Konten dari Pengguna

Melek Finansial Sejak Balita: Kecakapan Hidup yang Harus Diajarkan pada Anak

Galih Wiratama

Galih Wiratama

Analis Organisasi Politeknik Keuangan Negara STAN Kementerian Keuangan RI

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Galih Wiratama tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi pendidikan keuangan pada anak (Foto: https://www.freepik.com)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi pendidikan keuangan pada anak (Foto: https://www.freepik.com)

Mengapa Literasi Keuangan Perlu Diajarkan pada Anak Sejak Dini?

Anak-anak generasi sekarang tumbuh di dunia yang berbeda dari generasi orang tua mereka dengan adanya e-wallet, pembayaran digital, tayangan iklan tanpa henti, hingga kemudahan transaksi hanya dengan satu kali klik. Dalam realitas ini, uang seringkali tampak hanya sebagai angka di layar sehingga anak menjadi sulit memahami makna uang itu sendiri. Di sinilah literasi keuangan menjadi keterampilan hidup yang krusial bagi anak, bahkan sejak usia dini.

Uang Bukan Sekadar Angka: Apa Itu Literasi Keuangan?

Literasi keuangan merupakan kemampuan memahami bagaimana uang bekerja: menerima, menabung, belanja, investasi, hingga merencanakan masa depan. Bukan hanya soal menabung atau menghitung uang saku, tetapi juga tentang mengenali kebutuhan vs keinginan, memahami konsekuensi pengeluaran, dan membuat keputusan yang bijak dengan sumber daya terbatas.

Riset tentang Pentingnya Literasi Keuangan Sejak Dini

Survei Bank Indonesia (2021) menunjukkan tingkat literasi keuangan di Indonesia baru sekitar 38%, jauh di bawah standar ideal dan target

OJK. Rendahnya pemahaman ini berkaitan dengan rendahnya kebiasaan menabung, kesulitan mengelola anggaran, dan ketidaksiapan menghadapi risiko finansial di masa dewasa.

Berdasarkan penelitian akademik, pengalaman masa kecil dalam mengelola uang berhubungan kuat dengan perilaku finansial dewasa, termasuk kecenderungan menabung, membuat rencana anggaran, dan menghindari utang konsumtif. (Lusardi & Mitchell, 2014). American Academy of Pediatrics menyatakan bahwa pemahaman konsep uang membantu anak mengembangkan kemampuan berpikir logis, numerik dasar, serta keterampilan pengambilan keputusan, bukan hanya soal matematika, tetapi juga sikap dan perilaku.

OECD menegaskan bahwa literasi keuangan merupakan bagian dari kecakapan hidup modern yang harus dimiliki agar individu mampu menghadapi kompleksitas ekonomi digital, termasuk produk finansial baru seperti dompet digital, kredit online, dan investasi digital.

Apakah Literasi Keuangan Bisa Diajarkan Sejak Balita?

Beberapa orang tua mungkin berpikir literasi keuangan terlalu “dewasa” untuk anak pra-sekolah. Padahal, pada usia 3–5 tahun, anak mulai mampu memahami konsep sederhana seperti:

  • membedakan antara kebutuhan dan keinginan

  • mengenal bentuk uang (uang kertas vs koin)

  • memahami bahwa hal yang diinginkan butuh usaha dan keputusan.

Pengenalan literasi pada usia dini tidak harus serius atau formal. Sebaliknya, dengan pendekatan yang menyenangkan, melalui mainan, cerita, dan aktivitas interaktif, anak dapat memahami konsep dasar yang menjadi fondasi perilaku keuangan sehat di masa mendatang.

Cara Orang Tua Mengajarkan Literasi Keuangan di Rumah

1. Celengan = Pelajaran Awal

Biarkan anak memiliki celengan sendiri. Ketika mereka menabung, ajak diskusi misalnya: Apa yang ingin kamu beli? Berapa banyak yang sudah dikumpulkan? Berapa lagi yang dibutuhkan?

2. Libatkan Anak Saat Berbelanja

Ajak anak melihat harga barang, membandingkan produk, dan memilih barang berdasarkan kebutuhan.

3. Uang Saku Berkala

Berikan uang saku kecil untuk tugas sederhana dan bantu mereka mencatat pengeluaran vs tabungan.

4. Cerita dan Contoh

Gunakan cerita dari buku atau pengalaman nyata untuk membahas konsekuensi dari pilihan finansial.

Manfaat Literasi Keuangan Sejak Dini

1. Membentuk kebiasaan menabung dan perencanaan sejak kecil

Anak belajar bahwa tidak semua yang diinginkan bisa langsung diperoleh, dan menabung adalah cara mencapai tujuan.

2. Mengurangi perilaku impulsif di masa remaja dan dewasa

Pemahaman bahwa uang terbatas membantu anak menunda kepuasan dan mengevaluasi pilihan dengan lebih matang.

3. Meningkatkan kemampuan berpikir kritis

Konsep angka, logika, dan konsekuensi keputusan menjadi dasar keterampilan berpikir yang lebih kompleks.

4. Mempersiapkan anak menghadapi dunia ekonomi digital

Dengan fondasi literasi yang kuat, anak lebih siap memahami produk finansial digital saat remaja dan dewasa.

Literasi Keuangan Adalah Kecakapan Hidup Abad 21

Memperkenalkan literasi keuangan sejak dini bukan sekadar memberikan anak pengetahuan tentang uang. Lebih dari itu, ini adalah memberi mereka alat untuk memahami dunia dengan cara yang lebih matang dan bertanggung jawab.

Sebagai orang tua, pendidik, atau pembuat kebijakan, kita perlu memandang literasi keuangan sebagai bagian dari kecakapan hidup yang sama pentingnya dengan membaca, menulis, dan berhitung, sebuah fondasi yang mempersiapkan generasi masa depan bukan hanya untuk bertahan di dunia yang kompleks, tetapi juga untuk berkembang di dalamnya.