Konten dari Pengguna

Perubahan Daya Beli Masyarakat Indonesia di Tengah Ketidakpastian Ekonomi Global

Galih Wiguna

Galih Wiguna

saya adalah mahasiswa aktif di universitas pamulang

·waktu baca 4 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Galih Wiguna tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Tim Penulis: Fariz Rayhan Luthfhianto, Febriany Valentina Podandi, Galih Wiguna

Program Studi Manajemen Program Sarjana, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Pamulang.

Gambar 1.Ilustrasi perubahan daya beli masyarakat indonesia ditengah ketidakpastian ekonomi global. Sumber : Ilustrasi dibuat menggunakan AI (chatGPT/OpenAI)
zoom-in-whitePerbesar
Gambar 1.Ilustrasi perubahan daya beli masyarakat indonesia ditengah ketidakpastian ekonomi global. Sumber : Ilustrasi dibuat menggunakan AI (chatGPT/OpenAI)

Daya Beli Masyarakat sebagai Penopang Perekonomian

Daya beli masyarakat merupakan salah satu faktor penting dalam menjaga pertumbuhan ekonomi Indonesia. Kemampuan masyarakat dalam membeli barang dan jasa tidak hanya mencerminkan kondisi kesejahteraan rumah tangga, tetapi juga memengaruhi aktivitas produksi, perdagangan, dan investasi nasional.

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, daya beli masyarakat Indonesia menghadapi berbagai tantangan. Ketegangan perdagangan internasional, konflik geopolitik, perubahan harga komoditas, serta tekanan inflasi menjadi faktor yang dapat memengaruhi stabilitas ekonomi dalam negeri.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), konsumsi rumah tangga menyumbang sekitar 53,32 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia pada triwulan II 2026, dengan pertumbuhan sebesar 5,06 persen secara tahunan. Hal ini menunjukkan bahwa konsumsi masyarakat masih menjadi penggerak utama perekonomian nasional.

Namun, pertumbuhan konsumsi tersebut belum sepenuhnya menggambarkan kondisi daya beli seluruh lapisan masyarakat.

Pengaruh Ketidakpastian Ekonomi Global terhadap Daya Beli

Ketidakpastian ekonomi global dapat memberikan dampak terhadap kehidupan masyarakat melalui berbagai jalur, salah satunya kenaikan harga barang dan kebutuhan pokok.

Ketika harga komoditas dunia meningkat, biaya produksi dan distribusi dalam negeri berpotensi ikut mengalami kenaikan. Kondisi tersebut dapat menyebabkan masyarakat harus mengeluarkan biaya lebih besar untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Pada September 2026, inflasi tahunan Indonesia tercatat sebesar 3,28 persen. Sementara itu, kelompok makanan, minuman, dan tembakau mengalami inflasi sebesar 4,37 persen.

Kenaikan harga kebutuhan pokok tentunya lebih terasa bagi masyarakat berpenghasilan rendah dan menengah karena sebagian besar pendapatan mereka digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Akibatnya, masyarakat cenderung mengutamakan kebutuhan utama dan mengurangi pengeluaran yang dianggap belum mendesak.

Konsumsi Rumah Tangga Masih Tumbuh, tetapi Menghadapi Tantangan

Pertumbuhan konsumsi rumah tangga Indonesia masih menunjukkan angka positif. Akan tetapi, peningkatan tersebut juga dipengaruhi oleh berbagai faktor musiman, seperti perayaan hari besar keagamaan, libur sekolah, pemberian gaji ke-13, serta penyaluran bantuan sosial pemerintah.

Hal ini menunjukkan bahwa pertumbuhan konsumsi tidak selalu disebabkan oleh meningkatnya pendapatan masyarakat secara berkelanjutan.

Selain itu, hasil Survei Konsumen Bank Indonesia menunjukkan bahwa Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) pada September 2026 berada pada angka 118,1. Meskipun masih berada dalam kategori optimis, angka tersebut mengalami penurunan dibandingkan awal tahun yang berada di sekitar 127.

Penurunan keyakinan konsumen menunjukkan bahwa sebagian masyarakat mulai lebih berhati-hati dalam mengatur pengeluaran karena mempertimbangkan kondisi ekonomi dan ketidakpastian pendapatan pada masa mendatang.

Menurunnya Jumlah Kelas Menengah di Indonesia

Salah satu persoalan yang perlu mendapat perhatian adalah berkurangnya jumlah masyarakat kelas menengah.

Berdasarkan data BPS, jumlah kelas menengah Indonesia mengalami penurunan dari 57,33 juta jiwa pada 2019 menjadi 47,85 juta jiwa pada 2024.

Penurunan tersebut menunjukkan adanya kerentanan ekonomi yang dapat memengaruhi kemampuan masyarakat dalam mempertahankan standar hidupnya.

Kelas menengah memiliki peran penting dalam perekonomian karena berkontribusi terhadap konsumsi barang dan jasa. Apabila daya beli kelompok ini terus mengalami tekanan, permintaan terhadap produk dalam negeri juga berpotensi melemah.

Kondisi tersebut perlu menjadi perhatian pemerintah agar pertumbuhan ekonomi tidak hanya terlihat positif berdasarkan angka nasional, tetapi juga dapat dirasakan oleh berbagai lapisan masyarakat.

Upaya Menjaga Daya Beli Masyarakat

Dalam menghadapi ketidakpastian ekonomi global, diperlukan langkah yang tepat untuk menjaga stabilitas daya beli masyarakat.

Pemerintah perlu memperkuat pengendalian inflasi, khususnya pada sektor pangan, melalui perbaikan distribusi barang, penguatan cadangan pangan, serta pengawasan terhadap perkembangan harga kebutuhan pokok.

Selain itu, bantuan sosial dan stimulus ekonomi perlu diberikan secara tepat sasaran kepada kelompok masyarakat yang membutuhkan.

Namun, bantuan jangka pendek saja belum cukup. Pemerintah juga perlu mendorong penciptaan lapangan kerja berkualitas, meningkatkan produktivitas tenaga kerja, serta memperkuat sektor usaha agar masyarakat memiliki sumber pendapatan yang lebih stabil.

Masyarakat juga memiliki peran penting dengan menerapkan pengelolaan keuangan yang bijak, menyusun prioritas kebutuhan, dan menghindari pengeluaran konsumtif yang berlebihan.

Kesimpulan

Daya beli masyarakat Indonesia masih menunjukkan ketahanan di tengah ketidakpastian ekonomi global. Hal tersebut terlihat dari pertumbuhan konsumsi rumah tangga yang tetap positif dan kontribusinya yang besar terhadap perekonomian nasional.

Namun, kenaikan harga kebutuhan pokok, menurunnya keyakinan konsumen, serta berkurangnya jumlah kelas menengah menunjukkan bahwa kondisi ekonomi masyarakat masih menghadapi berbagai tantangan.

Oleh karena itu, keberhasilan pertumbuhan ekonomi tidak seharusnya hanya diukur berdasarkan peningkatan angka PDB, tetapi juga melalui kemampuan masyarakat dalam memenuhi kebutuhan hidup secara layak.

Sinergi antara pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat sangat diperlukan untuk menjaga stabilitas harga, meningkatkan pendapatan, serta menciptakan pertumbuhan ekonomi yang lebih merata dan berkelanjutan.

Dengan kebijakan yang tepat, Indonesia diharapkan mampu mempertahankan daya beli masyarakat sekaligus memperkuat ketahanan ekonomi nasional dalam menghadapi dinamika perekonomian global.