Konten dari Pengguna

Ucapkan Selamat Tinggal pada Bau Begini Cara Warga Sumampir Sulap Masalah Sampah

Galuh Ilyas Pradanu

Galuh Ilyas Pradanu

Mahasiswa Universitas AMIKOM Purwokerto

·waktu baca 5 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Galuh Ilyas Pradanu tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Bau Sampah Sumampir

Tempat pembuangan sampah di Sumampir. Sumber: Dokumentasi penulis
zoom-in-whitePerbesar
Tempat pembuangan sampah di Sumampir. Sumber: Dokumentasi penulis

SUMAMPIR, 21 Januari 2026 Pagi itu di Sumampir, udara biasanya tidak bersahabat. Aroma tidak sedap sering kali terbawa angin, menyelinap di antara nisan-nisan di area pemakaman lokal hingga ke teras-teras rumah warga. Namun, pemandangan berbeda mulai terlihat di awal tahun 2026 ini. Tidak ada lagi gundukan plastik yang meluber hingga ke area sakral pemakaman. Yang tersisa hanyalah aroma tanah basah dan lingkungan yang jauh lebih rapi. Perubahan ini bukan terjadi dalam semalam. Ini adalah kisah tentang bagaimana sebuah komunitas yang sempat frustrasi dengan masalah limbah, memutuskan untuk berhenti mengeluh dan mulai berkolaborasi. Warga Sumampir kini bisa bernapas lega, secara harfiah, setelah berhasil menyulap tumpukan masalah menjadi sistem pengelolaan lingkungan yang sehat dan berkelanjutan.

Tumpukan sampah di sekitar area makam Sumampir. Sumber: Dokumentasi Penulis

Beberapa bulan lalu, kondisi di salah satu sudut Sumampir sangat memprihatinkan. Area pemakaman yang seharusnya menjadi tempat yang tenang dan bersih, justru menjadi titik kumpul luapan sampah. Kendala anggaran dan manajemen pengangkutan yang karut-marut membuat sampah rumah tangga menumpuk berhari-hari. Dampaknya tidak hanya pada pemandangan yang merusak mata, tetapi juga pada roda ekonomi lokal. Para pelaku usaha kuliner di sekitar lokasi sering kali mengeluhkan sepinya pembeli karena bau menyengat yang mengganggu kenyamanan. Selain itu, kondisi fisik petugas kebersihan yang mayoritas sudah lanjut usia membuat intensitas pengangkutan tidak sebanding dengan volume sampah yang diproduksi warga setiap harinya.

"Dulu, kalau lewat sini harus tutup hidung rapat-rapat. Sampah sampai tumpah ke jalan dan masuk ke sela-sela makam. Rasanya tidak etis melihat tempat peristirahatan terakhir diperlakukan seperti itu," ujar salah satu warga mengenang kondisi lama.

Menyadari bahwa masalah ini tidak bisa dibiarkan berlarut-larut, pihak RT dan RW di Sumampir melakukan langkah berani. Mereka menggelar rangkaian sosialisasi intensif untuk memberikan pemahaman kepada warga bahwa kebersihan lingkungan adalah tanggung jawab bersama, bukan hanya tugas pemerintah. Titik baliknya adalah kesepakatan mengenai iuran terstruktur. Warga sepakat untuk menyisihkan uang sebesar Rp27.500 per bulan. Angka ini mungkin terdengar kecil untuk satu keluarga, namun bagi Sumampir, ini adalah mesin penggerak perubahan.

Manajemen anggaran dilakukan secara transparan untuk menjaga kepercayaan publik. Dana tersebut dibagi menjadi dua pos utama:

1. Rp17.500 dialokasikan untuk biaya operasional pemerintah desa, termasuk koordinasi teknis dan pemeliharaan alat.

2. Rp10.000 diberikan langsung sebagai upah layak bagi tukang sampah.

Dengan adanya dana yang pasti dan teratur, jadwal pengangkutan sampah ke TPS Karangcegak kini menjadi lebih terjadwal. Tidak ada lagi alasan truk tidak datang atau sampah tertahan di bak penampungan karena ketiadaan biaya bahan bakar. Salah satu aspek yang paling menyentuh dari gerakan di Sumampir adalah perhatian mereka terhadap para petugas kebersihan. Mayoritas dari mereka adalah pria paruh baya hingga lansia yang telah mengabdi selama bertahun-tahun. Pekerjaan berat di tengah kepungan kuman tentu berisiko tinggi bagi kesehatan mereka.

Dalam semangat jurnalisme konstruktif, warga Sumampir tidak hanya ingin lingkungannya bersih, tapi juga ingin orang yang membersihkannya sehat. Pemerintah desa akhirnya menjalin kerja sama dengan Puskesmas setempat. Secara rutin, para petugas kebersihan mendapatkan pengecekan kesehatan gratis. Mulai dari pemeriksaan tekanan darah, cek kadar gula, hingga pemberian vitamin dilakukan untuk memastikan para "pahlawan kebersihan" ini tidak jatuh sakit akibat beban kerja mereka. Langkah ini terbukti efektif. Dengan kondisi fisik yang terpantau, angka absen petugas karena sakit menurun drastis, sehingga target "sampah habis" setiap hari dapat tercapai secara konsisten.

Keberhasilan di Sumampir juga dipicu oleh hilangnya ego sektoral. Pihak Kelurahan, Ketua RT, hingga Ketua RW duduk bersama dalam satu visi. Mereka rutin melakukan pemantauan di lapangan untuk memastikan tidak ada warga yang membuang sampah sembarangan atau menunggak iuran. Koordinasi wilayah ini memastikan bahwa setiap kendala di lapangan, sekecil apa pun, langsung dicarikan solusinya saat itu juga. Misalnya, jika ada armada yang rusak, pihak wilayah segera mencari bantuan sementara agar tumpukan sampah tidak kembali meluap ke area makam. Target operasional mereka sangat jelas: "Menghabiskan sampah di lokasi". Prinsipnya, tidak boleh ada sampah yang menginap lebih dari satu malam di titik pengumpulan. Komitmen inilah yang akhirnya menghilangkan aroma tidak sedap yang selama ini menjadi momok bagi warga.

Kini, Sumampir menjadi contoh nyata bahwa perubahan besar bermula dari kesepakatan-kesepakatan kecil di tingkat akar rumput. Lingkungan yang sehat bukan lagi sekadar impian, melainkan realitas yang dirasakan setiap hari. Anak-anak bisa bermain dengan nyaman, dan warga yang berziarah ke makam tidak lagi terganggu oleh pemandangan limbah yang kumuh. Transformasi ini juga membawa dampak positif bagi para pelaku usaha di sekitar. Dengan hilangnya bau menyengat, warung-warung dan toko di sekitar Sumampir kembali ramai pengunjung. Ekonomi warga pun perlahan ikut membaik seiring dengan meningkatnya kualitas lingkungan.

"Ini bukan cuma soal memindahkan sampah dari depan rumah ke TPS. Ini soal harga diri warga Sumampir. Kita membuktikan bahwa kita bisa mengatur diri sendiri untuk hidup lebih terhormat dan sehat," pungkas Galuh Ilyas Pradanu dalam laporannya.

Kisah dari Sumampir ini menjadi pengingat bagi kita semua: bahwa di tengah kompleksitas masalah perkotaan, solusi sering kali ditemukan pada kekuatan gotong royong dan kemauan untuk saling peduli. Selamat tinggal bau, selamat datang kehidupan baru yang lebih sehat di Sumampir.