Gelombang PHK dan Tren Pivot Startup: Siapa yang Mampu Bertahan di Tengah Badai?

Mahasiswa aktif UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, jurusan Manajemen.
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Galuh Anindya Kirani Azza Putri tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

“Satu-satunya cara untuk bertahan dalam kompetisi adalah dengan belajar lebih cepat dibanding siapa pun.” – Eric Ries
Fenomena PHK Massal: Tren Sementara atau Tanda Bahaya yang Lebih Dalam?
Di periode baru 2023 sampai akhir 2025, Industri phub, ada tiga sederet ikonik startup Indonesia yang terpukul telak. Beberapa kelohongan besar seperti Zenius, Tokocrypto, dan Ruangguru yang dianggap menjadi simbol digitalisasi kedepan Indonesia harus dengan pahit menelan pil realita berupa pengurangan karyawan, penutupan unit usaha, merger, maupun kebangkrutan.
Merger maupun akuisisi sering kali menjadi pilihan rasional disertai kebijakan PHK secara peningkatan yang kerap diterapkan oleh perusahaan dalam situasi tidak menguntungkan atau krisis. Berdasarkan laporan dan memandang dari data yang dipublikasikan lewat layoff.fyi, setidaknya ada lebih dari 250 ribu pekerja dari berbagai perusahaan startup tersandung di pertengahan tahun 2023 dan kehilangan pekerjaannya. Di dalam negeri, cukup banyak media yang meliput hal ini sampai di lapangan menunjukkan dalam dua tahun terakhir mengalami PHK massal di dalam negeri.
Alasan menghilangnya dan munculnya gelombang PHK masal tidak terjadi tanpa adanya alasan yang logis. Berikut adalah beberapa hal yang bisa kita anggap isu dasar untuk wawasan lebih lanjut:
- Perusahaan melakukan kesalahan penilaian (valuation) yang didorong kinerja digitalisasi big-bang boom kuantitatif 2020-2021, dan tidak sebanding dengan performa di lapangan.
- Membakar uang (burn rate) secara ekstrim tanpa ada jalur bisnis ke profitabilitas jangka panjang.
- Perubahan regulasi yang dilakukan pemerintah kepada sektor-sektor baru seperti edtech dan crypto.
- Dampak lanjutan pandemi dan perang –dugaan serta nyata– berakibat pada melemahnya daya beli secara umum.
Hal ini menunjukkan bahwa beberapa fondasi, terutama mula dari kebanyakan startup, tampaknya tidak siap untuk menopang pertumbuhan jangka panjang, terutama dalam kondisi gaduh serta cepat berubah.
Strategi Pivot: Mulai dari Mengarah untuk Menyicil Masa Depan
Walau banyak dari perusahaan terjerumus, tidak sedikit pula startup yang memilih untuk bangkit pada momen golden opportunity, dan transformasi total secara menyeluruh melalui strategi pivot, atau menggeser fokus pada segmen pemasaran target dengan sistem monetisasi baru.
Beberapa contoh yang mencolok:
- Setelah mengalami dua kali gelombang PHK, Zenius beralih fokus dari platform edtech untuk publik luas menjadi segmen pelatihan perusahaan (B2B corporate training).
- Karena terdampak oleh pengetatan regulasi di dunia kripto, Tokocrypto mulai mencermati sektor edukasi dan lisensi teknologi blockchain sebagai pendanaan baru yang lebih berkelanjutan.
- Sorabel, yang sempat menyatakan tutup sebagai startup fesyen tersebut, kini telah kembali ke pasar dengan menjual barang preloved lewat komunitas dan influencer.
Kenapa Banyak Startup Memilih Jalan Pivot?
1. Menekan Beban Operasional
Untuk mengatasi krisis, salah satu langkah paling masuk akal adalah merampingkan proses bisnis dan menghapus produk atau layanan yang tidak membawa keuntungan signifikan. Merampingkan atau mempersempit (pivot) strategi menjadi sangat bermanfaat untuk meniadakan kerugian.
2. Mengikuti Perubahan yang Terjadi pada Perilaku Konsumen
Lebih selektif dalam membelanjakan uang adalah perilaku yang ditunjukan oleh konsumen pasca pandemi. Konsumen lebih tertarik pada produk yang bermanfaat dan diperlukan alih-alih mengikuti trend. Pivot membantu perusahaan untuk memenuhi syarat dinamis pasar yang selalu mengalami perubahan.
3. Mengirim Pesan Positif ke Investor
Bagi pemodal, pivot adalah sinyal bahwa perusahaan tidak kaku dan mampu menghadapi tantangan dengan solusi strategis, bukan hanya mengandalkan pembakaran dana untuk menciptakan pertumbuhan semu.
Namun demikian, strategi pivot bukan tanpa risiko. Banyak perusahaan gagal melakukan perubahan arah karena kurangnya riset pasar yang kuat, ketidaksiapan internal dalam mengeksekusi strategi baru, atau hilangnya identitas brand yang sudah dibangun bertahun-tahun.
Siapa Saja yang Akan Bertahan di Tengah Bersama Krisis?
Di dalam dunia ekosistem ‘startup’ yang sangat cepat bergerak dinamis, perusahaan tidak diukur dari bangunan fisik atau besar kecilnya pendanaan yang ada, sebaliknya dipandang dari kekuatan dan daya dalam memperhatikan situasi dan bereaksi dengan tepat dan cepat, dalam pertimbangan pundamen.
Adaptasi yang perlu dipenuhi perusahaan untuk bisa bertahan di ekosistem ‘startup’ adalah;
- Mempunyai kepemimpinan yang berani mengambil keputusan yang sulit.
- Tim yang terampil dalam pemrograman serta memahami pasar.
- Diterima strategi yang sudah baku dan dianggap sudah tidak menjadi batasan.
- Sikap merendah untuk bisa dewasa dalam gagal dan melepaskan ego.
Bagi pencari pekerjaan dan publik di luar sana ada yang perlu diketahui berkaitan dengan hal ini, di mana gorden tertutup, terdapat cermin yang berkilau.
Kesimpulan: Bertahan Adalah Pilihan Strategis yang Tidak Populer
PHK dan pivot adalah dua sisi dari realitas yang sama—yaitu kebutuhan untuk berubah di tengah tekanan yang makin kompleks. Dalam dunia yang penuh ketidakpastian, kemampuan untuk beradaptasi secara cepat dan cerdas menjadi faktor penentu apakah sebuah startup akan bertahan atau tenggelam.
Startup yang masih bisa berdiri kokoh di tahun 2025 bukanlah yang dulunya viral atau mendapat pendanaan besar, melainkan mereka yang berani menghadapi kenyataan, melakukan pembenahan menyeluruh, dan meninggalkan pola lama yang tak lagi relevan.
Karena pada akhirnya, bertahan hidup dalam dunia startup adalah bentuk keberanian yang jauh lebih bermakna dibanding sekadar menjadi terkenal.
