan agar dapat direkam, dipublikasikan, dipromosikan, dan dikembangkan sebagai identitas komunitas.
ModerART memperlihatkan bahwa pelestarian seni tradisi dapat bergerak melampaui kegiatan seremonial. Tradisi dapat menjadi sumber penciptaan baru, ruang pendidikan karakter, medium dialog sosial, sekaligus bagian dari ekonomi kreatif.
Yang sedang dibangun bersama Komunitas Al Fatih bukan sekadar kelompok musik dengan warna bunyi yang berbeda. Program ini berupaya membentuk komunitas remaja yang mampu membaca budaya lokal, memahami fungsi sosial seni, menghasilkan karya orisinal, dan mengelola kreativitas secara lebih mandiri.
Pada titik tersebut, musik hibrida modern–tradisi tidak hanya menjadi bentuk estetis. Musik menjadi cara anak muda merumuskan identitas: tetap religius tanpa menjadi tertutup, tetap lokal tanpa menolak perubahan, serta tetap kreatif tanpa terputus dari lingkungan sosialnya.
ModerART pada akhirnya menawarkan satu gagasan sederhana, tetapi penting. Masa depan musik tradisi tidak hanya bergantung pada kemampuan mempertahankan bunyi masa lalu, melainkan juga pada keberanian generasi muda untuk menafsirkannya kembali dan memberinya makna baru.
